Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 26


__ADS_3

"Aku mendengar semua yang kau ucapkan tadi, mas. Entah kenapa hatiku jadi bimbang sekarang?" Batin Maheera.


"Maheera, sudah sampai." Ujar Shaka memberitahu sampai membuat Maheera terkejut.


"Oh, iya mas. Terimakasih, mas." Ucapnya bergegas keluar dari mobil Shaka.


Shaka tersenyum tipis, sampai Maheera masuk ke dalam rumah, ia belum pergi juga.


"Malam ini akan ada seorang pria menyatakan cintanya padamu, Maheera. Apa kau akan menerima dia atau tidak? Tapi, aku sangat berharap jika kau menolak Emir nanti malam." Ucap Shaka penuh harap.


Pria ini pun pergi dari sana, bergegas pulang untuk segera mandi dan langsung pergi ke cafe yang di minta oleh Emir tadi siang. Shaka bahkan melewatkan makan malamnya hanya untuk melihat Emir dan Maheera nanti malam.


Di cafe, hanya ada Shaka dan Emir juga beberapa pelayan cafe karena tempat ini sengaja di boking untuk malam ini. Dua pasang mata tertuju pada sosok perempuan cantik yang mengenakan mini dress dengan rambut panjang memasuki cafe.


Maheera merasa heran kenapa cafe ini sangat sepi karena ia tidak tahu jika Emir akan menyatakan cintanya malam ini. Di lihatnya ada Shaka sana semakin membuat Maheera kebingungan.


"Akhirnya kau datang juga," ucap Emir dengan senyum cerahnya.


"Ada acara apa ini sebenarnya, mas?" Tanya Maheera yang penasaran.


Tiba-tiba saja Emir meraih tangan Maheera, di sisi lain Shaka langsung membuang pandangannya.


"Duduk dulu, yuk." Ajak Emir.


Mereka pun duduk, tapi Maheera masih sangat kebingungan apa yang akan di lakukan oleh Emir karena seumur hidupnya belum pernah ia berada di posisi seperti ini.


Emir mengeluarkan satu buah cincin, terlihat sangat cantik sekali.


"Aku gak mau buang-buang waktu. Maheera, kamu mau gak jadi kekasih aku?" Ujar Emir yang langsung mengungkapkan perasaannya pada Maheera.


Maheera terkejut, sedangkan Shaka hanya bisa menahan rasa sesak di dadanya. Liar mata Maheera mencari objek untuk di pandang, tanpa sengaja ia melihat Shaka yang saat ini sedang memandang kearah dirinya dan Emir.


"Gimana, Maheera? Mau gak menjalin hubungan sama mas?" Tanya Emir penuh harap.


Maheera bingung ingin menjawab apa sekarang.


"Aku harap kau menjawab tidak, Maheera." Ucap Shaka dalam hati penuh harap.


Sejenak Maheera berpikir, mungkin sekarang saatnya ia mencoba membuka hati untuk seseorang.


"Ya, aku mau!" Jawab Maheera seketika membuat Emir merasa sangat bahagia tapi tidak dengan Shaka yang patah hati.

__ADS_1


Shaka menarik nafas panjang, memberi udara pada dada yang terasa sangat sesak menerjang. Di hadapan dirinya, seorang pria menyatakan cinta kepada mantan istrinya.


"Ternyata begini rasanya, sakit sekali." Ucap Shaka dalam hati. "Dulu aku bertunangan dengan perempuan lain di hadapan kamu yang masih istriku dan sekarang semesta telah mengembalikan rasa sakitmu padaku. Maheera, maafkan aku." Shaka sibuk bergumul dalam hatinya, ia tidak pernah menyangka jika Maheera lebih memilih orang lain dari pada dirinya, sekarang.


Emir meminta pada Shaka untuk menyanyikan lagu cinta untuk ia dan Maheera, sungguh sakit hati Shaka tapi dirinya tidak bisa berbuat banyak.


Maheera hanya diam, melihat dan mendengar apa yang di bawa oleh Shaka. Sesekali ia menarik ulur nafasnya, ada perasaan yang kacau dalam benaknya sekarang.


Tapi, tiba-tiba saja Emir menghentikan Shaka yang tengah bernyanyi sebab ponselnya bergetar sejak tadi. Emir harus pergi sekarang karena ternyata papahnya masuk rumah sakit sekarang.


"Aku titip Maheera, tolong antar dia pulang. Aku harus ke rumah sakit sekarang, papahku terkena serangan jantung." Ucap Emir dengan raut wajah tegang.


"Hati-hati, mas." Ucap Maheera.


Bergegas Emir pergi, tinggallah Shaka dan Maheera di sana.


"Aku pulang naik taksi aja, mas." Ucap Maheera.


Baru saja Maheera hendak melangkahkan kakinya, Shaka sudah menahannya lebih dulu.


"Pulang sama mas, kalau kamu kenapa-kenapa di jalan bagaimana?"


"Aku sudah dewasa, mas. Jangan khawatirkan aku," jawab Maheera.


Suasana dalam mobil sangat hening, Maheera hanya diam saja tidak berniat untuk membuka suara.


"Kenapa kamu menerima Emir?" Tanya Shaka membuka suara.


"Apanya yang kenapa?" Maheera balik bertanya. "Aku sudah dua puluh enam tahun, apa salah jika aku ingin mengenal cinta?"


Shaka menghela nafas pelan lalu memaksa senyumnya.


"Maafkan mas, Maheera." Lirih Shaka.


"Kenapa meminta maaf?" Tanya Maheera heran.


"Ternyata sakit melihat seseorang mengungkapkan perasaannya padamu. Maafkan mas jika dulu mas pernah melukai hatimu dengan acara pertunangan itu." Ucap Shaka yang sangat menyesal.


"Pentingnya menjaga perbuatan agar tidak melukai hati orang lain. Tapi, apa yang aku lakukan malam tidak ada hubungannya denganmu, mas. Kita telah selesai," sahut Maheera.


Suasana kembali hening.

__ADS_1


"Ini bukan jalan pulang, mas kita mau kemana?" Tanya Maheera sedikit panik.


"Ingin berdua denganmu," jawab Shaka.


"Mas, aku ingin pulang! Putar arah sekarang!" Pinta Maheera.


Shaka tidak menghiraukan, pria ini justru membawa Maheera pergi ke pelabuhan kapal yang memiliki pemandangan malam cukup bagus.


"Kenapa membawaku ketempat ini?" Tanya Maheera yang merasa kedinginan karena angin malam ini berhembus lumayan kencang.


Shaka tidak menjawab, pria ini melepas hoodie yang ia kenakan lalu memberikannya kepada Maheera.


"Untuk apa?" Tanya Maheera.


"Anginnya sangat kencang, pakailah biar tidak masuk angin." Ujar Shaka.


Maheera tidak mau mengambil hoodie tersebut, tapi atas paksaan dari Shaka pada akhirnya ia menurut juga.


"Apa kau menyukai Emir?" Tanya Shaka pada Maheera.


"Suka atau tidak, aku ingin menjalaninya terlebih dahulu." Jawab Maheera.


"Mas mencintai kamu, Maheera. Jika kamu merasa tidak nyaman bersama Emir, kembalilah pada mas." Ucap Shaka terdengar sangat dalam sekali.


"Kau memiliki segalanya, mas. Seharusnya kau bisa mencari perempuan lain, sebab aku bukan yang kau mau. Hubungan kita hanya terikat dari amanah saja."


"Mas tidak peduli, mas akan tetap menunggu kamu sampai kapan pun." Ucap Shaka tegas.


Tiba-tiba saja hati pria ini lemah, Shaka menangis di pinggir dermaga.


"Aku tahu kau mencintai aku, mas. Hanya saja hatiku belum bisa menerima perlakuanmu padaku, dulu." Ucap Maheera dalam hati.


Setelah beberapa saat, Shaka kembali menghampiri Maheera dengan mata dan hidung yang memerah.


"Apa yang kau tangisi, mas?" Tanya Maheera.


"Boleh mas peluk kamu, Maheera?" Pinta Shaka dengan wajah memohon.


"Aku tidak mau!" Tolak Maheera.


"Sekali ini saja, Maheera. Sebab besok kau telah menjadi pasangan orang lain." Sekali lagi Shaka meminta.

__ADS_1


Kedua mata mereka saling tatap penuh arti, sampai Shaka memeluk Maheera, perempuan ini hanya diam tidak bergeming.


"Mas sayang sama kamu, Maheera. Mas akan nunggu kamu, kembali sama mas jika kamu merasa tidak nyaman bersama pria lain. Mas janji akan bahagiakan kamu." Ucap Shaka sama sekali tidak membuat Maheera bergeming.


__ADS_2