Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 08


__ADS_3

"Kalau sakit itu di rumah, bukannya keluar sampai menyusahkan orang. Kenapa kamu gak mati aja, hidup gak berguna juga." Ucap Shaka begitu kasar sampai membuat Maheera menghembuskan nafasnya terputus-putus.


"Dan aku sedang menginginkan kematian ku," sahut Maheera dengan suara pelan tak berdaya apa lagi seharian ini ia tidak ada makan nasi.


"Ya, seharusnya kau yang menggantikan Kinara yang tidur di dalam tanah. Bukannya dia!"


"Adakah kata-kata mu yang lebih kejam dari ini, mas?" Tanya Maheera pilu. "Jika masih ada, tolong ungkapan sekarang!"


"Aku tidak pernah menganggap mu sebagai istri, seharusnya Kinara yang menjadi pengantin ku, bukannya kau. Maheera, kau hanya pengganti almarhum Kinara, kau tidak berguna!"


"Aku bukan pengantin pengganti almarhum kakakku. Jika bukan amanah dari kak Nara, tidak mungkin aku menikah dengan mu."


"Maheera, kenapa kau tidak mati saja?" Jerit Shaka emosi. Semakin ia memikirkan Kinara, semakin dalam kebenciannya pada Maheera.


Melawan pun percuma, Maheera hanya bisa menangis tak berdaya. Sorot mata tajam penuh kebencian tergambar jelas dari mata elang Shaka.


"Aku tidak melarang mu menikah lagi, mas. Kematian Kak Nara bukan kesalahanku, dia menyembunyikan penyakitnya dari kita. Kenapa harus aku yang salah?"


"Orang tua mu saja menganggap dirimu anak pembawa sial. Lalu bagaimana orang lain yang tiba-tiba saja merasakan kesialan mu? Maheera, jangan pernah berpikir aku akan mencintaimu sama seperti aku mencintai Kinara. Jangan pernah kau berpikir untuk jatuh cinta padaku. Buang semua khayalan mu!"


"Aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu ataupun laki-laki lain. Kau jangan takut mas, aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu, aku tahu cintamu hanya untuk kak Nara. Kita hanya orang asing yang di paksa untuk bersatu, jadi jangan mengajari aku meskipun aku tidak bersekolah. Aku hanya perempuan bodoh, mas." Ucap Maheera dengan sisa tenaganya.


Gadis ini bangun lalu mendorong Shaka keluar dari kamarnya. Banjir air mata sudah biasa di rasakan Maheera.


"Amanah mu adalah penderitaan tersebar dalam hidupku, kak. Kenapa kau tega melakukan ini semua padaku?" Lirih Maheera yang saat ini masih terisak pilu.


Di kamarnya, saat ini Shaka hanya bisa memeluk foto Kinara. Sudah sekian bulan sang calon istri meninggal dunia, tapi Shaka belum bisa melupakannya.


Keesokan harinya, Maheera yang masih sakit mencoba untuk bangun. Memesan makanan melalui aplikasi online lalu ia menunggu di luar rumah sambil duduk dengan wajah pucat.

__ADS_1


Sedangkan Shaka sudah pergi ke kantor sejak pagi, seolah tak ada rasa iba dan kasihan, Shaka membiarkan Maheera sakit sendirian di rumah.


"Pak Banu mencari mu sejak kemarin." Kata Ayman memberitahu. Ayman adalah asisten pribadi Shaka yang selama mengurus segala pekerjaannya.


"Biarkan saja, aku sedang malas menjelaskan apa pun sekarang!"


"Jangan seperti itu, meskipun kau tidak mencintai Maheera, seharusnya kau memberinya kepastian. Jangan menyalahkan seseorang atas kematian orang lain."


"Kau tidak pernah berada di posisi ku bagaimana? Hatiku sakit, Ayman!"


"Di posisi ini, Maheera jauh lebih sakit. Kedua orang tuanya tidak menginginkan dia, kakaknya meninggal dunia dan kau memperlakukan dia seperti ini. Jangan sampai dia melakukan bunuh diri."


Shaka hanya diam, pria ini memutuskan untuk pergi ke bar sendirian. Tidak mabuk, hanya sekedar minum untuk menenangkan perasaannya sebentar.


Pukul tujuh malam Shaka baru pulang, saat ini sudah ada pak Banu dan Diana duduk di ruang tamu menunggu dirinya.Begitu juga Maheera yang saat ini tengah terduduk menunduk dan ia sudah pasrah apa yang akan terjadi selanjutnya.


Plak....... Pak Banu menampar wajah Shaka.


"Ya suka-suka Shaka lah, pah. Kenapa papah menampar Shaka hah?" Sergah Diana yang ternyata lebih membela Shaka.


"Karena aku tidak pernah mencintai Maheera. Kalian tahu sendiri jika pernikahan kami hanya sebuah amanah." Ucap Shaka buka suara.


"Tapi tidak seperti ini caranya, Shaka. Lihat Maheera, kenapa kau tidak kasihan padanya?"


"Ngapain kasihan sama Maheera, anak pembawa sial dan pantas untuk mati?" Diana berucap dengan lantang.


"Kalau mamah ingin aku mati, kenapa aku dilahirkan?" Jerit Maheera dengan isak tangisnya. "Kenapa mamah selalu bersikap kasar kepada ku padahal aku ini anak mamah juga?"


"Karena kamu bukan anakku!" Jawab Diana dengan tegas membuat mata Maheera melebar begitu juga dengan Pak Banu dan Shaka. "Sepertinya kau harus tahu siapa kau sebenarnya, Maheera. Agar kau tahu seberapa pantas dirimu untuk di perlakuan!"

__ADS_1


"Mah, jangan mah!" Pak Banu menarik tangan istrinya.


"Aku bukan anak mamah?" Tanya Maheera seraya mengusap air matanya. "Maksudnya aku tidak lahir dari rahim mamah?"


Shaka mundur sedikit kebelakang saat Maheera melangkah ke depan.


"Kau.....!" Diana menunjuk Maheera.


"Mah, jangan mah. Papah mohon mah!" Pak Banu berlutut di bawah kaki istrinya, memohon agar Diana tidak membuka rahasia yang selama ini mereka jaga.


"Diam pah... diam!" Sentak Diana. "Selama dua puluh empat tahun aku menyimpan semua rahasia ini, sudah waktunya anak haram mu itu tahu siapa dia."


"Mah, papah mohon jangan katakan!" Sekali lagi pak Banu memohon. Ia menarik tangan istrinya, tapi Diana malah mendorong suaminya.


"Asal kau tahu, Maheera. Kau hanyalah anak dari seorang wanita perusak rumah tangga orang. Mamah mu sudah merebut suamiku sampai dia hamil kamu. Mamah mu sudah merusak kebahagiaan ku, tapi di saat dia mati mamah mu malah menitipkan mu padaku. Aku sangat membenci mu, Maheera. Kau hanya anak selingkuhan suamiku, kau anak haram tak berguna dan pembawa sial." Ucap Diana yang memberitahu Maheera siapa dia sebenarnya.


Maheera yang mendengar hal tersebut hanya bisa terduduk lesu di lantai dengan ekspresi wajah datar.


"Pah, apa semua itu benar?" Tanya Maheera dingin.


Shaka hanya diam, ia tak menyangka jika perempuan yang ia nikahi ini memiliki penderitaan yang sangat besar.


"Maafkan papah, Maheera. Maafkan papah!" Ucap pak Banu memeluk Maheera.


"Ingatkan dalam hatimu, Maheera. Aku bukan mamah mu, perempuan itu sudah mati memikul dosanya. Seharusnya kau ikut mati bersama mamah mu, bukan malah Kinara yang mati. Kau dan mamah mu sama-sama pembawa sial."


Hancur sudah hati Maheera, gadis ini hanya bisa menangis bahkan saat pak Banu memeluknya dengan sejuta kata maaf tak ia pedulikan lagi.


"Mati saja kau, Maheera!" Jerit Diana berderai air mata. "Aku sangat membenci mu, aku muak padamu. Kau hanya sampah suamiku, kau dan mamah mu adalah perusak. Mati saja kau, Maheera."

__ADS_1


Diana terduduk lemas kembali mengingat rasa sakit di masa lalu akibat perselingkuhan Pak Banu dengan seorang wanita yang melahirkan Maheera.


Begitu kejam dunia pada Maheera, anak yang tidak tahu apa-apa harus memikul karma dari kedua orang tuanya. Dengan langkah gontai tertatih, Maheera keluar dari rumah Shaka. Berjalan tanpa arah dengan derai air mata sedangkan Shaka saat ini membantu pak Banu mengurus istrinya yang sudah tak sadarkan diri.


__ADS_2