
Berdiri tepat di depan rumah yang sudah lama Shaka beli untuk Maheera, tapi sampai sekarang Maheera belum mengetahuinya.
Shaka menertawakan dirinya sendiri, ingatannya kembali menerawang pada pada saat ia melontarkan kata-kata kasar pada Maheera dulu.
"Kamu hanya marah sama mas, Maheera. Suatu saat, apa pun rencananya pasti kita akan kembali bersatu." Ucapnya begitu yakin.
Shaka pun memutuskan untuk pergi dari sana, kembali ke kantor karena ia masih memantau cara kerja Maheera dalam mengelola perusahaan peninggalan papahnya.
"Dari mana kamu, mas?" Tanya Maheera karena tidak seperti biasanya Shaka datang siang.
"Mas bangun kesiangan. Kenapa? Kamu rindu ya?" Goda Shaka membuat Maheera langsung membuang pandangannya. "Hari ini makan siang sama Emir ya?" Tanya Shaka memastikan.
"Sepertinya tidak, mas Emir masih di rumah sakit." Jawab Maheera entah kenapa membuat hati Shaka merasa lega.
"Gak ada niatan menjenguk?"
"Aku malu kalau datang sendiri," jawab Maheera. "Mas tahu sendiri keluarga mas Emir terpandang, aku takut aja."
"Kamu juga punya segalanya, Maheera. Kenapa harus takut?"
Maheera terdiam, ia lupa pada apa yang di milikinya sekarang.
Tiba-tiba saja, security memberitahu jika di bawah ada bu Diana yang sedang marah-marah. Maheera dan Shaka yang penasaran bergegas turun ke lobi kantor untuk memastikannya.
Ternyata benar, bu Diana terlihat sedang mengamuk di bawah, ia temani seorang perempuan yang tampak santai tidak peduli atas apa yang di lakukan bu Diana.
"Mau apa anda datang kemari?" Tanya Maheera layaknya orang asing.
"Ini dia anak pembawa sialnya. Wah... wah... ternyata hidup kamu sangat enak sekarang. Bisa menguasai seluruh harta papah kamu." Ucap Diana yang entah datang dari mana.
"Tolong jaga ucapan tante!" Tegur Shaka.
"Aku tidak ada urusan dengan kamu, Shaka. Hai Maheera, aku datang untuk meminta sebagian harta dari papahmu." Ujarnya tidak bermalu.
Shaka maju selangkah untuk menghadapi Diana.
__ADS_1
"Untuk masalah ini, aku akan ikut campur." Ucap Shaka tegas. "Almarhum pak Banu sudah menyerahkan semua kekayaannya pada Maheera, selaku anak kandungnya." Imbuh Shaka memberitahu bu Diana.
"Jangan ikut campur, shaka!" Sergah bu Diana. "Yang di kuasai Maheera sekarang juga ada hak milikku mengingat aku sudah hampir dua puluh tahun lebih menemani Banu."
"Bukankah anda sudah mendapatkan harta gono gini dari almarhum papah? Kenapa tiba-tiba datang untuk meminta lagi?"
"Rakus kamu itu, Maheera. Dalam harta ini juga ada milik Kinara. Kau harus membaginya padaku delapan puluh persen!" Pinta Diana yang sangat serakah.
Shaka tertawa mendengar permintaan Diana yang tidak masuk di akal ini.
"Tante menghilang selama beberapa tahun dan sekarang datang untuk meminta harta orang. Apa tante sehat?" Cibir Shaka. "Maheera tidak akan memberikan sepeserpun kepada tante!" Ucap Shaka tegas. Pria ini terus membela Maheera yang sejak tadi hanya diam saja.
Diana yang kesal ingin memukul Maheera, tapi dengan cepat Shaka memeluk Maheera, membiarkan wanita tua itu memukul tubuh bagian belakang Shaka sampai dua orang security menarik paksa Diana.
Perempuan yang sejak tadi berdiri memperhatikan kini ikut maju membela.
"Lepaskan mamahku!" Pintanya seketika membuat Maheera dan Shaka terkejut.
"Mamah?" Ujar Maheera yang tidak percaya.
"Awas saja kau, Maheera. Aku akan menempuh jalur hukum untuk mengambil alih hak milik Kinara," ucap Diana yang mengancam.
"Silahkan bawa Pengacara hebat, kami tidak akan takut!" Timpal Shaka.
Dengan perasaan marah dan penuh kebencian, Diana bersama perempuan yang memanggil mamah itu pun pergi dari sana.
Suasana kembali hening, Shaka yang melihat Maheera syok saat ketemu Diana langsung membawanya kembali ke ruangan.
"Minum dulu...!" Ujar Shaka seraya menyodorkan segelas air putih. "Tante Diana pasti baru mengetahui jika papahmu sudah meninggal dan kau yang melanjutkan perusahan."
"Sepertinya begitu," sahut Maheera. "Tapi mas, aku penasaran dengan perempuan yang memanggil mamah. Siapa dia sebenarnya? Atau mungkin anak mamah dengan laki-laki yang pernah datang ke rumah waktu dulu."
"Entahlah, mas juga gak tahu. Gak usah di pikirin, kita punya bukti kuat masalah ini."
Maheera terdiam untuk beberapa saat, baru saja kehidupannya mulai membaik nyatanya ia di usik dengan kehadiran orang yang selama ini telah membuat dia trauma pada yang namanya keluarga.
__ADS_1
Sampai menjelang makan siang, Maheera kehilangan selera makan.
"Kenapa tidak di makan? Mikirin tante Diana? Iyakan?" Tebak Shaka.
"Bingung aja, orang itu muncul dari mana?"
"Udahlah, gak usah dipikirin. Dia tidak akan menyakiti kamu seperti dulu lagi." Ucap Shaka yang berusaha menenangkan Maheera.
Maheera hanya tersenyum, lalu berkata. "Terimakasih sudah melindungi aku tadi, mas."
"Apa pun itu, mas akan selalu melindungi kamu, Maheera." Jawab Shaka lalu keduanya saling tatap penuh makna.
Semakin jauh Shaka menatap kedua mata Maheera, semakin dalam rasa cinta yang ia miliki sekarang.
Selesai makan siang, Shaka dan Maheera membeli buah tangan karena mereka berdua ingin menjenguk orang tua Emir yang masih di rawat di rumah sakit.
Melihat kedatangan Maheera, Emir merasa sangat senang bahkan pria ini langsung memperkenalkan Maheera pada kedua orang taunya sebagai calon istri. Shaka terdiam, sedikit nyeri begitu pula dengan Maheera yang merasa kurang nyaman atas sikap berlebihan Emir yang memperkenalkannya sebagai calon istri.
"Calon istri Emir sangat cantik, kapan rencana kalian akan menikah?" Tanya Bu Rosma, mamahnya Emir.
Maheera bingung sendiri ingin menjawab apa sedangkan ia dan Emir baru dua hari menjalin hubungan.
Merasa tidak ada respon dari Maheera, Emir pun berinisiatif menjawab. "Bulan depan, iya kan sayang?"
Bertambah bingung Maheera sampai membuat wanita ini tidak bisa menjawab.
"Semakin cepat semakin baik, mamah udah gak sabar pengen momong cucu." Ucap bu Rosma di benarkan suaminya yang saat ini masih terbaring di lemah.
Maheera mengajak Emir untuk bicara di luar ruangan.
"Mas, aku gak suka ya dengan cara kamu yang seperti ini. Kita baru dua hari menjalin hubungan dan aku belum ada niatan untuk menikah." Ucap Maheera yang benar-benar merasa kurang nyaman.
"Tapi, mas serius untuk ini. Mas tidak ingin pacaran lama-lama. Kita langsung nikah aja!"
"Gak bisa gitu mas, kita belum terlalu lama mengenal. Aku juga butuh waktu untuk menyesuaikan diri karena aku belum pernah pacaran sebelumnya." Ujar Maheera yang merasa kecewa pada sikap Emir.
__ADS_1
"Mas minta maaf, kita bicarakan nanti ya." Ucap Emir yang merasa bersalah.
Maheera tidak menanggapi, suasana hatinya semakin kacau. Ia pun kembali masuk ke dalam ruangan untuk berpamitan. Meskipun Emir menahan, tapi Maheera tetap memutuskan untuk pergi sekarang.