
Saat ini Maheera tengah kedatangan tamu yang membuat ia merasa sangat terkejut. Orang yang selama ini sudah menyiksa batinnya, siapa lagi kalau bukan ibu Diana.
Datang bersama seorang wanita yang terlihat jauh lebih tua dari pada Maheera. Wajah angkuh begitu mendominasi, tapi Maheera tidak kenal dengan wanita ini.
"Kau hanya anak haram suamiku, seharusnya kau tidak berhak mendapatkan semua harta ini." Ucap bu Diana dengan ketusnya.
"Suami yang mana yang tante maksud?" Sabar Shaka. "Bukankah tante dan pak Banu sudah bercerai sebelum pak Banu meninggal dunia." Ucapnya mengingatkan.
"Hai, Shaka! Pelet apa yang sudah Maheera berikan padamu sampai kau membela dia?"
"Maheera istriku, sudah seharusnya aku membela dia." Jawab Shaka begitu tegas.
"Saya tidak mau tahu, saya meminta seperdelapan harta peninggalan Banu." Pinta bu Diana seketika membuat Shaka tertawa tapi tidak dengan Maheera.
"Anda sudah tidak berhak lagi atas harta ini. Papah meninggalkan semuanya padaku!" Ucap Maheera.
"Anak haram yang tidak tahu diri, kau adalah penyebab Kinara meninggal dunia. Andai Kinara masih hidup, pasti semua akan baik-baik saja!" Ujar bu Diana yang selalu menyalahkan Maheera.
__ADS_1
Shaka membuang nafas kasar, baru ia rasakan jika mantan calon ibu mertuanya ini sangat jahat dan kejam.
"Kinara meninggal sebab dia menyembunyikan penyakitnya dari kita. Semua tidak ada sangkut pautnya dengan Maheera." Sahut Shaka yang mulai merasa kesal.
"Terserah mau berkata apa. Tujuanku datang kemari hanya untuk meminta harta Banu seperdelapan karena aku jauh lebih berhak di banding Maheera. Terlebih lagi selama ini aku yang sudah menemani Banu dari jaman susah." Kata bu Diana justru membuat Shaka tertawa. Ingin sekali Maheera menyahut, tapi di tahan oleh suaminya.
"Ya, menemani dari jaman susah sampai sukses, tapi tidak dengan berselingkuh juga." Singgung Shaka seketika membuat mata bu Diana melotot lebar. "Yang menjadi milik Maheera, akan tetap menjadi milik dia selamanya apa lagi Maheera memegang surat wasiat yang di tinggalkan almarhum pak Banu. Anda tidak bisa menuntut harta ini." Ucap Shaka.
"Bukankah anda sudah mendapatkan sebagian harta gono gini saat bercerai dari papahku? Lalu, apa lagi yang anda minta? Serakah!!" Ketus Maheera.
"Oh, kalau begitu mari kita bertarung di pengadilan." Ancam bu Diana.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, bu Diana dan perempuan itu langsung keluar dari ruangan Maheera.
"Apa sih yang dia cari?" Tanya Maheera yang merasa heran.
"Entahlah, tapi kalau di lihat, tante Diana tidak ingin kamu bahagia." Jawab Shaka.
__ADS_1
Maheera tidak habis pikir, baru saja ia mengecap manisnya rumah tangga, kehidupan yang bahagia, tapi nyatanya ada saja masalah yang menerpa.
"Aku bukan penyebab kak Kinara meninggal." Ucap Maheera yang merasa sedih.
"Kamu tidak ada hubungannya. Kinara meninggal dunia sebab dia sakit." Sahut Shaka.
"Tapi, kenapa tuduhan itu selalu saja tertuju padaku sampai tertanam begitu jelas di hati ini?"
Shaka terdiam tidak bisa menjawab, pria ini masih ingat betul jika dirinya pernah ikut menyalahkan Maheera dulu.
"Kita pulang yuk...!!" Ajak Shaka.
Maheera melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Belum jam pulang," jawabnya.
"Nggak apa-apa, mas pengen ngajak kamu jalan-jalan sore biar kamu nggak sedih terus." Ujar Shaka.
__ADS_1
"Kalau begitu, boleh lah!" Jawab Maheera.
Sejenak menyingkirkan masalah yang ada, Maheera berusaha menyikapinya dengan santai karena ia tahu sekarang ada Shaka yang akan membela dirinya.