Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 37


__ADS_3

Shaka mengajak Maheera berkeliling melihat suasana sore di kota ini. Betapa bahagia pria ini sekarang, ia merasa seolah dirinya telah melepaskan beban yang selama ini ia pendam.


Sampai malam menjelang, Shaka mengajak istrinya makan di salah satu restoran. Menikmati makanan dengan perasaan santai.


"Mas punya hadiah untuk kamu," ucap Shaka memberitahu.


"Apa itu, mas?" Tanya Maheera yang penasaran.


Shaka pun mengeluarkan sebuah kalung dari saku celananya. Untuk beberapa saat Maheera terdiam, hatinya begitu hangat mendapatkan perlakuan seperti ini.


"Kenapa diam, hem?" Tegur Shaka.


"Kalungnya sangat cantik, mas." Ucap Maheera.


"Secantik kamu, sayang mas!"


Shaka beranjak dari duduknya lalu menyematkan kalung tersebut di leher sang istri.


"Cantiknya istri, mas." Puji Shaka.


"Makasih mas," ucap Maheera.


Shaka pun ingin mencium istrinya, tapi dengan cepat Maheera menahan bibir suaminya.


"Mas, bisa-bisanya kamu main nyosor. Malu di lihat orang!" Ucap Maheera dengan suara menekan.

__ADS_1


"Eh, hehe....!" Shaka justru tertawa. "Cepat selesaikan makannya setelah itu kita pulang." Ajak Shaka. "Mau mimik cucu." Bisik Shaka lalu pria ini tertawa.


"Mas...!" Sergah Maheera yang takut di dengar orang.


"Wah... wah... pah, coba lihat anak mantu kita ini. Makan malam cuma berdua nggak ngajak kita." Ucap bu Hesti yang entah datang dari mana.


"Mamah...!!" Seru Shaka yang merasa terkejut.


Tanpa di persilahkan, Bu Hesti dan pak Angga langsung duduk satu meja dengan Maheera dan Shaka.


"Kok malah duduk di sini, kenapa nggak cari meja yang lain?" Protes Shaka.


"Mas, kamu ini nggak boleh seperti itu dong. Sama orang tua begitu." Tegur Maheera.


"Tahu nih, Shaka. Aneh...!" Sahut bu Hesti.


"Maheera, kalau kalian udah punya anak, apa kamu masih mau kerja?" Tanya bu Hesti.


Maheera melirik Shaka.


"Sepertinya enggak, biar mas Shaka aja yang mengelola perusahaan." Jawab Maheera.


"Kalau sudah punya anak, nggak usah nyari perawat, biar mamah aja yang merawat anak kalian. Kamu kalau mau kerja juga nggak apa-apa." Ujar bu Hesti yang sudah tidak sabar memiliki cucu.


"Papah mau pensiun?" Tanya Shaka.

__ADS_1


"Kalau pensiun, siapa yang ngurusin perusahaan?" Pak Angga bertanya balik.


"Di lihat nanti aja lah, mah. Sekarang aku sedang ada masalah." Ujar Maheera seketika membuat kedua mertuanya penasaran.


"Masalah apa?" Tanya bu Hesti yang penasaran.


Shaka pun menceritakan tentang bu Diana yang datang meminta bagian harta. Tentu saja bu Hesti dan pak Angga merasa sangat geram mendengarnya.


"Ya udah, di lawan aja. Kamu jangan mau kalah sama mamahmu itu, Maheera." Ucap pak Angga yang ikutan marah.


"Bukan mamahku," kata Maheera memperjelas.


"Oh, iya lupa."


"Diana sangat keterlaluan, mamah itu tahu cerita dia dari Shaka aja merasa geram mendengarnya. Kok ada ibu sejahat itu?"


Bu Hesti menggelengkan kepalanya, sekarang ia sudah berpihak pada Maheera asal Shaka bahagia. Nyatanya, memiliki menantu seperti Maheera tidak begitu buruk meskipun tidak berpendidikan tinggi.


Keasyikan mengobrol di restoran membuat mereka pulang sedikit larut malam. Shaka menggerutu karena ia sudah tidak sabar ingin melahap istrinya malam ini.


"Masih aja ngomel," tegur Maheera.


"Mas nggak ingin melewatkan malam penuh cinta kita." Ucap Shaka.


"Hidih, kamu itu sejak nikah yang ada di pikiran cuma masalah ranjang melulu. Itu pinggang nggak sakit?"

__ADS_1


"Ya capek, tapi sesuai dengan nikmatnya!" Jawab Shaka membuat Maheera bergeleng kepala.


__ADS_2