Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 10


__ADS_3

Pagi sekali, bahkan langit saja masih gelap. Maheera sudah bangun dan berjalan keluar dari kamar Shaka dengan langkah pelan agar tak membangunkan Shaka yang tidur di sofa.


Dengan memantapkan hati, pada akhirnya Maheera memutuskan untuk pergi. Pergi menjauhi keluarganya, pergi menjauhi suaminya dan pergi untuk mencari kedamaian hatinya.


Sebelum pergi jauh, Maheera mampir sebentar ke makam Kinara. Maheera menabur bunga di atas makam Kinara yang sudah di tumbuhi rerumputan hijau.


"Kak, maaf." Ucap Kinara dengan suara bergetar. "Aku tidak bisa lagi menjalankan amanah dari kakak, aku kalah dan aku sudah memutuskan untuk mundur."


Tetes demi tetes air mata mulai jatuh membasahi wajah sayu Maheera.


"Amanah mu terlalu sakit untuk aku jalankan. Maafkan aku, kak. Aku harus pergi sekarang!"


Maheera beranjak pergi dari makam Kinara karena ia tak kuasa berlama-lama di sana.


Bermodalkan uang yang selama ini Maheera tabung, gadis ini pun menaiki bus yang entah kemana ia akan pergi.


"Aku pergi pah, mah. Aku pergi mas." Lirih Maheera dengan menahan air mata yang hampir jatuh.


Sementara di rumah, Shaka yang baru saja bangun sangat terkejut saat tidak mendapati Maheera di kamarnya. Shaka pun keluar untuk mencari istrinya tapi tetap saja Maheera tidak ada.


"Maheera, di mana kau?" Panggil Shaka yang tak mendapati Maheera di rumahnya.


Shaka pun pergi ke kamar pembantu untuk memastikan jika istri ada di sana. Tapi, kamar itu kosong bahkan tidak ada tas dan barang-barang milik Maheera.


"Astaga, apa dia pergi?"


Shaka mulai panik, pria ini bergegas pergi mencari Maheera. Di cari kemana pun Shaka tidak bisa menemukan Maheera, mau tidak mau Shaka harus pergi ke rumah mertuanya.


"Ada apa Shaka?" Tanya Pak Banu yang heran.


"Pah, apa Maheera pulang ke rumah ini?" Shaka bertanya balik.

__ADS_1


"Tidak, ada apa Shaka?" Pak Banu tampak Khawatir.


"Maheera pergi pah, semua pakaian dan barang-barangnya tidak ada. Aku pikir dia pulang ke rumah ini." Ujar Shaka memberitahu.


"Baguslah kalau Maheera pergi, anak pembawa sial itu seharusnya tidak ada di sekeliling kita." Ucap Diana yang ternyata menguping.


"Mah, semua ini gara-gara kamu. Sekian tahun aku menahan sabar sampai membuat anak ku menderita, apa kau puas sekarang hah?" Sentak pak Banu emosi.


"Tentu saja aku puas!" Jawab Diana tak mau kalah. "Anak mu itu anak haram. Anak pelacuur, perusak rumah tangga orang!"


"Dan kau seharusnya ingat Diana, jika bukan kau yang memulai duluan menyelingkuhi aku, tidak mungkin aku sampai melangkah sejauh itu. Demi Maheera selama ini aku selalu menuruti permintaan mu."


"Kalau papah gak suka, ya udah cari sana anak haram mu. Aku hanya berselingkuh tapi kau malah sampai memiliki anak dengan perempuan lain. Dasar laki-laki tak berguna." Ucap Diana begitu kasar.


Plak...... tiba-tiba saja pak Banu menampar wajah istrinya sampai membuat Shaka terkejut.


"Perempuan egois, mau menang sendiri. Aku sudah bosan dengan sikap mu, mulai sekarang aku ceraikan kamu, Diana." Ucap pak Banu dengan lantang. "Pergi dari rumah ku!" Usir pak Banu yang sudah gelap mata.


"Aku tidak pernah takut bercerai dari mu, Banu. Urus saja anak haram mu itu. Cuiih.... najis....!!"


Dengan lenggang santainya Diana pergi ke kamar untuk mengemasi semua pakaian dan barang-barang pribadi miliknya.


Hanya karena anak haram ku itu, kau menceraikan aku setelah tiga puluh tahun aku menemani mu. Kau lihat saja, aku tidak akan pernah membiarkan Maheera bahagia karena sebab dia Kinara, anak ku meninggal dunia." Ucap Diana penuh dendam.


"Kinara meninggal sebab dia menyembunyikan penyakitnya dan tidak ada hubungannya dengan Maheera. Dasar perempuan keras kepala, egois dan kejam."


Shaka hanya diam saja melihat pertengkaran mertuanya. Pria ini bingung ingin bersikap seperti apa dan pada akhirnya Shaka memutuskan untuk pergi mencari Maheera.


"Di mana kamu, Maheera. Kenapa kamu malah pergi seperti ini?" Shaka khawatir, rasa khawatir yang tidak pernah ia tunjukkan pada Maheera.


Terus mencari tapi tetap saja tak ia temui. Maheera telah pergi dengan membawa luka di hati.

__ADS_1


Sedangkan Maheera, gadis ini baru saja sampai di kota M. Kota yang sangat sejuk bahkan kedatangan ke kota ini hanya mengikuti kata hatinya saja. Di bantu seorang tukang ojek, Maheera pergi mencari kontrakan yang murah. Untung saja ia memiliki cukup uang sekarang.


"Setidaknya aku jauh lebih baik seperti ini. Perihal mereka yang tidak menginginkanku, aku sudah tidak peduli." Ucap Maheera yang saat ini sedang berbaring di kasur lantai.


Kota baru, lingkungan baru dan orang-orang baru. Maheera hanya ingin memulai hidup lebih baik, mencari kebahagiaannya sendiri tanpa harus memikirkan kedua orang tua dan suaminya.


"Biarlah masa lalu membungkus hati, aku yakin jika luka hati ku akan sembuh seiring berjalannya waktu." Ucap Maheera lalu gadis ini memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah setelah satu hari perjalanan.


Sedangkan Shaka, pria ini frustasi karena ia tak bisa menemukan Maheera. Perasaan bersalah semakin membakar hati Shaka, ia telah bodoh menilai dan menyalahkan Maheera selama ini.


"Kemana kau pergi Maheera? Ku harap kau baik-baik saja sekarang, aku harap kau tidak melakukan tindakan seperti tadi malam." Ucap Shaka penuh harap.


Dilema, sekarang Shaka terjebak pada rasa bersalah pada Maheera. Pria dua puluh delapan tahun ini hanya bisa pasrah sekarang.


Satu hari telah berlalu bahkan minggu pun berganti. Sampai detik ini Shaka belum mendapatkan kabar tentang keberadaan Maheera.


"Kemana lagi kita mencari Maheera, Shaka?" Tanya pak Banu dengan wajah lelahnya. Kebodohannya telah membuat anak kandungnya menderita.


"Aku sudah menyuruh anak buah ku mencari Maheera di seluruh kota ini, tapi tetap saja tak ada kabar baik." Jawab Shaka yang lelah.


Rumah tangganya hancur, anak pertamanya meninggal dunia dan sekarang satu-satunya anak yang masih hidup telah pergi tanpa jejak. Pak Banu hanya bisa menangis menyesali, karma dari perbuatan ia dan Diana harus di pikul berat oleh kedua anak perempuannya.


"Maheera bukan anak haram, Shaka." Ucap pak Banu memberitahu agar Shaka tak salah paham. "Aku dan almarhum mamahnya sudah menikah siri. Hanya saja di saat Maheera di lahirkan, mamahnya meninggal dunia."


"Kenapa papah sampai berselingkuh dari mamah Diana?" Tanya Shaka yang ingin tahu kejelasannya.


"Diana yang mulai duluan. Di saat aku bangkrut, Diana malah berselingkuh dengan seorang pengusaha. Di saat itu, Kinara masih berusia satu tahun dan aku tidak bisa menceraikan Diana. Diana hanya sibuk mengurus selingkuhannya sedangkan aku harus bersusah payah bekerja sambil mengurus Kinara. Di saat itu lah aku dekat dengan almarhum mamahnya Maheera yang bernama Nurma. Dia yang membantuku mengurus Kinara bahkan membantuku bangkit lagi sampai sekarang. Sampai pada suatu saat, diam-diam aku menikah dengan Nurma dan lahirlah Maheera." Jelas pak Banu panjang lebar. Ia tak mau jika Shaka sama seperti Diana yang tidak mau menerima kenyataan dan kebenaran jika di posisi ini Diana yang paling bersalah.


"Seharusnya papah bisa berlaku adil pada Maheera." Ucap Shaka tak habis pikir.


"Setiap kali ingin melakukan hal seperti itu, Diana selalu mengancam untuk bunuh diri. Aku tidak kuasa melawan Diana, aku adalah laki-laki bodoh." Jawab pak Banu lalu pria paruh baya ini terisak.

__ADS_1


__ADS_2