
Makan malam yang sedikit canggung, tapi Maheera berusaha membuat dirinya senyaman mungkin. Bu Hesti sebenarnya paham pada sikap Maheera yang merasa kurang nyaman, terlebih lagi ia dulu sempat membenci Maheera.
"Santai saja, Maheera." Ucap bu Hesti lalu tersenyum.
Maheera hanya membalas dengan senyuman.
"Besok kita pergi belanja yuk, Maheera." Ajak bu Hesti.
"Aduh, mah. Nggak bisa, besok aku mau ngajak Maheera belajar menyetir mobil." Ujar Shaka memberitahu.
"Aduh, kok mamah jadi khawatir gini ya?"
"Jangan gitu dong tante, aku jadi gugup nih!" Ujar Maheera sedikit takut.
"Tante aja sampai sekarang nggak berani belajar menyetir, takut!" Ucap bu Hesti.
"Mah, jangan seperti itu dong. Nanti Maheera nggak jadi belajarnya." Kata Shaka yang mulai kesal.
"Kalian terlihat cocok, kenapa nggak menikah lagi aja?" Kata pak Angga seketika membuat suasana menjadi hening.
Shaka melirik Maheera, begitu pula sebaliknya.
"Maheera, om tahu kalau hubungan kamu dan Shaka kurang baik. Tapi, selama ini Shaka sudah rela menunggu kamu." Ucapnya lagi.
"Pah, udahlah. Jangan di bahas dulu." Tegur Shaka.
"Nggak bisa gini, kalian sudah sama-sama dewasa. Tidak baik di lihat orang jika kalian suka pergi berdua padahal kalian sudah bercerai."
Maheera dan Shaka hanya terdiam, apa yang di katakan pak Erwin semuanya benar.
"Kami tidak masalah jika kalian menikah lagi." Ucap bu Hesti yang sudah memberi restu sejak lama.
"Yang tiada biarlah tenang di sana, masa lalu yang kelam cukup di jadikan pelajaran agar kalian bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi." Ucap Pak Erwin.
"Tante Lihat kamu nyaman bersama Shaka. Iyakan?" Tebak bu Hesti. "Kalau nyaman, nikah aja lagi. Kalau iya, akan di segerakan." Imbuhnya.
Maheera melirik ke arah Shaka, ingatannya kembali pada ucapan Shaka yang mengatakan jika tahun ini Shaka tidak bisa menikah dengan Maheera, maka Shaka akan di nikahkan dengan wanita pilihan orang tuanya.
"Kalau nikahnya sekarang, bagaimana?" Tawar Maheera seketika membuat Shaka terkejut.
__ADS_1
"Ra, kamu serius?" Tanya Shaka yang baru buka suara.
Pak Erwin melirik jam yang melingkar di lengannya.
"Belum terlalu malam, ada baiknya kita pergi ke rumah penghulu sekarang. Masalah mahar, gampang." Ucap Pak Erwin yang sudah tidak sabar. Ternyata umpannya berhasil di makan oleh Maheera.
Tidak ingin membuang waktu, mereka pun langsung pergi dari sana. Shaka mampir sebentar ke rumah untuk mengambil sesuatu kemudian mereka langsung pergi ke rumah tetua yang mereka kenal.
Tidak melakukan persiapan apa pun, malam itu juga Shaka dan Maheera kembali melakukan akad untuk kedua kalinya. Sampai kata Sah keluar dari mulut beberapa orang saksi, pada akhirnya Shaka dan Maheera sudah resmi menjadi suami istri kembali.
Shaka memeluk Maheera sangat erat, menangis haru penuh kerinduan seolah hatinya mengatakan sebuah penyesalan. Bu Hesti ikut menangis, dua orang yang pernah bersatu karena terpaksa dan bercerai sebab masalah nyatanya sekarang kembali bersatu lagi karena cinta.
"Besok papah sendiri yang akan mengurus pernikahan kalian." Ucap pak Erwin.
"Mamah akan mempersiapkan pesta pernikahan mewah untuk kalian." Timpal bu Hesti.
Shaka dan Maheera hanya mengangguk, entah kenapa ada perasaan lega dalam hati Maheera saat ia kembali menjadi istri Shaka. Ada rasa cinta yang tidak bisa ia jelaskan sekarang.
Sampai pada akhirnya, setelah acara sederhana itu selesai, mereka pun langsung pulang. Malam ini Shaka ikut pulang bersama Maheera ke rumahnya.
"Tiba-tiba saja kita menikah, takdir nggak ada yang tahu." Ucap Shaka.
"Janji nggak tunangan sama perempuan lain lagi ya?" Gurau Maheera.
"Malam ini kamu tidur di kamar tamu, ya mas!"
"Nggak bisa gitu dong, kita udah sah suami istri, wajar dong tidur berdua?"
"Tapi, aku belum biasa!"
"Harus di biasakan sekarang!" Jawab Shaka yang tidak mau kalah.
"Mas, ngomong-ngomong apa tanggapan mas Emir kalau dia tahu kita menikah?" Tanya Maheera yang tiba-tiba ingat pada Emir.
"Kita berdua pasti akan di musuhi sama dia. Percaya sama mas," ujar Shaka membuat Maheera khawatir. "Nggak usah mikirin dia, sekarang malam pertama kita. Seharusnya kita tidak usah sungkan." Ucap Shaka dengan tatapan menggoda membuat Maheera panik.
"Mas...!" Panggil Maheera.
"Nggak, mas hanya bercanda. Kembali menikah denganmu saja sudah merasa bahagia. Jangan marah-marah lagi, cinta mas sekarang hanya untuk kamu." Ucap Shaka begitu menenangkan hati Maheera.
__ADS_1
Maheera hanya diam.
"Tapi, kenapa kamu tiba-tiba mau di ajak nikah?" Tanya Shaka yang penasaran.
"Aku juga tidak tahu, mas. Tapi, hatiku mengatakan untuk menerima kamu kembali."
"Sebab semua luka pasti ada obatnya, Maheera." Ucap Shaka.
"Tapi, tidak semua rasa sakit bisa sembuh dengan obat, mas." Sahut Maheera. "Jujur, sejak di mana kau mengakadkan diriku di rumah sakit hari itu, sebenarnya sejak hari itu telah aku tanamkan cinta untukmu sebagai suamiku." Ucap Maheera jujur. "Tapi, aku tidak bisa mengontrol rasa sakit di hatiku."
"Kau wanita hebat, Maheera. Maafkan mas yang pernah ikut ambil dalam luka di hatimu." Ucap Shaka.
"Bahagiakan aku seperti janjimu pada kak Nara dan papah, mas." Pinta Maheera. "Aku sebatang kara, hanya kau yang aku punya."
"Iya, pasti. Mas akan membahagiakan kamu, mas janji akan melakukan apa saja untuk kamu." Jawab Shaka. "Tidurlah, sayang mas. Besok kita masih harus di sibukkan dengan banyak hal."
Maheera diam.
"Kamu tidur di tempat tidurmu, mas akan tidur di sofa karena mas yakin jika kamu belum siap dalam segala hal."
Maheera tersenyum tipis, ia pun naik ke atas ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Suasana kamar mulai hening, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing sampai Maheera lebih dulu terlalap, Shaka beranjak dari duduknya.
Pria ini duduk berjongkok, menghadap wajah perempuan yang selama ini sudah mencuri hatinya.
"Cantiknya mas, sayangnya mas, tidak akan mas biarkan dirimu merasakan kesakitan seperti dulu lagi." Ucap Shaka sambil mengusap lembut wajah istrinya.
Shaka begitu betah duduk di lantai yang dingin sambil mengusap wajah Maheera sampai membuat pria ini tertidur. Menjelang tengah malam, Maheera terbangun karena haus. Ia sangat terkejut saat melihat Shaka tidur sambil duduk di samping dirinya.
"Tidak salahkan jika aku memilih kembali padamu, mas?" Batin Maheera. "Berdosa bagiku jika aku tidak menjalankan amanah dari kak Nara dan papah. Tapi, tidak di pungkiri jika selama ini aku merasa nyaman jika bersama mu."
Merasa tidak tega, Maheera membangunkan Shaka. Shaka terkejut, ia tertangkap basah tidur di samping istrinya.
"Tidur di atas aja mas, di bawah dingin." Ucap Maheera.
"Serius tidak apa-apa?" Tanya Shaka memastikan.
"Iya, dari pada kamu sakit!" Jawabnya.
__ADS_1
Tidak membuang kesempatan, Shaka langsung naik ke atas tempat tidur dan memeluk Maheera.
"Kalau begitu, lanjut tidur. Mas sangat mengantuk!" Kata Shaka.