
"Kenapa kamu gak pernah bilang jika kamu sudah punya suami, Maheera?" Tanya Gusti yang merasa kecewa.
"Aku tidak ingin orang lain tahu masalah pribadi ku!" Jawab Maheera.
"Tapi, kau tahu sendiri jika aku menyukai mu, Maheera."
"Dan aku sudah menegaskan beberapa kali padamu jika aku tidak akan menjalin hubungan dengan laki-laki lain," jawab Maheera tegas.
Gusti terdiam sambil menatap wajah Maheera. Dalam posisi ini ia sadar jika dirinya salah sebab dari awal Maheera sudah menegaskan perkataannya yang tidak ingin menjalin hubungan dengan pria.
"Seperti apa luka mu sampai kau pergi selama ini?" Tanya Gusti penasaran.
"Lukaku biarlah menjadi rahasia ku, masalah pribadi ku cukup aku saja yang tahu."
"Tapi, kau telah membuat aku berharap banyak padamu, Maheera." Ucap Gusti, kecewa.
"Aku tidak pernah memberikan mu harapan sebab dari awal aku sudah menegaskan. Mas Gusti, maafkan aku." Ucap Maheera.
Gusti hanya tertunduk diam, sebab hatinya sedang patah sekarang. Tanpa banyak bicara pria ini pergi begitu saja.
Singkat cerita dua hari telah berlalu, Shaka kembali datang ke kontrakan Maheera untuk meminta jawaban.
"Ini sudah dua hari, Maheera. Cepat jawab." Ujar Shaka mendesak, karena pria ini sudah tidak sabar ingin mengajak Maheera kembali pulang.
"Apa kau ingin melihat aku bahagia, mas?" Tanya Maheera terdengar serius.
"Mas janji akan membahagiakan mu," ucap Shaka bersungguh-sungguh.
Maheera menarik nafas panjang, di tatapannya dua mata elang tampak sayu seperti orang tidak tidur semalaman.
"Mari kita akhiri hubungan pernikahan ini." Ucap Maheera meminta. Tentu saja Shaka terkejut mendengarnya.
"Enggak,...!" Shaka menggelengkan kepalanya. "Mas gak akan menceraikan kamu!" Tolak Shaka.
"Kamu adalah orang berpendidikan, mas. Sejak hari di mana kamu bersumpah tidak akan menafkahi aku, bukankah itu artinya sudah jatuh talak? Beberapa bulan kita tinggal satu atap, apa pernah kamu menjalankan kewajiban mu sebagai seorang suami? Jadi, pernikahan kita telah lama berakhir." Tutur Maheera membuat Shaka lesu.
Setetes air mata jatuh membasahi wajah pria ini.
__ADS_1
"Aku telah menunggu mu dalam penyesalan selama dua tahun, Maheera. Tapi, kenapa kau malah memberikan jawaban yang mengecewakan seperti ini?"
"Berkaca atas sikap mu, mas. Aku telah menderita dari kecil sampai aku dewasa sebab keluargaku, tapi justru kau menambah luka di hatiku." Ucap Maheera membuat Shaka terdiam sejenak.
"Tapi, kita masih bisa menikah lagi, Maheera. Apa kau lupa amanah almarhum Kinara?" Shaka mengingatkan.
"Amanah yang membuat hidupku semakin menderita. Semesta pasti bisa menilai yang terbaik untuk hidupku, mas. Jadi, tolong hargai keputusanku. Mulai hari ini dan seterusnya, kita telah selesai. Mas Shaka pulang saja, biarkan aku hidup dengan caraku sendiri."
Shaka menarik nafas panjang kemudian pria ini tertunduk.
"Kita telah selesai Maheera. Kau benar, kita telah selesai di saat aku aku bersumpah pada hari itu. Maafkan mas, Maheera." Ucap Shaka lesu.
"Aku telah memaafkan orang-orang yang telah menyakiti aku, mas. Hanya saja aku tidak ingin kembali pada luka yang sama sebab luka yang kemarin saja masih perih terbuka." Ucap Maheera semakin membuat Shaka semakin merasa bersalah.
Pria ini mengangkat wajahnya, menatap netra mata yang selema ini sangat ia rindukan.
"Tapi, setidaknya kau pulang. Jangan di sini, meskipun kamu bukan istri mas lagi, biarkan mas menjaga kamu sesuai permintaan kakak mu."
Maheera terdiam, sedikit bimbang dengan permintaan Shaka.
"Aku nyaman dengan kehidupan ku yang sekarang mas. Biarkan aku seperti ini, kita masih bisa saling mengabari." Jawab Maheera.
"Mari menjadi adikku, Maheera. Aku akan menjagamu seperti permintaan almarhum kakakmu." Ucap Shaka dengan berlapang dada.
Meskipun penantiannya berakhir kecewa, setidaknya Shaka masih bisa mengawal Maheera sampai bahagia.
Maheera tersenyum lalu mengatakan iya, perlahan ia mulai membuka diri pada Shaka.
"Dua minggu sekali mas akan sering mengunjungi kamu. Tapi, kamu pindah ya dari kontrakan ini? Nanti mas carikan rumah sewa yang lebih bagus."
"Gak usah mas, ini lebih dari cukup untukku." Tolak Maheera.
"Kamu adikku sekarang, Maheera. Mas tidak ingin kamu tinggal di tempat seperti ini. Bekerjalah tapi jangan sampai lelah, setiap bulan mas akan transfer uang untuk kamu."
"Gak usah mas, gaji ku lebih dari cukup untuk menghidupi diriku sendiri." Sekali lagi Maheera menolak.
Pletak..... "Auw.... sakit mas!" Maheera mengusap keningnya yang di jitak Shaka.
__ADS_1
"Gak usah ngeyelan, uang papah kamu banyak. Kalau bukan kamu siapa lagi yang akan menghabiskannya?"
Maheera terdiam sejenak, ia kembali teringat pada pak Banu.
"Tolong jaga papah ya mas, aku akan pulang jika sudah sampai waktunya." Ucap Maheera meminta.
"Iya, mas akan jaga papah Banu. Lagian, mamah Diana juga gak ada kabar sejak bercerai dari papah."
Sebenarnya Maheera merasa kasihan mendengar kabar jika sang papah hidup sendiri sekarang.
"Jangan sedih-sedih lagi, ikut jalan-jalan sama mas yuk." Ajak Shaka yang telah berlapang dada menerima keputusan Maheera yang kini sudah menjadi mantan istrinya.
"Kemana?" Tanya Maheera singkat. "Mas Ayman di mana?" Imbuhnya.
"Sudah pulang duluan, dia ada pekerjaan. Sekarang kita pergi jalan-jalan sambil mencari rumah yang bagus buat kamu."
Shaka sedikit memaksa, membuat Maheera luluh juga. Biar bagaimana pun ia dan Shaka telah sepakat menjalin hubungan yang baik layaknya adik dan kakak.
Pergi berdua, tanpa mereka sadari ternyata Gusti mengintip mereka. Semakin kecewa rasa di hati tapi Gusti harus bisa menutup hati.
Sampai pada akhirnya, Shaka dan Maheera menemukan sebuah rumah sederhana tapi lumayan bagus untuk di tempati. Berada tidak jauh dari pusat kota, dekat keramaian karena Shaka tidak ingin Maheera kesepian.
"Kenapa aku baru sadar jika Maheera sebenarnya jauh lebih cantik dari pada Kinara?" Batin Shaka. "Hidup sendiri, ternyata membuat dia lebih baik. Kasihan Maheera."
"Kapan kamu pulang mas?" Tanya Maheera mengejutkan Shaka.
"Oh, eh... nanti malam." Jawab Shaka.
"Besok pagi aja mas, kalau ada apa-apa di jalan bagaimana? Kamu mengemudi sendirian."
"Kau memberiku perhatian, Maheera." Ucap Shaka dalam hati. "Aku sangat senang!"
"Mas, kok melamun lagi?"
"Oh, enggak kok. Iya, besok pagi. Sekarang kita balik ke kontrakan buat ambil barang-barang kamu." Ujar Shaka kemudian pria ini masuk ke mobil lebih dulu.
Maheera menghela nafas panjang, rasanya sedikit lega setelah berdamai dengan keadaan. Laki-laki yang dulu selalu berkata kasar padanya kini telah berubah lembut. Singkatnya, Maheera tidak ingin berperang dengan orang-orang yang pernah menyakitinya.
__ADS_1
"Maheera, cepat masuk!" Seru Shaka dari dalam mobil.