
Dua tiga minggu telah berlalu, sedikit banyak Maheera mulai mengerti cara kerja di perusahaan milik almarhum papannya. Meskipun masih sedikit kesulitan, tapi Maheera yang cepat tanggap membuat Shaka tidak begitu kesulitan mengajarinya.
"Kenapa terburu-buru?" Tanya Shaka pada Maheera yang saat ini tengah sibuk mengemasi mejanya.
"Aku ada janji dengan mas Emir, dia ingin mentraktirku makan siang. Aku pergi duluan, mas." Jawab Maheera kemudian berlalu pergi begitu saja.
Belum sempat Shaka menahan, Maheera sudah keluar dari ruangan. Seketika siang yang cerah berubah menjadi kegalauan untuk Shaka.
"Apa kau tahu jika mantan suamimu ini cemburu, Maheera?" Ucap Shaka pada ruangan kosong.
Pria ini menghela nafas panjang kemudian pergi dari sana. Shaka memutuskan untuk makan siang di rumahnya, bersama dengan kedua orang tuanya.
"Tidak bisakah kau berdamai dengan hatimu, Shaka? Mau sampai kapan kau mengejar cinta Maheera yang sama sekali tidak memiliki perasaan padamu?" Bu Hesti bertanya pada anaknya tanpa memandang wajah Shaka.
"Entahlah, mah!" Jawabnya singkat. "Aku sendiri tidak tahu seberapa tajam perkataanku sampai membuat Maheera begitu rapat menutup hatinya untukku." Ucapnya seketika kehilangan selera makan.
"Itu tandanya kalian tidak berjodoh, Shaka!" Ucap pak Angga buka suara.
"Satu tahun ini saja, mah, pah. Andai aku tidak bisa mendapatkan Maheera, terserah mamah dan papah akan menikahkan aku dengan siapa?"
Pak Angga dan bu Hesti saling pandang.
"Aku bersalah, mah, pah. Di saat keluarganya menyalahkan Maheera atas kematian Kinara, aku justru ikut menabur garam di sana. Mengatainya, mengumpat dengan sumpah serapah yang begitu menjijikan bahkan asal mamah dan papah tahu, di saat aku bertunangan dengan Elina, dalam acara itu ada Maheera yang bekerja sebagai pelayan." Beber Shaka yang memberitahu kedua orang tuanya.
"Tapi ini sudah hampir tiga tahun, Shaka. Mau sampai kapan kau mengikuti hatinya?" Tanya bu Hesti yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.
"Dia telah tersiksa batinnya sejak kecil dan Shaka datang menambahinya. Andai mamah di posisi Maheera, apa luka itu akan sembuh dalam waktu tiga tahun?" Pak Angga bertanya pada istrinya, tentu saja bu Hesti tidak bisa menjawab.
Shaka tidak ingin menanggapi lagi, pria ini memutuskan untuk pergi. Ia tahu betul kemana harus mencari Maheera yang sekarang sering kali nongkrong di cafe yang berada tidak jauh dari perusahaan pak Banu.
Shaka memaksakan senyumnya saat ia melihat tawa lepas Maheera bersama dengan Emir. Pertemuan yang tidak sengaja itu justru membuat hubungan Maheera dan Emir kian dekat.
__ADS_1
"Apa aku harus menjodohkan kalian berdua?" Tanya Shaka pada angin yang berlalu. "Sesuai janjiku pada yang telah tiada, aku akan membuat kau bahagia lebih dulu, Maheera." Ucap Shaka.
Kembali ke kantor, sejak ia mendapatkan amanah untuk membantu Maheera, sekarang Shaka menjadi bolak balik antara dua perusahan.
Dua hari kemudian, Emir datang menemui Shaka di kantornya. Dengan wajah ceria tidak seperti biasanya membuat Shaka merasa heran pada temannya ini.
"Ada apa sebenarnya?" Tanya Shaka yang penasaran.
"Malam ini aku akan menyatakan perasaanku pada Maheera," ucap Emir seketika membuat dada Shaka bergetar hebat.
Untuk beberapa saat Shaka tenggelam dalam lamunan sebelum ia di kejutkan oleh suara Emir lagi.
"Gimana, Shaka?" Tanyanya meminta pendapat. "Maheera bilang dia belum pernah pacaran," ujarnya.
Shaka memaksakan senyumnya, ingin sekali ia memberitahu Emir jika dirinya adalah mantan suami Maheera, tapi semua itu pasti di anggap sebuah lelucon saja.
"Serius kau menyukai dia?" Tanya Shaka menyelidik.
Gumpalan darah dalam tubuhnya seolah di tusuk ribuan jarum. Ingin sekali rasanya Shaka mengatakan yang sebenarnya tapi tetap saja ia tak bisa.
"Secepat ini kah kau jatuh cinta pada perempuan yang baru kau kenal?" Tanya Shaka yang berusaha mengulur perasaan Emir.
"Aku tidak pernah secepat ini jatuh cinta pada perempuan. Wajahnya teduh, aku merasa nyaman jika mengobrol dengan Maheera." Jawab Emir yang begitu yakin.
"Jika untuk main-main, aku tidak akan mengizinkanmu menjalin hubungan dengan dia." Ucap Shaka tegas.
"Bahkan jika dia menerima cintaku, bulan depan pun aku akan mengajaknya langsung menikah." Sahut Emir seketika membuat air muka Shaka berubah tegang.
Ditatapnya wajah Emir, mencari letak ketidakseriusan dari temannya ini tapi tetap saja Shaka tidak bisa menemukannya.
"Shaka, tolong bantu aku untuk menyatakan perasaanku pada Maheera. Kau pandai bermain gitar, tolong nyanyikan satu lagu cinta untukku dan Maheera nanti." Pinta Emir tentu saja membuat Shaka merasa sangat terkejut.
__ADS_1
"Emir, bagaimana bisa meminta kepadaku seperti itu?"
"Ayolah, Shaka. Tolong bantu aku malam ini," mohon Emir.
Terus memohon sampai pada akhirnya Shaka tak kuasa menolak. Mau tidak mau pria ini mengiyakan permintaan Emir.
"Terimakasih teman, aku tunggu jam delapan malam di cafe Sedayu. Aku pergi dulu, aku harus mempersiapkan semuanya." Ucap Emir kemudian pria ini bergegas pergi.
Kaki Shaka lesu, wanita yang ingin dikejarnya nyatanya sekarang akan di ambil orang. Kerja pun tidak fokus, isi kepala Shaka hanya di penuhi oleh bayangan wajah Maheera.
Menjelang sore, Shaka memutuskan untuk pergi ke makam Kinara, duduk sambil mengusap batu nisan yang mulai usang terkikis waktu.
"Sudah selama ini kau pergi, Nara. Andai kau masih ada, semua tidak akan seperti ini jadinya." Ucap Shaka yang merasa sedih. "Cintaku telah berpindah pada adikmu, Kinara. Dia bukan pengganti dirimu, hanya saja hatiku tidak bisa bohong jika aku telah mencintai adikmu." Imbuhnya yang bicara sendiri pada batu nisan.
Hening untuk beberapa saat, tiba-tiba saja ada suara yang mengejutkan Shaka sampai membuat pria ini terperanjat.
"Maheera, mengejutkan mas saja!" Ucap Shaka sambil mengusap dadanya.
Maheera tertawa lalu perempuan ini duduk di samping Shaka.
"Kau masih suka pergi ke sini, mas?" Tanya Maheera.
"Iya, kalau nggak, siapa yang mau merawat makam dia? Apa lagi bu Diana sudah lama tidak datang menjenguk Kinara." Ucap Shaka memberitahu Maheera.
"Ah, masa sih mas? Mamah itu sayang banget sama kak Nara, gak mungkin kalau mamah gak menjenguk ke sini." Ujar Maheera yang tidak percaya.
"Kalau kamu gak percaya, coba aja tanya sama pengurus makam. Kamu tahu sendiri kalau masuk ke dalam area pemakaman harus mengisi buku tamu dulu."
Maheera menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka jika ibu Diana seperti ini bahkan Shaka sendiri tidak tahu dimana keberadaannya.
"Aku jadi penasaran dimana mamah sekarang, mas?"
__ADS_1
Shaka mengangkat kedua bahunya lalu menjawab, "mas juga gak tahu dimana bu Diana sekarang?"