Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 43


__ADS_3

"Mas, ayo taruhan lagi. Berapa lama mereka akan bertahan?" Tantang Maheera.


"Nanti kalah nangis lagi."


"Nggak, kali ini aku yang menang." Ucap Maheera begitu yakin.


"Baiklah. Mas tebak kalau besok sore mereka pasti akan putus."


"Tebakanku sih, pagi. Lihat aja besok!"


Suami istri ini pun tertawa, cekikikan berdua seperti orang gila hingga di lihat pengunjung yang duduk di samping mereka.


Tiba-tiba saja....


Plaaaak...... terdengar suara tamparan di sudut ruangan yang membuat semua orang terkejut begitu juga dengan Shaka dan Maheera.


"Dasar laki-laki tidak waras. Baru aja pacaran udah bikin larangan mengalahkan di penjara. Sakit jiwa...!" Ucap Perempuan tersebut dengan nada tingginya. "Detik ini juga kita PUTUS!!"


Perempuan tersebut pergi, tentu saja Emir mengejarnya. Kali ini tebakan Shaka dan Maheera tidak ada yang benar.


"Hidih, gila...! Belum ada lima menit kita taruhan, udah putus aja." Ucap Maheera yang merasa geli sendiri.

__ADS_1


Suami istri ini kembali tertawa, untung saja Emir tidak melihat mereka. Shaka dan Maheera mempercepat makan mereka setelah itu pulang.


"Kamu nggak balik ke kantor lagi, mas?"


"Nggak, lagian nggak ada kerjaan yang serius. Pengen berduaan sama kamu, istri mas yang paling cantik."


Maheera tersipu malu mendengarnya. Shaka senang sekali menggoda Maheera yang masih sering bersikap canggung pada dirinya.


Keesokan harinya, sidang pertama setelah tuntutan kedua yang dilayangkan Bu Diana akhirnya kembali berlangsung. Masih tetap sama, Bu Diana kekeh meminta seperdelapan dari harta kekayaan yang ditinggal almarhum pak Banu pada Maheera.


"Maheera ini hanya anak haram mantan suami saya. Dia tidak berhak, saya yang menemani mantan suami saya dari nol. Ibunya datang hanya sebagai perusak rumah tangga saya dan almarhum Banu."


Maheera menghela nafas panjang, wanita ini melirik Shaka yang memintanya untuk diam mendengarkan semua racauan bu Diana. Hingga akhirnya bagian Maheera, Pengacara yang Maheera langsung memberikan beberapa bukti kepada Hakim.


"Maaf yang mulia, surat itu pasti palsu!"


"Maaf yang mulia, kami memang saksi hidup yang beberapa tahun silam."


Terkejutlah Diana, ia tidak menyangka jika Maheera bisa menemukan mantan asisten rumah tangga mereka yang dulu dan dua orang saksi yang menjadi saksi Pak Banu dan Ibu Nurma menikah.


Penjelasan demi penjelasan membuat semua orang geram pada bu Diana yang pandai sekali memutar kata.

__ADS_1


Perdebatan demi perdebatan memenuhi ruangan hingga akhirnya Hakim kembali memutuskan jika Bu Diana tidak bisa menuntut harta milik Maheera apa lagi setengah bercerai ia sudah mendapatkan harta gono gini.


"Sayang. Akhirnya selesai juga." Ucap Shaka yang merasa lega.


"Terimakasih, mas. Semua berkat kamu!"


"Heh Maheera, jangan senang dulu kamu. Sampai kapan pun saya tidak akan pernah ikhlas dengan apa yang kamu miliki sekarang." Ucap Bu Diana yang masih tidak terima.


"Tidak masalah. Lagian semua ini bukan milik anda. Oh iya, andai kak Nara masih hidup, dia pasti akan sangat kecewa jika kak Nara mengetahui mamahnya memiliki anak yang disembunyikan selama ini." Sahut Maheera seketika membuat Bu Diana panik.


"Tahu apa kamu hah?" Sentak Bu Diana.


Maheera melirik perempuan yang berdiri dibelakang Bu Diana.


"Dia, anak perempuan yang anda buang dan telantarkan demi menikah dengan almarhum papah saya. Wah, kejam sekali. Sebagai seorang ibu, anda sangat tidak berguna. Oh ya, jangan lupa jika almarhum ibuku yang sudah mengurus almarhum kak Nara disaat anda sibuk dengan selingkuhan anda."


Maheera menertawakan Bu Diana kemudian wanita ini mengajak suaminya pergi dari sana.


"Jangan temui aku lagi...!" Ucap Dona yang berlalu begitu saja.


Bu Diana mengejar Dona, hanya

__ADS_1


Dona yang menjadi harapan satu-satunya untuk mengurus ia dimasa tua ini. Terus mengejar, memohon pada anak yang tidak pernah pernah ia akui. Tapi, Dona sama sekali tidak peduli meskipun Bu Diana adalah orang yang sudah melahirkan dirinya.


__ADS_2