Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 16


__ADS_3

Maheera tersentak kaget saat tangan kanannya di raih oleh seseorang. Untuk beberapa saat ia menatap orang yang kini menggenggam tangannya.


"Mas, mas Shaka." Batin Maheera yang kini dadanya berdebar.


"Maheera, kamu benar Maheera." Ucap Shaka senang. Dua tahun tidak melihat Maheera, pada akhirnya malam ini ia bertemu juga.


Meskipun tubuh Maheera berisi dan pipinya sedikit tembem, tapi tetap saja Shaka masih mengenali istri siri-nya.


"Lepas mas!" Pinta Maheera yang langsung menepis tangan Shaka. "Pergilah dan jangan ganggu aku!" Usir Maheera.


Dimas, pria ini merasa ada yang aneh saat melihat Maheera bersama dua orang pria. Dimas yang penasaran langsung menghampirinya.


"Ra, ada apa?" Tanya Dimas.


"Tidak ada apa-apa!" Jawab Maheera dengan memaksa senyumnya.


"Ikut sama mas, kita bicara!" Ujar Shaka yang langsung menarik tangan Maheera, mengajak perempuan itu pergi keluar dari cafe.


Dimas yang ingin menahan mereka lebih dulu di tahan oleh Ayman.


"Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang," ucap Ayman memperingati.


Dimas tercengang, pria ini termangu sejenak mencerna perkataan Ayman.


"Maksudnya rumah tangga orang bagaimana? Kalian siapa?" Tanya Dimas semakin penasaran terlebih lagi selama dua tahun mengenal Maheera, ia tidak tahu latar belakang perempuan tersebut.


Ayman tidak menanggapi, pria ini kembali ke mejanya untuk menunggu Shaka dan Maheera. Dalam keadaan seperti ini, Ayman mengambil keputusan untuk memberitahu pak Banu jika Maheera sudah ketemu.


Pak Banu yang mendengar kabar tersebut langsung meluncur ke kota M malam itu juga. Hatinya membuncah mana kala anak perempuannya sudah di temukan.

__ADS_1


Sedangkan Shaka, pria ini membawa Maheera pergi ke tempat yang cukup sepi dari keramaian kota.


"Kenapa kau pergi, Ra?" Tanya Shaka membuat Maheera tertawa renyah.


"Pertanyaan mu terlalu bodoh untuk aku jawab," ucap Maheera dengan santainya.


Shaka memandang wajah yang selama ini ia rindukan, istri pengganti yang selama dua tahun ini telah mencuri hati Shaka.


Sekalipun, Maheera tidak menatap wajah Shaka sampai membuat merasa yakin jika Maheera sangat membencinya. "Ayo pulang bersama mas, Maheera!" Ajak Shaka semakin membuat Maheera tertawa padahal, di dalam tawa tersebut menyimpan sejuta luka.


"Pulang kemana yang kau maksud, mas?" Tanya Maheera sinis. Mimik wajah perempuan ini tergambar jelas rasa kebencian pada laki-laki yang sama seperti keluarganya, menyakiti.


"Papah mu selalu mencari mu, Maheera. Pulanglah!"


"Kau dan keluargaku bukan tempat yang menjadi alasan untuk bagiku untuk berpulang." Ucap Maheera tegas.


"Mas minta maaf, Maheera. Jujur, selama ini mas sangat merindukan kamu." Kata Shaka yang terdengar sangat lucu.


"Mas tahu hatimu penuh dengan luka, mas tidak ingin bicara tentang amanah ataupun almarhum Kinara. Ini tentang kita, setelah kepergian mu, kau meninggalkan jejak cinta."


"Aku tidak pernah tahu apa itu cinta dan makna dari sebuah keluarga. Pergilah, pertemuan kita malam ini tidak pernah terjadi dan tolong jatuhkan talak mu untuk ku!" Pinta Maheera membuat Shaka menggelengkan kepalanya.


Shaka berusaha meraih tangan Maheera, lelaki ini paham betul jika luka yang di bawa Maheera sangat dalam.


Maheera menghela nafas panjang, memberi udara pada dada yang terasa sesak. Entah kenapa air matanya tidak ingin jatuh malam ini.


"Aku hanya seorang anak yang ingin merasakan hangatnya sebuah keluarga, bukan kesalahanku tapi kenapa harus aku yang menerima karma dari mereka? Papah, mamah, kak Nara dan kamu adalah luka terhebat yang tidak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku."


"Mas minta maaf, Maheera." Ucap Shaka terisak.

__ADS_1


"Kita menikah, aku istri mu dan kau suamiku. Meskipun kita tidak saling mencintai, tapi kau tidak pernah menghargai aku sebagai seorang istri. Sengaja menyiram luka hatiku dengan kau yang bertunangan dengan perempuan lain dan aku menjadi babu di acara mu. Mas, kau adalah alasan bagi ku untuk tidak jatuh cinta pada laki-laki mana pun."


Hembusan angin malam ini seolah menjadi nada pilu kisah mereka malam ini. Shaka sampai tak bisa berkata-kata dalam derai air mata.


"Yang menggenggam luka adalah aku, lalu kenapa kau yang menangis? Apa artinya air mata mu itu, mas? Biarkan aku bahagia dengan cara ku sendiri."


"Jangan seperti ini, Maheera. Mas minta maaf, saat itu mas belum menerima kepergian Kinara." Ucap Shaka dengan suara seraknya.


"Belum menerima kepergian kak Nara sampai membuatmu ikut menanam luka di dalam dada." Sahut Maheera seraya menunjuk dadanya sendiri.


Muak, Maheera melangkah pergi tapi Shaka langsung memeluknya erat. Beribu kata maaf tak akan bisa menyentuh hati Maheera.


"Pulang sama mas, mas telah menyesal. Kita bisa memulai kehidupan dari awal, mas sudah membelikan mu rumah agar kau bisa beristirahat dengan nyaman. Pulang, sayang." Shaka terus memohon pada seonggok hati yang telah lama rapuh itu.


"Bagaimana rasanya memeluk nyawa yang rapuh ini, mas?" Tanya Maheera setengah tertawa. "Lepaskan aku!" Maheera mendorong tubuh Shaka.


"Kau hanya marah makanya kau pergi selama ini. Mas tahu kamu masih memiliki hati yang ingin pulang. Ikut pulang sama mas, ya. Sayang!"


Mendengar kata sayang, sekali lagi Maheera tertawa. Sampai malam semakin larut, saat ini Ayman telah kembali lebih dulu ke hotel sedangkan Dimas dan Gusti merasa khawatir memikirkan Maheera yang entah berada di mana sekarang.


"Kenapa kamu gak tanya siapa mereka, Dimas?" Tanya Gusti.


"Mereka tidak menjawab, hanya saja salah seorang dari mereka memperingati saya untuk tidak ikut campur masalah rumah tangga orang. Pak bos, masa iya sih Maheera itu sudah menikah?"


Gusti seketika diam, pria ini ingat lagi perkataan Maheera yang tidak akan menjalin hubungan dengan laki-laki mana pun.


"Kau tidak pernah mengungkapkan siapa dirimu, Maheera. Apakah benar jika kau telah memiliki suami?" Batin Gusti bertanya-tanya penuh dengan rasa penasaran.


Pria ini pun pergi mencari Maheera, di carinya ke kontrakan namun tidak ada itu artinya Maheera belum pulang. Semakin khawatir Gusti memikirkan perempuan yang selama dua tahun ini ia kejar tapi tak dapat.

__ADS_1


Di tempat lain, di pinggir jalan yang menghadap sebuah pantai. Mau pulang tapi tak bisa karena jalanan sangat gelap dan sepi. Sungguh, Shaka sangat pandai mengunci pergerakan Maheera sekarang.


__ADS_2