Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 23


__ADS_3

Satu minggu kemudian, tiba-tiba saja Gusti menyusul Maheera ke kota S. Pria ini merasa heran saja karena sudah satu minggu Maheera pulang tanpa kabar apa sama sekali.


Sangat terkejut, sudah pasti karena Maheera tidak pernah menyangka jika Gusti akan datang menemui dirinya.


"Dari mana mas Gusti mendapatkan alamat rumahku?" Tanya Maheera penasaran.


"Dari hasil melacak nomor ponsel kamu," jawab Gusti, jujur.


"Kenapa kamu kesini mas?" Tanya Maheera.


"Satu minggu kamu pergi bahkan ponsel kamu aja gak balas pesanku, kenapa?" Tanya Gusti yang penasaran. "Kapan kamu pulang ke kota M lagi, Ra?"


"Maaf mas, sepertinya aku tidak akan kembali pulang lagi." Jawab Maheera membuat Gusti terkejut.


"Kenapa, Ra?" Tanya Gusti yang tidak percaya.


"Satu minggu yang lalu papahku meninggal dan aku harus meneruskan semua usaha milik papah. Aku gak mungkin pergi begitu aja sementara ada banyak karyawan yang harus aku urus."


Seketika Gusti merasa lesu mendengar jawaban dari Maheera. Meskipun Maheera tidak pernah membalas cintanya, tapi Gusti hanya ingin melihat Maheera.


"Lalu, bagaimana dengan aku ini?" Tanya Gusti yang merasa sedih.


Maheera mengernyitkan dahinya bingung.


"Apanya bagaimana?" Tanya Maheera yang kebingungan.


Gusti tidak menjawab, pandangan mereka teralih pada Shaka yang baru saja masuk ke dalam rumah Maheera. Kedua pria ini saling tatap untuk beberapa saat.


"Ngapain kamu di sini?" Tanya Shaka yang tidak suka.


"Dan kau, mau apa juga kau ada di sini?" Gusti balik bertanya.


"Hai, tentu saja aku ada keperluan karena mulai sekarang aku akan mengajari Maheera tentang bagaimana caranya mengelola perusahaan." Jawab Shaka dengan nada sombong..


Gusti terdiam, diliriknya Maheera sampai membuat raut wajah perempuan ini bingung sendiri.


"Maaf mas, kali ini aku harus menurunkan ego ku demi banyak orang." Ucap Maheera.


"Kenapa kamu harus meminta maaf? Kamu tidak memiliki hubungan apa pun dengan dia...!" Ujar Shaka seketika membuat Maheera bingung sendiri ingin berkata apa.

__ADS_1


"Ada baiknya kalian pergi sekarang, aku lelah!"


Maheera mendorong kedua pria tersebut untuk keluar dari rumahnya.


"Apa ini? Kenapa sekarang aku di hadapkan pada dua pria yang seperti ini? Membuat kepalaku pusing saja!" Ucap Maheera yang kesal.


Di luar, Shaka dan Gusti kembali saling tatap, menunjukan ketidaksukaan masing-masing.


"Kau hanya mantan suami siri Maheera, aku harap kau bisa menjauhi dia." Pinta Gusti membuat Shaka tertawa sarkas.


"Siapa kau yang berani meminta hal seperti itu padaku? Apa kau tahu apa yang sudah terjadi di antara kami?"


"Aku tidak mau tahu akan hal itu, cukup jauhi Maheera karena kau tidak pantas menjadi masa depannya."


"Lantas, menurut mu siapa yang lebih pantas?" Tanya Shaka dengan kedua mata sedikit melebar. "Kau yang pantas? Hai, bro. Sebelum kakaknya meninggal dunia, dia memberiku amanah untuk menjaga Maheera. Sekarang, almarhum papahnya juga memberi amanah padaku untuk menjaga Maheera." Jelas Shaka membuat Gusti kalah.


"Untuk apa menjalankan amanah jika Maheera sendiri tidak pernah merasa bahagia?"


"Bahagia atau tidaknya Maheera tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu. Lagian, kau hanya bos dari tempatnya bekerja." Jawab Shaka yang tidak mau kalah.


Shaka pun pergi begitu saja, membuat Gusti merasa geram.


Maheera merasa lega setelah Shaka dan Gusti pergi dari rumahnya.


Sekarang, hanya Maheera yang tinggal seorang diri di temani oleh mbak Moni dan pak Saiful yang masih bekerja di sana.


"Gimana rasanya di kejar dua pria tampan, mbak Maheera?" Tanya mbak Moni menggoda.


"Apa sih mbak? Aku gak pernah pacaran, jadi gak tahu ingin melakukan apa?"


"Sampai umur segini belum pernah pacaran itu bohong namanya," ucap mbak Moni yang tidak percaya.


"Aku serius mbak, kalau gak percaya tanya aja sama mas Shaka." Ujar Maheera.


"Kenapa?" Tanya mbak Moni yang penasaran.


Maheera hanya tersenyum lalu menjawab, "gak kenapa-kenapa kok mbak."


Perempuan ini pun pamit pergi ke kamarnya untuk beristirahat karena memang tadi malam ia tidur sangat larut sekali.

__ADS_1


Maheera duduk di tepi ranjang, menertawakan dirinya sendiri yang sampai sekarang belum pernah jatuh cinta pada seorang pria.


"Semesta yang tidak mengizinkan aku untuk memiliki pasangan atau aku sendiri yang tidak ingin membuka hati?" Tanya Maheera pada dirinya sendiri.


Maheera memejamkan mata, mencoba memikirkan apa yang sudah terjadi akhir-akhir ini.


"Seberapa baik mas Shaka sampai kalian menitipkan aku pada dia? Apakah tidak ada orang lain selain dia yang pernah melukai aku?"


Pertanyaan Maheera tidak ada yang menjawab. Nanti, jawaban tersebut akan terjawab seiring berjalannya waktu.


Siang telah berganti malam, lagi dan lagi Maheera kedatangan tamu yang tak lain adalah Shaka dan Gusti. Sangat menjengkelkan, baru sekarang ia di hadapan pada posisi ini.


"Sebenarnya kalian mau apa lagi?" Tanya Maheera yang sudah pasrah.


"Aku ingin mengajak kamu makan malam di luar," ucap Gusti.


"Mengikuti aku saja, pergi sana!" Usir Shaka yang tidak terima karena ia ingin mengajak Maheera pergi ke luar untuk sekedar mencari angin.


"Aku tidak akan pergi kemana-mana malam ini. Mbak Moni sudah masak, jika kalian ingin makan ayo masuk!" Ajak Maheera.


Tanpa basa basi, Gusti dan Shaka langsung masuk menuju meja makan. Saling mencari tempat tersendiri agar mereka bisa duduk tepat di samping Maheera.


Tapi, Maheera justru meminta kedua pria ini duduk saling berdampingan sedangkan Maheera duduk di seberang Gusti dan Shaka.


"Kalian sama-sama berumur tiga puluh tahun. Kenapa seperti anak kecil?" Tegur Maheera.


"Umur bukan jaminan!" Jawab Shaka.


"Ra, kita tidak akan bertemu lagi. Jika aku ingin mengajak mu pergi jalan-jalan bagaimana?" Tanya Gusti yang merasa sedih.


"Perempuan banyak mas, tidak hanya aku. Kenapa kau tidak mencari pasangan saja?" Ujar Maheera membuat Shaka menahan tawanya. "Kau juga sama mas Shaka, cepatlah cari perempuan dan menikah." Imbuhnya.


Gusti dan Shaka saling pandang.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan, Maheera?" Tanya Gusti yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Maheera. "Kau juga sudah dua puluh enam, sudah seharusnya kau serius pada hidupmu untuk mencari pasangan. Apa karena orang di sebelahku ini sampai membuat menjadi trauma?" Tuduh Gusti yang ada benarnya juga.


Shaka langsung menghentikan aktifitas makanannya lalu menatap Maheera. Maheera yang merasa tidak enak hati hanya diam tidak menjawab.


"Cepat selesaikan makan kalian, aku ingin cepat beristirahat!" Ujar Maheera yang sudah malas menghadapi kedua pria ini.

__ADS_1


__ADS_2