Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 15


__ADS_3

Dua tahun telah berlalu, itu artinya sudah dua tahun pula Maheera tidak pulang. Dua tahun juga Shaka terus mencari Maheera dan dua tahun juga Gusti menunggu hati Maheera terbuka.


kekeh pada pendiriannya, Maheera tetap memilih untuk sendiri dan menutupi masa lalunya rapat-rapat.


"Ada baiknya kita pergi liburan beberapa hari. Kau butuh hiburan, Shaka." Ajak Ayman seraya meletakkan secangkir kopi di meja Shaka.


"Buat apa hah?" Tanya Shaka yang merasa jika liburan itu sangat tidak penting.


"Sejak Kinara meninggal, di tambah lagi dengan masalah mu dengan Maheera. Seharusnya pergi untuk menghibur diri sejenak."


"Aku tidak tertarik, bekerja jauh lebih baik." Tolak Shaka.


"Ayo lah, sesekali. Sebelum kita lembur dengan pekerjaan akhir tahun. Hitung-hitung sambil mencari Maheera." Bujur Ayman langsung di iyakan Shaka.


Ayman yang merasa senang langsung memesan salah satu hotel di kota M. Rencananya dua hari lagi mereka akan berangkat ke kota M dengan menggunakan mobil pribadi.


Di sisi lain, entah kenapa tiba-tiba saja Maheera memikirkan mimpi tadi malam. Dalam mimpi tersebut Maheera di temui oleh Kinara yang memintanya untuk pulang.


"Hai, apa yang sedang kamu pikirkan?" Tegur Gusti.


"Tidak ada!" Jawab Maheera bohong.


"Jangan bohong, sejak tadi aku memperhatikan mu, Maheera."


"Almarhum kakak ku datang dan menyuruh ku untuk pulang!" Kata Maheera memberitahu.


"Pulanglah jika kau merasa rindu, Maheera." Ucap Gusti.


"Tidak ada yang ku rindukan dan tidak ada yang merindukan aku!" Jawab Maheera datar.


"Entah seberapa kacau keadaan mu di masa lalu sampai kau sendiri takut untuk pulang? Tapi, jika kau terus lari dalam masalah masalah, kau akan di anggap sebagai pecundang."


Maheera hanya diam, gadis ini mengusap wajahnya frustasi. Ini sudah dua tahun, jika keluarganya peduli sudah pasti mereka akan mencari dirinya terutama sang papah.


"Sudahlah, jangan di bahas!" Seru Maheera.


Gusti pun diam, entah sampai kapan ia bisa meluluhkan hati Maheera. Bukan salah Maheera, karena dari awal gadis ini sudah menolak bahkan menyatakan jika ia tidak akan menjalin hubungan dengan laki-laki.


Dua hari kemudian, Shaka dan Ayman pun melakukan perjalanan dari kota S ke kota M dengan jarak tempuh kurang lebih dua jam.


"Tertawa sedikit, kita ini sedang pergi liburan, bukan acara pemakaman." Ucap Ayman yang kesal karena Shaka hanya diam di sepanjang perjalanan.

__ADS_1


"Menyetir saja yang baik, biar kita selamat!" Sahut Shaka kemudian menghidupkan musik dan bernyanyi asal.


Sesampainya di kota M, mereka langsung menuju hotel tempat mereka menginap selama tiga hari.


"Aku ingin pergi ke gunung besok. Apa kau mau ikut?" Tawar Ayman.


"Terserah kau saja lah, Man. Aku hanya mengikut." Jawab Shaka yang sama sekali tidak bersemangat.


Shaka membaringkan tubuhnya di atas sofa sambil melihat pemandangan alam yang sangat indah.


Di sisi lain, saat ini entah kenapa Maheera merasa sangat lesu dan tidak bersemangat. Seharian ini kepalanya terasa pusing tapi ia tahan.


"Jika kau tidak suka cafe yang ini, kau bisa kembali ke cafe di tengah kota. Bagaimana?" Tawar Gusti yang merasa tidak enak hati sudah memindahkan Maheera ke cafe yang berada di lereng gunung.


"Serius boleh?" Tanya Maheera.


"Tuh kan, aku sudah tebak jika kau tidak betah di sini."


"Terlalu dingin, cuacanya tidak cocok dengan aku."


"Ya udah, mulai besok kamu kembali ke cafe lama aja." Jawab Gusti seketika membuat Maheera senang.


Singkat cerita keesokan harinya, Maheera akhirnya bisa bertemu dan bercanda lagi dengan Dimas. Melihat wajah senang Maheera, Gusti hanya bisa menghela nafas panjangnya.


Sementara itu, saat ini Shaka dan Ayman tengah menikmati indahnya pemandangan gunung B. Setelah puas menjelajah dengan menggunakan mobil, mereka bersantai sebentar di salah satu angkringan.


"Kita berdua ini seperti remaja jompo." Ucap Shaka membuat Ayman tertawa.


'Makanya, hidup itu mau senang atau sedih ya nikmati. Uang banyak tapi tidak bisa menyenangkan diri sama saja kerja lelah."


"Sok bijak. Ayo kita pulang!" Ajak Shaka yang ingin cepat-cepat mandi.


Mereka pun pulang ke hotel, Shaka langsung berendam air hangat untuk sekedar membuang tubuh lelahnya.


"Ternyata dunia ini sangat luas, entah seberapa jauh kau pergi sampai tak ingat kembali." Ucap Shaka lalu pria ini menenggelamkan diri ke dalam bathtub.


Siang telah berganti malam, seolah tidak ada lelahnya Ayman mengajak Shaka untuk kulineran malam.


"Perasaan kau ini makan terus, di mana kau letakan semua makanan itu hah?" Tanya Shaka yang keheranan melihat Ayman.


"Ah, kau ini. Lagian besok pagi juga di setor." Sahut Ayman. "Bagaimana jika kita mencari cafe dekat pusat kota, kita ngopi-ngopi gitu."

__ADS_1


"Seperti remaja saja padahal kau sudah tua!"


Meskipun mengomel, tapi tetap saja Shaka menurut dengan ajakan Ayman. Mereka pun mencari cafe yang tidak terlalu ramai karena rata-rata cafe di kota ini sangat ramai.


"Sekali lagi kau mengajak ku berputar tidak jelas, ku tendang keluar kau dari mobil ini." Ancam Shaka yang sudah benar-benar kesal.


"Sabar, heran deh. Perasaan darah tinggi mulu. Nah, itu ada yang sedikit sepi."


"Cuma ngopi tapi ribetnya minta ampun. Kau yang bayar!" Ucap Shaka kemudian keluar dari mobil.


Ingin rasanya Ayman memukul Shaka yang sangat menjengkelkan. Pria ini pun masuk menyusul Shaka yang lebih dulu masuk ke dalam cafe. Duduk di sudut ruangan sedikit menjauh dari keramaian.


"Apa kau sudah pesan?" Tanya Ayman.


"Pesanlah, aku malas!"


Sekali lagi, Ayman menahan sabarnya. Pria ini pun memesan dua cappuccino dan dua camilan sebagai pengisi meja.


"Lihatlah, Elina ternyata mengirim pesan pada ku. Dia menanyakan mu!" Ucap Ayman memberitahu Shaka.


"Perasaan dia suka sekali mengirim pesan pada mu. Kenapa tidak kau nikahi saja dia?"


"Orang tuanya mata duitan, kalau seperti itu mana ada laki-laki yang mau. Termasuk aku!"


"Terserah kau saja lah, ada baiknya kau mencari pacar dati pada setiap hari harus mengganggu ku terus. Kau bisa pergi liburan bersama pa......!!"


Tiba-tiba saja ucapan Shaka menggantung.


"Bersama siapa?" Tanya Ayman penasaran.


Shaka memicingkan matanya, mencoba memperhatikan sosok perempuan yang saat ini sedang menuruni tangga.


"Shaka, apa yang kau lihat?" Tanya Ayman heran.


"Maheera.....!!" Ucap Shaka yang tidak percaya setelah ia mengamati.


"Mana?" Tanya Ayman terkejut bahkan dada pria ini tiba-tiba saja berdebar.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Ayman, Shaka langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri perempuan yang sangat mirip dengan Maheera.


Ayman mengejar, pria ini juga ingin tahu apa yang di lihat Shaka benar Maheera atau hanya sekedar mirip saja.

__ADS_1


__ADS_2