
"Maaf pak, saya mau mengembalikan payung ini." Ucap Maheera lalu meletakan payung milik Gusti di bawah meja.
"Oh, iya. Sekarang musim hujan, kalau kamu butuh pakai aja payungnya." Jawab Gusti.
"Iya pak," sahut Maheera dengan senyum ramahnya. Gadis ini kembali turun ke lantai bawah mengingat Cafe tempat ia bekerja memiliki dua lantai.
Sejak malam hujan turun dengan deras membuat pengunduran sepi. Maheera dan Dimas duduk di tepi jendela sedangkan dua orang karyawan yang lain memilih duduk di lantai atas.
"Kenapa melamun?" Tegur Dimas.
"Tidak kenapa-kenapa." Jawab Maheera. "Hujan sangat cocok untuk melamun." Imbuhnya membuat Maheera tertawa.
"Maheera, sebenarnya kau ini cantik dan manis. Tambah lagi berat badan mu, pasti kau akan sangat cantik." Ucap Dimas memberi saran.
"Aku juga inginnya seperti itu," sahut Maheera.
"Maheera, kau harus menghindari dua perempuan di atas. Mereka sangat suka mencari muka pak bos" Kata Dimas memberitahu.
"Ah, masa sih?"
"Iya, setiap ada karyawan perempuan pasti di bikin gak betah sama mereka berdua."
"Wah, ngeri juga ya. Tapi, tujuan ku bekerja bukan mau cari muka!" Sahut Maheera membuat Dimas tertawa.
Terus mengobrol, banyak hal yang mereka bicarakan, tapi Dimas tak sekalipun menyinggung hal pribadi Maheera.
Di tempat lain, saat ini hanya bisa tertunduk sedih mana kala pria ini menandatangani surat jual beli rumah. Pada akhirnya, rumah yang ia persiapkan sejak lama untuk Kinara malah berpindah tangan pada orang lain.
"Kenangannya mungkin tidak bisa di lupakan, tapi kau harus menyimpan apa yang membuat menjadi ingat pada Kinara." Ucap Ayman mengingatkan.
"Aku bukan memikirkan Kinara, aku sedang memikirkan Maheera yang sampai sekarang entah berada di mana. Hidup atau matikah dia? Aku benar-benar merasa bersalah sekarang." Kata Shaka dengan wajah lesu.
"Sudah terjadi, mau bagaimana lagi? Aku yakin jika Maheera masih hidup dan sedang menata hati sekarang."
"Apa tidak ada kabar dari anak buah mu?" Tanya Shaka penuh harap.
"Mereka sudah mencari di setiap sudut kota ini bahkan sampai ke kota sebelah. Maheera tidak ada, aku merasa dia sudah pergi jauh entah di mana sekarang."
Shaka menghela nafas panjang, pria ini mengusap wajahnya kasar. Sudah satu minggu lebih Maheera menghilang tanpa jejak.
__ADS_1
"Apa kita lapor polisi aja?" Ayman memberi saran.
"Gak lah, jika kita melapor pada polisi nanti Maheera akan panik. Satu-satunya cara, aku harus menyuruh orang untuk mencari Maheera sampai ketemu."
"Terserah kau saja, yang terpenting sekarang urus dulu masalah mu dengan Elina sebelum Maheera pulang."
Sebenarnya Shaka malas mengurusi Elina yang katanya sejak kemarin menangis terus. Ayman mengajak Shaka pergi ke rumah Elina karena sejak pagi ia terus di teror oleh papah Elina.
"Bajingan!" Umpat pak Joni yang tidak terima jika anaknya di sakiti oleh Shaka. "Om gak mau tahu, pernikahan kamu dan Elina harus segara di laksanakan." Ucap pak Joni kekeh.
"Maaf om, aku sudah membatalkan pertunangan itu artinya aku tidak akan menikah dengan Elina." Jawab Shaka tegas.
"Bisa-bisanya kau mempermainkan anak ku!" Sergah pak Joni.
"Shaka, keterlaluan kau!" Sentak bu Wina yang ikut emosi.
"Aku tidak pernah mencintai Elina, dia saja yang mendesak ku untuk melamar. Dan satu yang harus kalian ketahui jika aku sudah memiliki istri."
"Keterlaluan kamu, Shaka." Ucap Elina berderai air mata. Wanita ini ternyata menguping dari kamarnya.
"Aku tidak suka tipe perempuan matre seperti kamu. Bukan masalah aku pelit atau apa, tapi sesuatu itu ada batasannya." Ucap Shaka yang sama sekali tidak terpancing emosi.
"Elina, jangan nak!" Pak Joni dan bu Wina panik.
"Shaka, cepat nikahi Elina." Titah Wina.
"Nyawa milik mu, Elina. Jika kau mengancam ku dengan tindakan konyol seperti itu, aku tidak peduli." Ucap Shaka dengan santainya.
"Shaka......!!" Jerit Elina dengan isak tangisnya.
Shaka berlalu pergi begitu saja, membuat Elina semakin histeris tidak terima.
"Jika Elina tidak menikah dengan Shaka, siapa yang akan membayar semua hutang kita?" Ucap pak Joni dengan nada tinggi.
Geram hatinya melihat Elina tak berguna, pak Joni langsung memukul wajah anaknya. Bu Wina hanya bisa memeluk anaknya yang selalu menjadi korban keegoisan pak Joni.
"Sebenarnya aku sangat setuju dengan tindakan mu ini, pak Joni itu memiliki hutang di mana-mana, pasti dia sekarang kalang kabut karena pernikahan kalian batal." Ucap Ayman yang sudah paham betul sifat dari keluarga Elina.
Shaka hanya diam, semakin merasa bersalah karena selama ini Shaka sudah dengan sengaja melukai hati Maheera.
__ADS_1
"Setidaknya beri aku kabar, Maheera." Ucap Shaka dalam hati.
Kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan yang sudah terbengkalai selama ini. Semakin Shaka memikirkan Maheera, semakin kacau pikirannya.
Tanpa terasa satu bulan berlalu, itu artinya sudah satu bulan Maheera menghilang tanpa kabar. Baik Shaka maupun pak Banu terus berusaha mencari keberadaan Maheera yang sampai sekarang tidak mereka ketahui.
Di sisi lain, satu bulan bekerja membuat Maheera mulai akrab dengan Gusti, pemilik cafe. Keakraban mereka membuat dua orang karyawan yang bernama Susi dan Maya merasa cemburu.
"Apa sih cantiknya Maheera? Bisa-bisanya bos Gusti lebih akrab ke dia dari pada ke kita." Ucap Susi yang tidak terima.
"Jual muka sok polos, sudah pasti itu." Sahut Maya.
Emosi, sudah pasti emosi karena sudah hampir dua tahun mereka bekerja di cafe ini tapi belum sekali pun Gusti mengobrol sangat dekat dengan mereka berdua.
Dengan perasaan jahat, dengan sengaja Susi menyenggol Maheera yang sedang lewat dengan membawa nampan yang berisi beberapa gelas kosong.
Pyaaaaar...... semua gelas jatuh pecah membuat Maheera ketakutan.
"Bisa kerja gak sih?" Sentak Susi dengan mata melotot.
"Kamu nyenggol aku," ucap Maheera yang sadar.
"Mana ada, kamu aja ceroboh." Susi berkilah.
"Susi, jahat banget. Aku laporin pak bos, baru tahu rasa kamu." Ancam Dimas.
"Maheera aja yang ceroboh, kalau gak percaya tanya aja sama Maya."
"Bertanya sama Maya, sama saja bertanya dengan batu. Awas aja kalian."
"Heh, ada apa?" Tanya Gusti dari balik tangga.
"Maheera memecahkan gelas lima buah pak bos." Adu Susi dengan fitnahannya.
Maheera menghela nafas pelan, rasanya sangat malas untuk membela diri apa lagi ada barang bukti.
"Kamu gak kenapa-kenapa kan, Maheera?" Tanya Gusti tampak khawatir.
Sikap khawatir ini lah yang membuat Susi dan Maya melongo tidak percaya.
__ADS_1
"Gak apa-apa pak," jawab Maheera pelan. "Potong dari gaji saya ya, pak." Imbuhnya mengalah.