
Hanya Shaka yang menemani pak Banu malam ini di rumah sakit. Pagi-pagi sekali saat pa Banu bangun, ia meminta pada Shaka untuk menjemput Maheera.
Tidak menolak, Shaka pun bergegas pergi ke kota M untuk menjemput Maheera sesuai permintaan dari pak Banu. Mengemudi dengan kecepatan tinggi, tidak sampai dua jam perjalanan akhirnya Shaka sampai juga.
Di carinya di rumah tidak ada, itu artinya Maheera sedang bekerja. Buru-buru Shaka pergi ke cafe untuk mencari Maheera.
"Aku mencari Maheera, tolong panggil dia keluar." Pinta Shaka pada Gusti.
"Kau ini hanya mantan suami, tapi kenapa selalu mengusik Maheera?"
"Hai, cepatlah! Aku tidak punya banyak waktu untuk menjawab pertanyaanmu." Ucap Shaka.
"Maheera sedang bekerja, tolong jangan ganggu dia." Kata Gusti memperingati.
Masa bodoh pada Gusti, Shaka langsung menerobos masuk, mencari Maheera sampai ke lantai dua bahkan Gusti yang mencoba menghalangi pun tidak bisa.
"Mas Shaka, ada apa?" Tanya Maheera yang kebingungan saat melihat Shaka ada di sana.
"Berhenti mengganggu Maheera!" Gusti menengahi.
"Aku tidak ada urusan dengan mu!" Ucap Shaka yang mulai kesal dan langsung mendorong Gusti sampai lelaki itu terjerembab ke lantai. "Ayo ikut pulang sama mas, papah terkena serangan jantung tadi malam." Ujar Shaka memberitahu.
Tentu saja Maheera terkejut, seumur hidup baru sekarang ia mendengar jika sang papah mengalami sakit jantung.
"Mas Shaka serius, jangan bercanda." Ucap Maheera yang masih belum percaya. Baik buruknya pak Banu, ia masih orang tua kandung Maheera.
"Mas Serius, papah minta kamu pulang sekarang. Maheera ikut sama mas ya," ujar Shaka.
"Iya mas, aku akan pulang." Jawab Maheera.
"Maheera, biar mas antar." Ucap Gusti menawarkan.
"Kau tidak ada hubungannya dengan masalah ini, jadi jangan ikut campur." Kata Shaka yang tidak terima jika Gusti mengantar Maheera pulang.
Kedua pria ini saling tatap tidak suka.
"Aku pulang sama mas Shaka," ucap Maheera seketika membuat Gusti merasa kecewa.
__ADS_1
"Tapi, Ra...?"
"Ini masalah keluargaku, mas. Tolong mengertilah!" Ujar Maheera dengan nada pelan.
Tidak ingin membuang waktu, Maheera pun langsung mengajak Shaka pergi. Meskipun lelah, tapi Shaka harus tetap bersemangat karena ia ingin menunjukkan pada Maheera tentang rasa kepeduliannya.
"Papah siapa yang jaga mas?" Tanya Maheera yang khawatir.
"Sama mbak Moni dan pak Saiful. Hanya mereka yang mengurus dan menjaga papah selama ini," jawab Shaka memberitahu karena memang Maheera tidak terlalu mengurusi.
"Mamah dan papah beneran cerai ya mas?" Tanyanya yang masih belum percaya.
"Iya, sampai sekarang kami gak tahu mamah Diana di mana." Jawab Shaka.
"Seingat aku dulu di saat kami masih kecil, ada seorang perempuan menggendong anak yang datang ke rumah mencari mamah, dia mengaku sebagai ibu pria.... ah gak tahu lah aku lupa yang jelas katanya itu anak mamah sama siapa gitu." Ujar Maheera memberitahu Shaka. Tentu saja hal ini membuat Shaka terkejut karena Kinara dulu tidak pernah mengatakan hal apa pun. "Tapi, sebenarnya dalam hal ini mamah Diana yang paling egois." Sambung Shaka.
Maheera tidak menanggapi, pandangannya lurus kedepan, ingatannya kembali menerawang pada masa lalu yang begitu suram.
Suasana yang hening, membuat Shaka merasa canggung. Sesekali diliriknya Maheera yang saat ini sedang memejamkan mata.
Pada akhirnya, sampai juga mereka di rumah sakit. Shaka langsung mengajak Maheera pergi ke ruangan ICU.
Saat melihat papan mama ruangan tersebut, dada Maheera tiba-tiba saja berdebar.
"Apa kita boleh masuk mas?" Tanya Maheera yang bingung.
"Mbak Heera sudah di tunggu bapak di dalam." Ucap mbak Moni memberitahu. "Di dalam juga ada Dokter." Imbuhnya.
Maheera tersenyum tipis, perempuan ini pun bergegas masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Loh, mas Shaka gak ikut?"
"Emangnya saya boleh masuk mbak?"
"Masuk aja mas, mas Shaka juga di tunggu sama bapak." Ujar mbak Moni sedikit membuat Shaka heran.
Masuklah pria ini, menyusul Maheera di dalam. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi tiba-tiba saja terdengar jerit tangis yang begitu memilukan.
__ADS_1
Ceritanya, pak Banu telah tiada sesaat ia menyampaikan sesuatu pada Maheera. Satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang telah tiada.
"Papah....!!" Lirih Maheera. "Tidak adakah kebahagiaan yang kau berikan kepadaku sebagai makna tanggung jawab seorang ayah pada anaknya? Setelah kalian menanam luka dan trauma pada diriku sekarang kalian justru pergi satu persatu. Aku dengan siapa sekarang?"
"Ra... sabar." Ucap Shaka.
Maheera mengusap air matanya pilu, sampai dia berusia dua puluh enam tahun, entah kenapa semesta sangat tidak merestui dirinya untuk bahagia.
Selembar kain putih telah menutup wajah pak Banu. Hembusan nafas terakhir setelah Maheera menerima permintaan maaf sang papah, membuat pak Banu pergi dengan damai.
Mendung kelabu mengiringi pemakaman pak Banu, kali ini tidak ada air mata yang membasahi pipi Maheera sebab sudah lelah rasanya ia menangis.
Kembali pulang ke rumah, Maheera yang masih berduka langsung di temui oleh pengacara pak Banu.
"Seluruh aset milik pak Banu mulai dari perusahaan, properti dan benda bergerak serta tabungan semua di wariskan untuk kamu, Maheera." Ucap pak Surya memberitahu Maheera.
"Tapi, maaf pak. Saya tidak sekolah, jadi saya tidak tahu menahu masalah perusahaan." Ujar Maheera yang sebenarnya merasa malu.
Pak Surya menoleh ke arah Shaka.
"Oh, bukankah papah sudah meminta pada mas Shaka buat mengurusnya sementara waktu ini?" Ujar Maheera mengingatkan.
"Dalam catatan, kamu di minta untuk belajar mengelola perusahaan bersama Shaka." Ucap pak Surya seketika membuat Maheera merasa pusing.
Maheera memijat kepalanya yang terasa sakit, entah kenapa hidupnya mendadak rumit atas segala yang di tinggalkan almarhum pak Banu.
"Pak, saya hanya lulusan sekolah menengah pertama. Bagaimana bisa orang seperti saya bisa mengelola perusahaan milik papah?" Maheera tidak habis pikir.
"Setidaknya kamu mau belajar dan menjalankan amanah dari papah kamu, Maheera." Ucap Shaka mengingatkan. "Buktikan jika kamu bisa berdiri di barisan orang-orang berpendidikan." Imbuhnya.
Maheera hanya diam, jika dulu keluarganya lengkap tapi ia harus bekerja keras untuk dirinya, tapi sekarang ia sebatang kara berlimpah harta. Lalu, siapa yang harus Maheera banggakan selain dirinya sendiri.
Setelah menjelaskan dan memberitahu beberapa hal penting pada Maheera, pak Surya pamit pulang. Tinggallah Shaka dan Maheera berdua duduk di ruang tamu ini.
"Tertawa saja kalau ingin tertawa mas," ucap Maheera membuat Shaka kebingungan.
"Apa yang harus aku tertawakan?" Tanya Shaka yang heran.
__ADS_1
"Lucunya hidup ini, dulu kak Nara yang memberi Amanah agar kau menjaga aku dan sekarang papah juga ikutan memberi amanah padamu. Jika aku tidak menjalankan amanah dari mereka, apa yang akan terjadi?"
Shaka tidak menjawab, pria ini bingung sendiri sekarang. Dua orang yang telah meninggal dunia, sama-sama memberinya Amanah untuk menjaga Maheera.