
"Bagaimana, apa kau suka rumah barumu?" Tanya Shaka pada Elina yang saat ini mendekam di balik jeruji besi.
"Shaka, kau adalah laki-laki bajingan yang pernah aku temui." Ucap Elina yang emosi.
Shaka tertawa renyah, pria ini mengangkat kedua alisnya kemudian berkata. "Bukankah aku sudah memperingatimu?"
Elina meremas jeruji besi tersebut hingga telapak tangannya memerah.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup bahagia." Ucap Elina yang merasa dendam.
"Andai tujuanmu bertunanganku bukan karena uang dan harta, tidak akan mungkin aku memutuskan pertunangan itu." Ujar Shaka membuat Elina semakin geram mendengarnya.
Bukannya apa, baru menjadi tunangan Shaka saja, Elina sudah meminta banyak uang bahkan wanita ini meminta uang bulanan untuk biaya hidupnya padahal untuk membayar semua hutang kedua orang tuanya.
Setengah tertawa Shaka pergi dari sana. Semakin bertambah dendam dan kebencian Elina pada Shaka.
Belum lama Shaka pergi, ternyata suami Elina datang membesuk. Wajahnya dingin tak bersahabat, bahkan pria ini menarik tangannya saat Elina hendak menyentuhnya.
"Mas, tolong maafkan aku. Tolong bebaskan aku dari tempat ini." Pinta Elina memaksa.
"Kupikir kau telah berubah menjadi perempuan yang baik, Elina. Ternyata tidak." Ucap Lukmana dengan suara dinginnya. "Aku rela melakukan apa saja demi kamu, melunasi semua hutang keluargamu, menuruti semua yang kau minta tapi begini balasanmu?"
"Aku hanya ingin balas dendam pada Shaka. Apa itu salah, mas?"
"Dan seharusnya kau bisa bercermin kenapa Shaka bisa membatalkan pernikahan kalian. Elina, selama ini aku menutup mata atas kelakuanmu yang kerap kali menyakiti aku. Ada baiknya kita bercerai saja." Ucap Lukmana membuat Elina syok.
"Mas, aku tidak mau bercerai dari kamu. Kalau kita bercerai, bagaimana nasib anak kita?"
"Sekali pun kau menjadi istriku, apa kau peduli padaku dan anak kita?" Lukmana mengeluarkan amplop yang berlogo pengadilan agama. "Aku sudah mengurus perceraian kita. Mulai detik ini, kau bukan istriku lagi." Ucap Lukmana begitu tegas.
Pria ini pun pergi dari sana, bahkan ia tidak memperdulikan teriakan Elina yang terus memohon padanya. Elina merobek-robek surat gugatan tersebut. Hanya karena ia ingin menculik Maheera, hidupnya hancur sekarang.
"Shaka, semua karena ulahmu. Lihat saja, aku tidak akan pernah membiarkan kamu hidup bahagia dan tenang." Ucap Elina penuh dendam.
__ADS_1
Berakhir di penjara dan sekarang ia sudah di talak oleh suaminya. Bukannya menyesal, Elina justru mengeluarkan sumpah serapahnya kepada Shaka dan Lukmana.
Di tempat yang berbeda saat ini, Maheera sedang menunggu kedatangan suaminya karena hari ini adalah sidang pertama perebutan harta peninggalan almarhumah pak Banu.
"Mas, akhirnya kamu datang juga." Ucap Maheera yang merasa senang.
"Kamu gugup? Jangan gugup, di bawa santai aja." Ujar Shaka.
"Ini adalah pertama kalinya aku berada di ruang sidang. Tentu saja aku gugup." Ucap Maheera.
"Tenanglah sayang, kamu memiliki bukti dan saksi yang sangat kuat." Kata Shaka yang berusaha menenangkan istrinya.
"Mas, mamah Diana datang bersama perempuan yang waktu itu. Sebenarnya siapa dia?" Tanya Maheera yang penasaran.
"Nanti mas akan mencari tahu siapa dia. Kamu tenang aja, selama dia tidak mengusikmu, abaikan dia." Ujar Shaka.
Pria ini merapikan anak rambut yang menutupi kening Maheera. Terlihat manis sekali hingga membuat hati Maheera luluh.
Cuiiih..... tiba-tiba saja bu Diana meludah tepat di hadapan Shaka dan Maheera.
"Tante, kalau bicara harus sesuai fakta. Maheera tidak pernah merebut aku dari Kinara." Ucap Shaka yang membela Maheera.
"Hai Maheera, dasar anak pelakor, anak haram nggak tahu balas budi. Najis...!!"
"Najis mana dengan perempuan yang tega berselingkuh di saat suaminya jatuh bangkrut bahkan perempuan tersebut lebih memilih hidup dengan selingkuhannya dari pada anak dan suaminya?" Balas Maheera yang tidak mau kalah.
Seketika bu Diana membuang pandangan menahan rasa malu.
"Ibu kamu itu pelakor. Dia menikah dengan Banu secara diam-diam. Kamu itu anak haram!"
Bu Diana kekeh menyalahkan Maheera.
"Anda itu berselingkuh dua kali, sebelum menikah dengan pak Banu, anda juga berselingkuh. Jangan-jangan perempuan yang selalu menempel pada anda itu adalah anak anda dengan selingkuh anda?" Tuduh Shaka.
__ADS_1
Bu Diana tidak menjawab, wanita paruh baya ini berlalu begitu saja.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya sidang pun di mulai. Jahat sekali mulut bu Diana, ia terus mengutuk, menghakimi Maheera di depan hakim. Maheera hanya diam, bersabar meskipun air matanya sudah hampir jatuh menetes.
Shaka sebenarnya geram, tapi pria ini harus mengikuti prosedur yang ada. Meskipun begitu, nyatanya bukti yang di bawa Maheera jauh lebih kuat di bandingkan dengan Bu Diana yang hanya mengandalkan kata istri yang sudah menemani dari nol dan Maheera hanya anak dari seorang pelakor.
"Sayang mas, jangan nangis." Ucap Shaka yang langsung menarik Maheera ke dalam pelukannya sesaat mereka keluar dari ruang sidang.
Maheera menumpahkan air matanya, hatinya terasa sangat sakit sekarang.
"Kenapa mulut mamah Diana sangat jahat? Dari aku kecil sampai sekarang, dia selalu berlaku dan berkata buruk padaku. Aku ini sebenarnya salah apa, mas? Kenapa mereka membenciku?"
Shaka menghembuskan nafas pelan, pria ini tidak bisa menjawab selain memeluknya erat. Setelah di rasa tenang, Shaka mengajak Maheera untuk pulang.
"Di mana Maheera?" Tanya bu Hesti yang baru saja sampai di rumah Shaka dan Maheera.
"Ada lagi istirahat." Jawab Shaka. "Mulutnya tante Diana benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya dia selalu memutar balikan fakta." ucap Shaka memberitahu sang mamah.
"Untung kita tidak termakan hasutan dia lagi. Menyesal mamah sudah percaya sama dia." Ujar bu Hesti. "Ini mamah bawain makan siang buat kalian. Mamah masak sendiri, pasti kalian belum makan."
"Iya, mah. Makasih." Ucap Shaka.
"Mamah pergi dulu, mamah hanya mampir, ada acara arisan." Ujar Bu Hesti memberitahu.
"Iya mah, hati-hati." Ucap Shaka.
Bu Hesti pun pergi, tinggallah Shaka seorang diri yang saat ini tengah duduk di ruang keluarga. Pria ini beranjak dari duduknya kemudian pergi ke dapur sambil membawa makanan yang di berikan mamahnya tadi.
Di tempat yang berbeda, saat ini bu Diana dan perempuan yang biasa di panggil Dona itu sedang makan siang di salah satu restoran.
"Anda harus ingat, jika anda tidak bisa mendapatkan perusahaan itu, maka aku tidak akan mengakui anda sebagai ibu." Ucap Dona yang selalu menekan Bu Diana.
"Kau tenang saja, Maheera tidak akan bisa mendapatkannya karena mamah jauh lebih berhak." Ujar bu Diana yang begitu yakin. "Dona, bagaimana jika kau menggoda Shaka. Dia juga kaya raya bahkan lebih kaya dari pada almarhum mantan suami mamah dulu."
__ADS_1
Dona menghentikan aktifitas makannya lalu menatap Bu Diana dengan tatapan menyelidik.