
Dengan berat hati Shaka meninggalkan Maheera yang lebih memutuskan untuk tinggal seorang diri. Perempuan yang sudah dua tahun ia cari nyatanya tidak bisa ia ajak pulang.
"Mamah dengar dari Ayman kamu sudah menemukan Maheera. Di mana dia?" Tanya bu Hesti penasaran.
"Ada...!" Jawab Shaka, singkat.
"Kenapa tidak di ajak pulang? Shaka, Maheera masih istri mu."
"Aku dan Maheera sudah sepakat menyelesaikan pernikahan kami, mah." Ucap Shaka memberitahu kedua orang tuanya.
"Kenapa seperti itu, Shaka?" Tanya pak Angga.
"Aku tidak menjatuhkan talak pada Maheera, pah. Hanya saja aku pernah bersumpah tidak akan menafkahi dan menyentuh Maheera. Kami selesai sudah sejak lama, mah pah." Ucap Shaka dengan kedua mata berkaca-kaca.
Pak Angga dan bu Hesti hanya bisa menghela nafas panjang.
"Kau telah menunggu dia selama dua tahun, Shaka. Tidakkah hatinya tersentuh oleh penungguanmu?" Ujar Bu Hesti yang merasa iba pada anaknya.
"Aku juga turut ambil dalam menanam luka di hati Maheera. Mendapatkan maaf dia saja aku sudah merasa senang, lantas apa lagi yang aku harapkan sekarang? Mah, pah. Kami telah selesai," ucap Shaka yang tanpa terasa cairan bening itu mengalir membasahi wajah tampan Shaka.
"Kau hanya sedang marah saat itu, Shaka. Kepergian Kinara yang terlalu mendadak membuat mu khilaf. Adakah hatinya sudi untuk memikirkan lagi masalah hubungan kalian?" Bu Hesti yang semula tidak merestui nyata sekarang malah berbalik merestui hubungan Shaka dan Maheera.
"Kalian masih bisa menikah lagi, Shaka. Jika kau cinta pada Maheera, maka perjuangkan cinta mu." Ucap Pak Angga memberi semangat pada anaknya.
Shaka mengusap air matanya kasar, menatap kedua orang taunya lalu tersenyum tipis.
"Dia adikku sekarang," ucap Shaka kemudian pria ini pergi ke kamarnya.
Bukannya beristirahat, Shaka justru melanjutkan nangisnya. Memeluk kenyataan yang ternyata sama sekali tidak berpihak kepadanya.
Sedangkan Maheera, perempuan ini sekali lagi bertemu dengan Gusti, hanya berdua tanpa bicara karena Maheera mulai merasa canggung sekarang.
"Kenapa kau tidak ikut pulang bersama suami dan papah mu, Maheera?" Tanya Gusti buka suara.
"Aku lebih nyaman tinggal di kota ini." Jawab Maheera.
"Lalu, bagaimana dengan suamimu?"
"Kami telah selesai," jawab Maheera membuat Gusti seolah mendapatkan angin segar.
__ADS_1
"Selain diriku, aku tidak ingin memikirkan apa pun termasuk laki-laki dan pernikahan." Ucap Maheera kembali membuat hati Gusti lesu.
"Aku tidak tahu sedalam apa trauma mu, tapi biarlah waktu yang mengobatinya." Ujar Gusti yang tidak bisa memaksa perasaan Maheera padanya.
Maheera hanya memaksa senyumnya, seharusnya sejak awal ia menjaga jarak dari Gusti. Meskipun Gusti tampan, tapi Maheera sangat tidak tertarik pada pria ini.
Gusti menghela nafas pelan, pria ini pun pamit pergi. Ia hanya ingin memastikan keadaan Maheera baik-baik saja setelah beberapa hari ini suasana cukup rumit.
"Maheera....!" Panggil Pak Banu menghentikan langkah Maheera yang hendak masuk ke dalam rumah. Ternyata pria paruh baya ini belum pulang ke kota S.
"Papah...!" Lirih Maheera.
"Jika kau ingin pergi ke makam mamah mu, kamu boleh ikut papah pulang sekarang." Ujar pak Banu.
Maheera termangu menimbang diri untuk mengatakan iya.
"Bagaimana Maheera?" Tanya Pak Banu memastikan.
"Iya...!" jawab Maheera singkat.
Maheera pun bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas dan beberapa pakaian untuk menginap.
Kembali ke kota S, sama saja membuka luka lama Maheera. Tapi, ia sebenarnya juga rindu ingin berziarah ke makam Kinara.
Setelah sampai di kota tujuan, Pak Banu langsung mengajak Maheera pulang ke rumah. Bukan rumah yang dulu menjadi tempat bernaung, tapi rumah baru yang berukuran sedang namun sangat mewah.
"Istirahat dulu, besok pagi kita pergi." Ujar pak Banu.
Maheera tidak menjawab, ia pun langsung masuk ke kamar yang sudah di beritahu papahnya.
Setengah tertawa, Maheera merasa aneh pada kamar ini. Kamar yang menurut Maheera sangat bagus hanya saja ia merasa tidak pantas berada di sana.
Malam pun tiba, ternyata Shaka tahu jika Maheera ikut pulang bersama pak Banu. Pria ini pun bergegas pergi menemui Maheera.
"Kalau tahu kamu pulang, seharusnya kita pulang bareng tadi." Ucap Shaka yang merasa kecewa.
"Papah yang ngajak." Jawab Maheera sedikit dingin.
"Semudah itu?"
__ADS_1
"Aku ingin pergi ke malam almarhum mamah. Setelah itu aku langsung pulang." Jawab Maheera sekali lagi membuat Shaka merasa kecewa.
"Bertahanlah sebentar, Maheera." Ucap Shaka dengan nada memohon.
"Aku tidak punya alasan untuk bertahan mas." Jawab Maheera yang sejak tadi tidak mau menatap Shaka.
"Kau masih marah pada ku, Maheera." Lirih Shaka.
"Aku terbiasa dengan duniaku sampai aku lupa bagaimana memahami perasaan orang lain. Hati ku sudah terbiasa keras, sampai membuat aku tidak tahu seperti apa bentuk kasih sayang dan cinta." Jawab Maheera membuat Shaka terdiam.
"Mas minta maaf, Maheera. Kita telah sepakat untuk berbaikan, tolong jangan seperti ini."
"Mas, aku lelah. Pulanglah, aku mau istirahat." Usir Maheera.
Shaka pun mengeluarkan sebatang cokelat untuk Maheera.
"Ambil cokelat ini," pinta Shaka.
Maheera melirik lalu mengambilnya.
"Jika hati mu sedang marah, makanlah cokelat agar kau merasa tenang." Ucap Shaka justru membuat Maheera tertawa. "Kenapa tertawa?" Tanya Shaka heran.
"Kau orang pertama yang memberi ku cokelat." Ucap Maheera membuat Shaka termangu. "Dulu kau selalu sibuk untuk membuat hatiku sakit, tapi kenapa sekarang malah sibuk menyembuhkannya, mas. Kau aneh, mas."
Shaka terdiam, sedikit membuang pandangan karena malu.Tanpa menghiraukan Shaka, Maheera memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
Setelah Maheera masuk ke dalam kamar, pak Banu keluar menemui Shaka.
"Sabar ya, Shaka." Ucap pak Banu yang merasa prihatin dengan keadaan ini.
"Sebenarnya kebencian Maheera pada kita sangatlah dalam, tapi dia berusaha bersikap biasa saja." Ujar Shaka lalu menghembuskan nafas panjang.
Dua pria beda generasi ini malah duduk-duduk santai di depan rumah, sampai malam semakin larut barulah Shaka pamit pulang.
Malam telah berganti pagi, pagi-pagi sekali bahkan belum sarapan pak Banu dan Maheera pergi ke salah satu pemakaman yang cukup jauh sekali. Di belakang mobil pak Banu ternyata ada Shaka yang juga mengikuti mereka.
Kurang lebih satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga. Setengah tertawa menahan tangis, Maheera berusaha menguatkan hatinya.
"Bisa-bisanya papah menyembunyikan kebenaran ini selama dua puluh tahun lebih. Tidak berhati." Ucap Maheera yang kembali marah pada keadaan.
__ADS_1
"Maafkan papah, Maheera." Ucap pak Banu tertunduk.
"Maaf pun tidak berguna, pah. Sebab aku sudah merasa terasing di antara kalian." Jawab Maheera. "Tunjukan saja makamnya setelah itu biarkan aku sendirian." Ucap Maheera.