Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 20


__ADS_3

"Apa pun yang aku alami di sepanjang hidupku, aku tidak akan pernah menyalahkan mu. Mah." Ucap Maheera dengan suara bergetar.


Maheera duduk di samping makam ibunya, menatap batu nisan yang sudah usang termakan waktu. Tidak ada air mata yang keluar, tidak bersuara dan hanya ada kesedihan dalam diam.


Hampir satu jam Maheera duduk seorang diri, mencoba mengikhlaskan atas apa yang ia jalani. Maheera mengusap batu nisan tersebut kemudian beranjak pergi tanpa menoleh ke kebelakang.


"Kau mengikuti aku, mas?" Tanya Maheera saat melihat Shaka sedang duduk bersama pak Banu.


Shaka bingung ingin mencari alasan apa.


"Kita pulang sekarang ya," ujar pak Banu.


Tanpa menjawab, Maheera langsung masuk ke dalam mobil papahnya. Mereka pun pergi dari sana, di tengah perjalanan pulang, pak Banu mengajak Maheera untuk makan siang. Ada Shaka di sana, pria ini juga ikut masuk ke dalam restoran.


Maheera hanya sibuk dengan makanannya tanpa menghiraukan kedua pria yang duduk di seberang meja.


"Maheera, ada baiknya kamu jangan kembali lagi ke kota M." Ucap pak Banu meminta.


"Aku lebih nyaman di sana. Selesai makan, aku akan langsung pergi." Ucap Maheera hanya bisa membuat pak Banu menghela nafas panjang.


"Mas antar ya, Maheera." Ujar Shaka menawarkan.


"Aku bisa naik bus sendiri," tolak Maheera.


Shaka menghela nafas pelan lalu menoleh ke arah pak Banu.


"Kalau kamu kenapa-kenapa, bagaimana?" Ujar Shaka tampak khawatir.


"Aku sudah terbiasa menjaga diriku sendiri, jadi jangan khawatir!" Jawab Maheera.


Pak Banu membuka dompet, mengeluarkan satu kartu tanpa batas lalu meletakkannya di atas meja.


"Ambilah dan simpanlah, Maheera. Pakai uang untuk biaya hidupmu." Ucap pak Banu.


Maheera hanya melirik, setengah tertawa kemudian ia menyeruput minumannya.


"Aku tidak butuh!" Tolak Maheera. "Aku sudah terbiasa makan dari hasil keringat ku sendiri." Ucapnya membuat pak Banu terdiam begitu juga dengan Shaka.


Maheera, hatinya telah dingin sejak kembali bertemu dengan keluarganya.


"Jangan bicara seperti itu, Maheera. Papah mohon ambillah," ucap pak Banu memaksa.


Terus memaksa sampai pada akhirnya Maheera mengambil kartu tersebut lalu menyimpannya.


Shaka juga memaksa untuk mengantar Maheera pulang ke kota M. Merasa sedikit iba melihat wajah melas Shaka, pada akhirnya Maheera menurut juga.


Mereka pun langsung pergi, tinggallah pak Banu seorang diri.

__ADS_1


Di perjalanan, suasana sangat hening karena Maheera tidak berniat untuk bicara dengan Shaka.


"Jaga diri baik-baik, jangan nakal." Ucap Shaka membuka suara.


"Tanpa di minta sekalipun aku pasti akan menjaga diriku sendiri." Jawab Maheera datar. "Sudah dua tahun lebih kak Nara pergi, kenapa kau belum menikah juga, mas?" Tanya Maheera membuat Shaka hanya bisa membuang nafas pelan.


"Selama dua tahun mas nungguin kamu, mas juga gak pernah dekat dengan perempuan lain." Jawab Shaka.


"Ngapain nunggu aku? Jangan terlalu dekat padaku, mas. Aku ini pembawa sial!"


Shaka terdiam sejenak, kata-kata seperti itu selalu saja ia lontarkan pada Maheera dulu.


"Mas minta maaf, Maheera." Ucap Shaka dengan nada pelan.


Maheera tidak menjawab, perempuan dua puluh enam tahun ini memilih memejamkan matanya.


"Mas mencintai kamu, Maheera." Ucap Shaka membuat Maheera membuka matanya kembali.


"Kita tidak akan pernah bersatu mas, cari perempuan lain yang jauh lebih segalanya dari aku." Jawab Maheera lalu memejamkan matanya kembali.


"Jangan tidur Maheera, temani mas bicara!" Ujar Shaka yang memaksa..


Maheera tidak peduli, apa lagi matanya sangat mengantuk membuat wanita ini ingin segera tidur.


Shaka mengalah, ia membiarkan Maheera tidur. Pukul tiga sore, mereka pun sampai juga di kota M.


"Tidak takut tinggal sendirian?" Tanya Shaka pada saat melihat-lihat kembali rumah yang di tempati Maheera.


"Aku jauh lebih takut jika tinggal bersama kalian." Jawab Maheera. "Ada baiknya mas Shaka pulang sekarang sebelum malam."


"Baru juga duduk, udah di usir aja!" Celetuk Shaka lalu meneguk habis air putih tersebut.


Maheera memutar bola matanya malas.


"Sebelum pulang, boleh mas peluk kamu?" Izin Shaka membuat Maheera terkejut.


"Gak boleh!" Jawabnya singkat.


"Bolehlah, biar gak ngantuk di jalan!"


"Tidak ada hubungannya," ucap Maheera mulai kesal.


"Sebentar saja," mohon Shaka.


"Gak ada!" Sekali lagi Maheera menolak.


"Ra...!!"

__ADS_1


Maheera mendengus kesal.


"Lima menit saja," ucap Shaka berusaha merayu.


"Satu menit!" Nego Maheera.


"Apaan satu menit, gak kerasa!" Tolak Shaka.


"Satu menit atau tidak sama sekali," ancam Maheera membuat Shaka mengalah.


Shaka tidak menjawab, pria ini langsung membentangkan kedua tangannya. Dengan perasaan ragu Maheera masuk ke dalam pelukan mantan suaminya.


Shaka, pria ini memeluk Maheera begitu erat, di ciumannya tipis-tipis pucuk kepala Maheera dengan perasaan penuh kerinduan.


Ada rasa lain yang Maheera rasakan, sebuah kehangatan yang belum pernah ia rasakan.


"Lepas....!" Ujar Maheera seraya mendorong tubuh Shaka.


Keduanya mendadak gugup, wajah Shaka maupun Maheera merona merah menahan malu.


"Kalau ada apa-apa kabarin mas ya." Ucap Shaka yang sebenarnya berat meninggalkan Maheera.


"Iya mas." Jawab Maheera singkat. "Hati-hati di jalan." Ucap Maheera.


Untuk beberapa saat keduanya saling pandang, setelah itu barulah Shaka masuk ke dalam mobilnya untuk kembali pulang.


Tak berapa lama Shaka pergi, Gusti pun datang ke rumah Maheera. Hanya duduk di teras, keduanya sama-sama diam untuk beberapa saat.


"Mas pikir kamu gak balik lagi," ucap Gusti yang sebenarnya masih berharap banyak pada Maheera.


"Aku lebih nyaman di kota ini," jawab Maheera.


"Kamu masih mau kerja di cafe mas?" Tanya Gusti berharap.


"Mas bertanya seperti itu apa karena mas tahu jika aku anak orang mampu?" Maheera bertanya balik. "Aku masih akan tetap bekerja di cafe mu, mas." Ucap Maheera memberitahu.


"Mas lihat kamu sangat dekat dengan mantan suami mu," ucap Gusti yang sebenarnya cemburu.


"Hubungan aku dan mas Shaka tidak bisa di putuskan karena kami sudah terikat pada amanah almarhum kakakku. Maaf mas, aku tidak ingin bercerita apa pun tentang keluargaku atau pun kehidupan pribadiku."


"Maaf," ucap Gusti, singkat.


Keduanya hening, ingin sekali Gusti mengungkapkan perasaannya kembali, tapi sikap Maheera selalu saja dingin.


"Maaf mas, dalam hal ini aku tegaskan sekali lagi jika hubungan kita hanya sebatas bos dan karyawan juga sebagai teman. Tidak lebih," ucap Maheera benar-benar membuat Gusti merasa kecewa.


"Tapi, kenapa Maheera?" Tanya Gusti tidak terima. "Kamu tahu sendiri kalau mas itu suka sama kamu." Ucap Gusti.

__ADS_1


"Entah sampai kapan waktunya, tapi yang jelas bukan sekarang. aku sedang tidak ingin menjalani hubungan dengan laki-laki mana pun. Aku hanya fokus membahagiakan diriku sendiri." Jawab Maheera.


__ADS_2