Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 14


__ADS_3

"Kamu cantik hari ini," ucap Gusti membuat Maheera tersipu malu.


"Terimakasih pak, bapak orang pertama yang bilang saya cantik." Ucap Maheera dengan senyum tipisnya.


"Mustahil jika keluarga mu tidak memuji mu, Maheera. Kau sangat lucu." Ujar Gusti dengan tawa renyahnya.


Hembusan angin gunung menyapa wajah Maheera, lambaian anak rambut di wajahnya membuat Maheera termenung.


"Keluarga? Apa itu keluarga? Sedangkan luka di hati ku bukan dari orang lain melainkan keluarga?" Batin Maheera.


"Heera....!" Panggil Gusti membuyarkan lamunan Maheera.


"Eh, iya pak. Ada apa?" Tanya Maheera gugup.


"Kenapa kamu melamun?" Gusti bertanya balik.


"Gak kenapa-kenapa." Jawab Maheera.


Maheera menoleh ke samping kanan, di pandangannya gunung yang begitu indah sampai ia sendiri begitu kagum dengan ciptaan Tuhan yang satu ini.


"Maheera... !!" Panggil Gusti lagi.


"Hem, ada apa pak?"


"Saya suka sama kamu," ucap Gusti mengungkapkan isi hatinya sampai membuat Maheera terkejut.


Maheera semakin gugup, gadis ini sibuk membuang pandangan karena Gusti terus memandang wajahnya.


"Maheera, saya serius." Imbuh pria ini.


"Maaf pak, jangan sama saya. Masih banyak perempuan lain yang lebih pantas untuk bapak." Tolak Maheera tanpa basa basi.


"Tapi, kenapa Maheera?" Tanya Gusti patah hati.


"Saya banyak kekurangan, kita tidak sepadan. Saya telah memutuskan untuk tidak jatuh cinta apa lagi sampai memiliki keluarga."


"Kau trauma pada keluarga?" Tanya Gusti yang langsung menangkap arah perkataan Maheera.


Maheera hanya diam, gadis ini tidak mungkin menceritakan apa yang sudah terjadi pada dirinya.


"Sekali lagi maaf pak, saya tidak dapat membalas perasaan bapak." Ucap Maheera yang merasa tidak enak hati.


"Seberapa dalam luka mu sampai kau sendiri tidak ingin memiliki keluarga, Maheera?" Tanya Gusti penasaran.


Maheera tidak menjawab, gadis ini malah tertunduk diam.

__ADS_1


"Jika kamu tidak pernah merasakan bahagia apa lagi bahagia di dalam keluarga, setidaknya kamu harus menciptakan sendiri bahagia dan cinta mu." Ujar Gusti memberi nasehat.


Maheera hanya diam.


"Bagaimana rasanya mencintai keluarga sedang aku tidak pernah merasakan hangatnya keluarga?" Batin Maheera yang kembali sedih mengingat masa lalunya.


"Maaf sudah membuat mu sedih. Kita jalani saja dulu, terkadang setiap orang memiliki luka dan traumanya sendiri. Biarlah waktu yang akan mengobatinya," ucap Gusti begitu paham.


Maheera hanya mengangguk, posisinya sekarang merasa kurang nyaman setelah Gusti mengungkapkan perasaannya.


Gusti yang mengerti jika saat ini Maheera merasa kurang nyaman memutuskan untuk pergi ke tempat wisata lainya.


Di kota yang berbeda, saat ini Shaka tengah berdiri menatap sebuah rumah yang baru saja ia beli dua bulan yang lalu. Rumah tiga lantai dengan pilar besar sebagai penyangga.


"Pulanglah Maheera, aku telah membelikan mu rumah sebagai tempat mu berpulang." Lirih Shaka penuh harap.


Rumah ini sengaja di biarkan kosong, setiap dua minggu sekali akan ada orang yang membersihkan.


Shaka pun memutuskan untuk pergi dari sana, pria ini harus melanjutkan pekerjaannya di kantor.


"Dari mana?" Tanya pak Angga, papah Shaka.


"Melihat rumah!" Jawab Shaka singkat.


"Sekali pun Maheera pulang, bukan kau dan kedua orang tuanya yang akan dia temui." Ucap Pak Angga membuat semangat Shaka lesu. "Mau sampai kapan kau hidup tidak jelas seperti ini? Kau dan Maheera hanya menikah siri, seharusnya hubungan kalian telah berakhir mengingat keadaan rumah tangga kalian seperti ini."


"Menikah tanpa cinta, tidak menafkahinya bahkan kau tidak menggauli istri mu. Shaka, talak bukan sekedar ucapan, tindakan seperti itu juga termasuk pelanggaran dalam pernikahan."


Shaka menghela nafas panjang, apa yang di katakan sang papah semuanya kebenaran.


"Aku akan tetap menunggu Maheera." Ucap Shaka yang sudah keras hatinya. "Dia istriku, sampai kapan pun Maheera akan tetap menjadi istri ku."


"Keras lah hati mu, Shaka. Kau sendiri yang menyakiti dia, tapi kau sendiri terlena dengan duka." Ucap pak Angga kemudian keluar dari ruangan anaknya.


Ingin rasanya Shaka menjerit sekeras hatinya atas apa yang ia jalani sekarang.


"Pulang Maheera.... pulang....!!" Ucapnya dengan menekan suara.


Shaka memukul dadanya berulang kali. Terasa sesak penyesalan ini sampai membuat Shaka terisak. Kepergian Maheera berhasil memporak porandakan hati Shaka.


Minggu berganti bulan, bulan berganti bulan sampai detik ini Maheera sangat menikmati kehidupannya yang sekarang.


Kerikil kehidupan sudah pasti menyertai perjalanan hidup ini, di musuhi teman satu tempat kerja sudah menjadi makanan sehari-hari Maheera.


"Buat kamu...!" Ujar Gusti yang berlalu sambil memberikan satu buah apel.

__ADS_1


"Makasih pak." Ucap Maheera.


Susi yang melihat hal tersebut langsung merampas buah apel tersebut setelah Gusti keluar dari Cafe.


"Ganjen, kamu tuh pakai pelet apa hah?" Ujar Susi yang tidak terima.


"Eh, Susi. Kamu itu gak ada habisnya ganggu aku setiap hari, gak capek apa?"


"Maheera, gara-gara kamu bekerja di tempat ini, pak Gusti menjauhi kami."


"Apaan sih? Gak jelas banget. Kembalikan apel ku!"


Bukannya mengembalikan buah apel tersebut, Susi malah melemparkannya ke lantai dan menginjak buah apel tersebut sampai pecah.


Maheera yang tidak terima langsung menjambak rambut Susi. Pertengkaran mereka pun tidak bisa di hindarkan lagi sampai membuat para pengunjung terganggu.


"Berhenti.... berhenti.....!!" Dimas mencoba melerai Susi dan Maheera sedangkan Maya hanya duduk diam menonton.


Gusti yang masih berada di parkiran kembali masuk saat melihat para pengunjung di cafe nya berkeluar.


"Hentikan... hentikan.....!!" Gusti memeluk Maheera, sedangkan Dimas memeluk Susi. Menahan kedua gadis ini agar tidak bertengkar lagi.


"Lepas pak...!" Pinta Maheera yang sudah tidak tahan lagi. "Setahun lebih aku sabari malah makin melonjak. Sini kamu, Susi." Jerit Maheera emosi.


"Perempuan gatal, ganjen, awas aja kamu."


Gusti yang geram langsung membawa Maheera keluar dari Cafe dan langsung memasukan Maheera ke dalam mobilnya.


"Kamu gak apa-apa? Ada yang luka?" Tanya Gusti tampak khawatir bahkan pria ini membantu Maheera merapikan rambut panjangnya.


"Heran sama Susi, suka sekali mengatai aku perempuan gatal dan ganjen. Apa sih mau dia?"


"Nanti, akan saya pecat dia." Ucap Gusti yang ternyata berpihak pada Maheera.


"Gak usah pak, saya aja yang keluar. Capek banget tiap hari di ganggu."


"Udah, gak apa-apa kok. Lagian saya sering mendapatkan laporan dari Dimas." Ujar Gusti yang kekeh pada keputusannya. "Minum dulu!" Gusti menyodorkan sebotol air mineral yang selalu tersedia di dalam mobil.


Gusti membiarkan Maheera istirahat di dalam mobilnya sedangkan ia kembali masuk ke dalam cafe untuk menemui Susi.


"Kamu tahu berapa kerugian saya atas ulah kamu ini?" Tanya Gusti dingin.


"Maaf pak." Ucap Susi tertunduk. "Maheera mulai duluan." Imbuhnya menuduh.


"Kamu saya pecat!" Ucap Gusti tegas.

__ADS_1


Susi tidak terima, ia terus memohon agar Gusti tidak memecatnya, tapi tetap saja tak ada maaf untuk Susi.


__ADS_2