Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 44


__ADS_3

"Habisi perempuan ini," titah bu Diana seraya menyodorkan selembar foto pada dua preman di hadapannya.


"Uang muka dulu, dong. Baru kerja...!" Pinta salah satu preman.


Bu Diana mendengus kesal, wanita ini pun mengeluarkan sejumlah uang dari dalam tasnya kemudian memberikannya kepada preman tersebut.


"Sisanya setelah pekerjaan kalian berhasil." Ujarnya kemudian pergi.


Bu Diana pun pergi, tanpa ia sadari ternyata Shaka melihat mereka yang sedang berada di pinggir trotoar. Dengan rasa penasaran pria ini keluar untuk menghampiri kedua preman tersebut.


Tanpa permisi, Shaka merampas selembar foto yang ada di tangan preman tersebut.


"Woi, mau apa kau?" Sergah preman tersebut.


"Perempuan ini istriku, mau kalian apa kan dia?"


kedua preman tersebut saling pandang gugup.


"Aku akan membayar kalian tiga kali lipat asal kalian mau bekerja untukku!"


"Pekerjaan apa itu?"

__ADS_1


"Aku ingin kalian membuang jauh-jauh orang yang sudah menyuruh kalian. Buang ke kota yang paling ujung di negara ini." Titah Shaka.


"Wah, bagaimana caranya? pasti akan memerlukan biaya yang sangat besar!"


"Gampang, masalah uang itu sangat gampang.Temui aku malam ini di restoran House Green. Jam delapan malam!"


Kedua preman tersebut mengiyakan, mereka berpikir jika Shaka lebih banyak uang dan menyakinkan. Berbeda dengan Bu Diana yang terlihat seperti ibu-ibu rumah tangga biasanya.


Shaka pun kembali melanjutkan perjalanannya. Meeting siang ini batal, tapi Shaka merasa bersyukur karena orang yang ingin berniat jahat pada Maheera bisa ketahuan dengan cepat.


Sore hari di rumah, Shaka yang baru saja pulang tidak mendapati Maheera di kamar. Pria ini pun mencari istrinya yang biasanya duduk di taman belakang.


"Mas...!" Maheera tersenyum.


"Melamun, mikirin apa?"


"Mikirin kapan kita punya anak." Jawab Maheera.


Shaka pun duduk di samping istrinya, pria ini mengusap lembut rambut Maheera.


"Kalau aku punya anak, tidak akan aku beda-bedakan. Akan aku berikan cinta kasih yang begitu besar agar mereka tidak merasakan sakit seperti yang aku rasakan. Bukankah begitu, mas?"

__ADS_1


"Maafin mas ya, sayang. Jalan jodoh kita begitu sakit kamu rasakan. Semoga Tuhan persiapkan hadiah terindah untuk kamu."


Maheera hanya tersenyum, wanita ini pun mengajak suami untuk masuk ke dalam. Sampai detik ini, andai Maheera tahu perasaan Shaka, sungguh pria ini sebenarnya merasa sangat malu untuk menampakkan wajahnya di hadapan Maheera.


"Nanti malam mas izin pergi sebentar ya? Papah minta bantuan buat ngurusin kerjaan sebentar." Bohong Shaka karena pria ini ingin menyembunyikan masalah ini dari istrinya.


"Iya mas, tapi pulangnya jangan malam-malam."


Shaka mengiyakan, pria ini pun bergegas pergi mandi sebentar sedangkan Maheera harus pergi ke dapur untuk membantu menyiapkan makan malam.


Setelah selesai mandi, Shaka menyusul Maheera di dapur. Pria ini hanya memandang istrinya dari jarak yang sedikit jauh. Perempuan yang dulu mati-matian ia benci nyatanya sekarang menjadi yang paling ia cinta.


"Mas...!" Tegur Maheera yang tiba-tiba ada di hadapan Shaka.


"Sayang, mengejutkan saja!"


Maheera tertawa, sebentar wanita ini paham betul apa yang sedang di pikirkan oleh suaminya. Hanya saja Maheera tidak ingin membahasnya.


"Apa pun yang kau pikirkan di masa lalu tolong jangan dipikirkan lagi." Ucap Maheera membuat Shaka tertegun. "Jangan dijawab, aku tidak ingin membahasnya!"


Shaka mengerti, pria ini merangkul pundak istrinya kemudian mengajaknya kembali ke kamar sebelum jam makan malam.

__ADS_1


__ADS_2