
Menjelang sore, Shaka pun mengajak Maheera pulang. Melangkah santai menuju tempat parkir. Semakin sore, taman kota mulai sepi karena memang isinya hanya pohon-pohon besar.
Tapi, saat Shaka hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba saja tiga orang preman suruhan Elina langsung memukulnya.
"Hai, siapa kalian? Kenapa memukulku?" Tanya Shaka yang kebingungan. "Maheera, cepat masuk ke dalam mobil...!!" Titah Shaka pada istrinya.
Ketiga preman tersebut sombong, mereka mengelilingi Shaka tanpa menjawab pertanyaan dari Shaka.
"Hajar dia...!" Titah salah seorang preman tersebut.
Pertengkaran pun terjadi, Shaka seorang melawan tiga orang. Maheera panik, perempuan ini tidak mungkin berdiam diri menunggu suaminya di hajar. Dengan memberanikan diri, Maheera keluar dari mobil kemudian berlari untuk meminta tolong.
"Tolong... tolong pak!" Teriak Maheera.
"Ada apa mbak?"
"Suami saya di keroyok preman!" Ujar Maheera pada penjaga taman tersebut.
Petugas tersebut langsung ikut pergi ke bersama Maheera yang ternyata sudah ramai orang di sana.
"Mas...!!"
"Kamu dari mana aja?" Tanya Shaka dengan wajah panik.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa mas?" Maheera bertanya balik. "Premannya mana?"
"Yang dua kabur, cuma satu ketangkap sama pengunjung!" Jawab Shaka.
Shaka pun menghampiri satu preman yang tertangkap.
"Kenapa kalian mengeroyokku?" Tanya Shaka dengan raut wajah marah.
"Ampun mas... saya cuma suruhan!" Jawab pria tersebut ketakutan.
"Wah, nggak bener ini. Seret aja ke kantor polisi...!!" Ucap Salah satu pengunjung.
"Siapa yang sudah menyuruhmu?" Tanya Shaka tapi pria tersebut tidak menjawab. "Cepat jawab!" Bentak Shaka.
"Perempuan, namanya Elina." Jawabnya seketika membuat Shaka menghela nafas panjang.
"Terimakasih, mas!" Jawab beberapa orang secara serentak.
"Terimakasih juga sudah membantu saya." Ucap Shaka.
"Makasih pak," ucap Maheera.
Shaka pun mengajak Maheera pergi, bukan langsung pulang ke rumah melainkan pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan.
__ADS_1
"Kamu mau laporin Elina, mas?" Tanya Maheera.
"Perempuan itu harus di beri pelajaran." Jawab Shaka. "Dia sudah menikah dan punya anak, tapi masih saja mengganggu aku bahkan dia mau menceritakan kamu." Ucap Shaka yang merasa jengkel.
"Itulah, kamu pernah menyakiti dia, mempermalukan dia. Lihat akhirnya sekarang, berujung dendam." Sahut Maheera membuat Shaka terdiam sejenak.
"Lagian, siapa juga yang mau nikah sama dia. Bisa-bisanya dia meminta uang untuk membayar hutang keluarganya padahal kami belum menikah."
"Seandainya sudah menikah, apa kamu akan membayar semua hutang keluarganya?"
"Nggak lah, ngapain? Mas tunangan sama dia cuma buat main-main doang!"
"Main-main agar aku cemburu, iyakan?"
Shaka tidak menjawab, pria ini mengusap lembut rambut istrinya.
"Maafin mas, ya!" Ucap Shaka.
Maheera tidak menanggapi, andai di toleh ke belakang, sudah pasti hatinya akan kembali sakit. Tapi, perempuan ini sangat yakin jika Shaka mau berubah.
Mereka pun tiba di kantor polisi, Shaka langsung membuat laporan. Preman yang tadi di taman kota pun sudah ada di sana di mintai keterangan.
"Bisa-bisanya kalian ingin menyakiti istriku!" Ucap Shaka yang naik pitam hendak menghajar preman tersebut tapi langsung di tahan oleh polisi.
__ADS_1
"Ampun mas, tolong jangan penjarakan saya!" pinta preman tersebut memohon.
Maheera hanya diam saja, ia sendiri bingung ingin berkomentar apa karena penyebab masalah ini ada pada suaminya.