
Entah di mana letak hati Shaka, meskipun ia tidak pernah mencintai Maheera setidaknya pria ini menghargai Maheera sebagai istrinya yang sah di mata agama karena sampai sekarang Shaka tidak mau menikah sah secara negara.
Selalu datang ke restoran dengan perempuan yang sama, bersikap mesra di depan istrinya. Bahkan, Shaka hanya ingin di layani oleh Maheera.
"Sayang, kau ingin makan apa?" Tanya Shaka begitu lembut pada Elina.
Elina sendiri adalah teman semasa kuliah dulu bahkan ia dan Kinara berteman meskipun tidak terlalu dekat.
"Aku ingin makan sup iga, sepertinya enak." Jawab Elina.
"Hai, apa kau dengar?"
"Ya, aku dengar!" Jawab Maheera tegas.
Shaka tersenyum miring, selain keluarga tak ada yang tahu hubungan Shaka dan Maheera.
Terbiasa dengan luka, Maheera sudah menganggap perlakuan Shaka adalah yang biasa sekarang meskipun hatinya begitu sakit.
Sampai dengan hari ini, Maheera belum sekali pun bertemu kedua orang tuanya. Terakhir ia pergi ke rumah, Maheera di usir bahkan di pukuli oleh mamahnya.
"Kapan kau akan menikahi aku, Shaka?" Tanya Elina mendesak.
"Kapan-kapan kalau ada waktu." Jawab Shaka dengan santainya.
"Kinara sudah dua bulan meninggal, sudah cukup bagi mu untuk melupakan dia." Ucap Elina sebenarnya membuat Shaka geram. Tapi, demi membuat Maheera tersiksa, pria ini harus bertahan dengan Elina. "Kedua orang tuaku mendesak agar kau segera menikahi aku."
"Kita baru saja berpacaran, kenapa harus terburu-buru?"
Elina mendengus kesal, apa yang di katakan Shaka ada benarnya juga.
"Oh, kalau begitu aku akan melamar mu akhir minggu ini." Ucap Shaka saat Maheera datang membawa makanan.
Nyaris saja sup yang panas itu tumpah mengenai tangan Maheera saat ia terkejut mendengar Shaka akan melamar perempuan di sampingnya itu.
"Benarkah?" Elina bersorak bahagia. "Shaka, aku ingin pesta pertunangan yang mewah." Pinta Elina membuat Shaka menahan sabarnya.
__ADS_1
"Silahkan di makan," ucap Maheera dengan suara pelan kemudian Maheera bergegas pergi ke belakang.
Di remasnya dada yang terasa sesak namun tak bisa diungkapkan. Hati mana yang tak sakit di kala suami mengatakan ingin melamar perempuan lain di hadapan seorang istri.
Jarum jam sudah memasuki pukul setengah lima sore, dengan langkah lelah Maheera berjalan menuju halte bus karena jarak rumah Shaka ke Restoran cukup jauh.
"Apa yang kau dengar di restoran, aku serius." Ucap Shaka menghentikan langkah Maheera yang ingin masuk ke dalam kamar.
"Serius pun aku tak bisa berbuat apa-apa." Sahut Maheera. "Kita hanya menikah siri untuk sekedar menjalankan amanah dari kak Nara. Perihal kau yang ingin menikah lagi, aku bisa apa? Kita tidak saling cinta!"
"Bagus jika kau paham. Ku pikir orang yang tidak berpendidikan seperti mu tidak bisa berpikir."
Maheera menarik nafas panjang, dadanya begitu sesak terasa.
"Aku tidak pernah melarang mu untuk menikah, mas. Cinta mu hanya untuk kak Nara, jika kau sudah menemukan pilihan hati yang baru, aku turut bahagia. Biarlah hubungan kita menjadi rahasia antar keluarga. Bahkan, aku sudah siap jika kau ingin menjatuhkan talak mu padaku!"
"Selain aku, tidak akan ada laki-laki yang mau menikah mu." Ucap Shaka mencibir.
"Dan aku tidak akan pernah menikah apa lagi jatuh cinta. Cukuplah luka pertama yang membuat ku sadar jika bahagia tak harus berdua." Sahut Maheera yang tak mau kalah.
"Sampai kapan pun tidak akan pernah bahagia, Maheera." Ucap Shaka yang begitu membenci Maheera.
Maheera membuka pintu, ia masuk ke dalam kamar yang tak seberapa besar. Di remasnya dada yang begitu sakit, Maheera mencoba tegar atas apa yang terjadi sekarang.
Sedangkan Shaka, pria ini masih termangu menatap pintu kamar. Isak tangis pilu terdengar menembus dinding telinganya. Tak ingin hatinya luluh, Shaka memutuskan untuk pergi dari sana.
Keesokan harinya, pak Banu yang sudah lama tidak melihat anaknya mencoba menemui Maheera tanpa sepengetahuan Diana. Duduk di taman berdua, ayah dan anak ini seperti orang asing. Tanpa sengaja, Shaka melihat Maheera dan Pak Banu yang duduk di taman, pria ini langsung turun dari mobil karena penasaran.
"Kau sangat kurus, Maheera." Ucap pak Banu pilu.
"Dari dulu aku sudah kurus," jawab Maheera.
"Kau masih bekerja nak?" Tanya pak Banu.
"Aku masih bekerja!" Jawab Maheera ala kadarnya.
__ADS_1
"Apa Shaka memperlakukan mu dengan baik?"
"Mas Shaka selalu memperlakukan aku dengan baik, pah." Jawab Maheera berbohong.
"Jika dia memperlakukan mu dengan baik, kenapa kau masih bekerja?"
Maheera menghela nafas pelan lalu memaksakan senyumnya.
"Mas Shaka sudah melarang Maheera bekerja. Tapi, Maheera sendiri yang ingin. Maheera pamit ya pah."
"Ambil uang ini untuk mu, Maheera. Beli makanan yang enak, tubuh ku sangat kurus. Maafkan papah yang tak berdaya melawan mamah mu."
"Sudahlah pah, aku sudah biasa seperti ini. Simpan saja uangnya, nanti kalau mamah tahu papah dan mamah bertengkar lagi."
Maheera mencium tangan pak Banu kemudian pergi begitu saja. Shaka yang sejak tadi menguping hanya bisa terdiam di balik pohon besar.
Bekerja seperti biasa, sejak menikah Maheera lebih memilih menjauh dari teman-temannya.
"Ku dengar restoran kita terpilih untuk menjamu tamu di acara pertunangan salah satu langganan restoran ini." Ucap salah seorang karyawan membuat Maheera langsung menoleh ke arah temannya.
"Ah, iya. Lumayan dapat dapat tambahan bonus. Acara orang kaya, biasanya sangat royal." Sambung Lasmi, Karyawan yang lain.
Maheera hanya diam menguping, itu artinya ia akan menjadi pelayan di acara pesta pertunangan suaminya sendiri.
"Luka macam apa lagi yang kau berikan padaku, Tuhan?" Batin Maheera menjerit.
Sebisa mungkin Maheera menahan air mata agar tak jatuh. Entah kenapa takdir begitu kejam tak membiarkan dirinya merasakan bahagia.
Di tempat lain, Shaka saat ini sibuk mengantar Elin yang memilih cincin untuk pertunangan mereka. Tak tanggung-tanggung, Elin memilih cincin dari brand ternama bahkan harganya yang cukup mahal.
Shaka kesal, saat ia dan Kinara saja tidak pernah perempuan itu meminta benda semahal ini.
"Sayang, kita ambil cincin ini saja ya." Ujar Elin dengan senyum lebarnya.
"Hanya cincin pertunangan, kenapa kau memilih harga segitu?"
__ADS_1
"Ini hanya enam ratus juta, uang mu lebih dari itu."
"Kinara tidak pernah meminta benda semahal ini. Jika kau ingin bertunangan denganku, pilihlah yang wajar." Ucap Shaka kemudian pria ini memutuskan untuk keluar.