
"Oh, ini dia perempuan yang selama ini membuat Gusti tidak mau dekat dengan aku," ucap seorang perempuan yang sedang mengintip dari jendela kaca mobilnya.
Ya, perempuan tersebut bernama Heni, teman kuliah Gusti yang sejak lama mengejar Gusti, tapi tidak Pernah di tanggapi.
Setelah menunggu beberapa saat, Gusti pun akhirnya pergi juga. Heni pun bergegas keluar dari mobilnya lalu menghampiri Maheera.
"Maaf, cari siapa ya?" Tanya Maheera saat melihat seorang perempuan yang menghampirinya.
"Aku hanya ingin memperingati mu untuk menjauhi Gusti. Dia calon suamiku," ucap Heni memperingati dengan penuh kebohongan.
"Aku dan mas Gusti tidak memiliki hubungan apa pun, kami hanya berteman." Jawab Maheera.
"Dasar perempuan gatal!" Umpat Heni yang geram pada Maheera. "Jauhi dia, awas aja kalau kamu masih berani mendekati calon suamiku!" Ucapnya memperingati kemudian pergi begitu saja.
Maheera sangat bingung, baru saja Gusti mengungkapkan perasaannya dan sekarang ada seorang perempuan yang datang memperingatinya.
Keesokan harinya, di ruangan kerja Shaka, pria ini seperti biasa sering kedatangan tamu yang tak lain adalah Elina, mantan tunangan dua tahun yang lalu.
Sampai sekarang, Elina masih suka menuntut pertanggung jawaban Shaka karena pria ini sudah mempermainkan dirinya.
"Kau sudah menikah, Elina. Mau sampai kapan kau menganggu aku, hah?"
"Sudah aku katakan berulang kali jika aku akan jadi benalu dalam hidup mu," jawab Elina lalu melipat kedua tangannya di dada.
"Pergilah, aku tidak ingin berdebat dengan mu. Aku juga sudah lelah setiap kali harus bertengkar dengan suamimu." Ucap Shaka yang masih fokus pada pekerjaannya.
"Aku tidak pernah mencintai suamiku," sahut Elina.
"Karena kau hanya mencintai uangnya saja, apa itu benar?" Tuduh Shaka membuat Elina terdiam. "Perempuan yang aku mau bukan dirimu, dia sudah kembali dan kami sudah bersama meskipun harus terpisah jarak." Imbuh Shaka memberitahu agar Elina sadar dan tidak akan mengejar.
"Sampai kapan pun kau tidak akan pernah bahagia, Shaka. Kau telah mempermainkan hidupku." Sahut Elina yang masih kekeh sakit hati atas perbuatan Shaka.
__ADS_1
Wanita ini pun pergi begitu saja, karena Shaka sama sekali tidak mau menoleh pada dirinya.
Shaka menghembuskan nafas pelan, pria ini bersandar di kursi kebesarannya sambil mengingat Maheera. Maheera yang sekarang tidak lagi sama seperti dia tahun lalu yang sangat penurut.
Karena Maheera yang sekarang berubah lebih cantik dan sikapnya juga semua berubah menjadi dingin. Pikirannya mulai kacau, pada akhirnya Shaka memutuskan untuk pulang.
"Shaka...!" Panggil bu Hesti yang sudah tidak tahan lagi melihat posisi Shaka sekarang.
"Ad apa, mah? Tanya Shaka.
"Duduk, mamah ingin bicara!" Titahnya.
Shaka pun duduk di ruang keluarga, hanya berdua dengan sang mamah karena pak Angga masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Umur mu sudah tiga puluh tahun, beberapa bulan lagi tiga puluh satu tahun. Sudah waktunya kau menikah, mau sampai kapan kau hidup tidak jelas seperti ini?"
Shaka hanya diam, omongan sang mamah kali ini sangat serius.
"Apa lagi yang kau harapkan dari Maheera, penantian mu selama dua tahun ini hanya berakhir sia-sia."
"Maheera masih sangat marah pada ku, mah. Andai mamah tahu bagaimana sakitnya menjadi Maheera, aku memperlakukan dia sangat kejam. Kejam, bukan aku memukul fisiknya, tapi aku memukul hatinya." Ucap Shaka membuat bu Hesti terdiam. "Masih ada waktu bagi ku untuk memperbaiki hubungan ku dan Maheera, bukan alasan Kinara, tapi sejak di mana Maheera meninggalkan aku, aku telah jatuh cinta pada Maheera." Tutut Shaka panjang.
"Mamah hanya ingin kamu bahagia, Shaka. Apa itu salah?"
"Mamah tidak salah, hanya saja langkah ku sekarang cekat pada penyesalan. Mah, hati yang aku pukul itu masih remuk redam meskipun sudah dua tahun lamanya." Jawab Shaka sekali lagi membuat sang mamah terdiam.
"Karena luka fisik masih bisa di obati meskipun masih ada sedikit bekas. Tapi, kalau hati yang sakit, maka sakit pula semua, jiwa, raga, pikiran dan segalanya. Mah, Shaka benar. Jangan paksa untuk menikah lagi." Sambung pak Angga yang ternyata sudah pulang dan menguping.
"Maheera tidak akan mau lagi denganmu, Shaka. Jika kau bilang yang sakit hati, butuh waktu lama untuk mengobati." Ucap bu Hesti.
"Dua puluh tahun lebih dia tersiksa batinnya, luka selama itu tidak akan sembuh dalam waktu dua tahun kecuali Maheera memiliki hati yang besar untuk memaafkan kedua orang tuanya dan kau yang menambah luka pada dirinya." Sambung pak Angga yang berusaha mengingatkan Shaka.
__ADS_1
"Beri aku waktu selama satu tahun untuk memperjuangkan apa yang harus aku perjuangkan, pah, mah. Jika semua tidak berhasil, maka aku bersedia menikah dengan calon pilihan mamah dan papah." Ucap Shaka, tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya pria ini pun pergi ke kamarnya.
Entah bagaimana cara semesta mempermainkan cinta, ada yang sedang sibuk menyembuhkan luka, di sisi lain ada hati yang sedang berjuang untuk menutup luka.
"Kau memang merestui aku bertemu dengan Maheera, tapi kau tidak merestui kami untuk bersama, Kinara." Ucap Shaka yang merasa sedih sekarang. "Kau telah bahagia dengan dunia baru mu, Kinara. Sedangkan aku masih sibuk memperjuangkan sebuah hati."
Shaka merebahkan diri di sofa yang ada di sudut kamarnya, membayangkan kembali apa yang sudah ia lalui selama ini.
Sementara itu, pak Banu saat ini merasa sesak di dadanya. Pak Banu pun melangkah tertatih keluar dari kamar untuk memanggil asisten rumah tangganya.
"Bapak kenapa?" Tanya mbak Moni.
"Mbak, tolong antar saya ke rumah sakit sekarang." Pinta pak Banu.
Mbak Moni yang panik langsung berteriak memanggil suaminya yang bernama pak Saiful. Suami istri ini pun langsung membawa majikan mereka pergi ke rumah sakit. Bingung ingin menghubungi siapa, karena selama dua tahun mereka bekerja di rumah ini pak Banu hanya tinggal seorang diri.
"Mbak, tolong telpon Shaka. Kasih kabar kalau saya masuk rumah sakit." Pinta pak Banu sambil menahan sakit di dadanya.
Mbak Moni pun mengambil ponsel pak Banu, wanita berusia empat puluh tahun ini langsung menghubungi Shaka.
Shaka yang mendapat kabar langsung beranjak dari pembaringan, pria ini bergegas pergi.
"Shaka, mau kemana kamu buru-buru begitu?" Tanya bu Hesti yang penasaran.
"Pak Banu masuk rumah sakit, mah." Jawab Shaka lalu tanpa banyak bicara pria ini langsung pergi karena ia merasa khawatir dengan pak Banu.
Sesampai di rumah sakit, Shaka langsung mengejar ke ruang UGD, di sana masih ada mbak Moni dan pak Saiful.
"Pak Banu kenapa, mbak?" Tanya Shaka panik.
"Sepertinya jantung bapak kumat, mas." Jawab mbak Moni semakin membuat Shaka khawatir.
__ADS_1