Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 32


__ADS_3

Huh.... Maheera menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Akhirnya ketemu kasur juga." Ucap Maheera yang merasa lega.


"Kita udah nikah loh," kata Shaka mengingatkan.


"Ya terus, kalau kita sudah menikah, memang kenapa?" Tanya Maheera sambil mencari posisi ternyaman untuk tidur.


Bukannya menjawab, Shaka justru balik bertanya. "Kamu cinta ngga sama mas?"


Sejenak Maheera terdiam seraya menatap pria yang berdiri di hadapannya sekarang.


"Aku tidak tahu cinta itu apa? Hanya saja aku lebih nyaman bersama denganmu." Jawab Maheera membuat Shaka diam. "Sudah dini hari, mas. Aku ingin tidur." Ujar Maheera.


"Iya, tidurlah sayang mas. kamu pasti lelah." Ucap Shaka sambil naik ke atas ranjang.


Sampai dengan malam ini, Shaka begitu kuat menahan nafsunya untuk tidak menyentuh Maheera sampai ia membawa Maheera masuk ke dalam rumah yang sudah ia persiapkan beberapa tahun lalu.


"Kamu mau bulan madu, nggak?" Tawar Shaka.


"Terserah kamu, mas!" Jawab Maheera.


"Perempuan kalau di tanya pasti jawabannya terserah, kenapa sih?"


"Nggak tahu juga, memang sudah begitu kali." Jawab Maheera.


Shaka memeluk Maheera dengan sangat erat.


"Mas sangat bahagia pada keputusanmu untuk rujuk bersama mas. Andai kita tidak bersatu, sampai kapanpun mas akan memikul rasa penyesalan. Terimakasih telah kembali bersama mas," ucap Shaka.


"Aku sebenarnya juga tidak ingin kembali padamu, mas. Hanya saja hatiku mengatakan jika aku harus kembali padamu." Kata Maheera yang merasa aneh pada dirinya sendiri.


Suasana hening, Shaka tidak menjawab tapi tangannya nakal memainkan hidung Maheera.


"Tidur sayang, sudah malam." Ucap Shaka sebenarnya menahan sesuatu yang bangun di bawah sana.


Terpejam kedua mata Maheera dengan sangat cepat sebab rasa lelah sangat teramat. Tidur penuh kehangatan, meskipun keduanya belum sama-sama merasakan nikmat surga dunia.


Keesokan paginya, pukul delapan pagi Maheera baru saja membuka mata. Kakinya terasa sangat kencang dan nyeri sisa semalam tapi tidak dengan Shaka yang memang tidak ikut menari-nari tadi malam.


"Mandilah sayang mas, kita harus segera turun sarapan setelah itu pergi ke suatu tempat." Ujar Shaka.


Maheera mengubah posisinya menjadi duduk.


"Kakiku nyeri mas," adunya.

__ADS_1


"Kamu sih, ngikutin mamah tadi malam." Ujar Shaka. "Ya udah, mas siapkan air hangat dulu buat kamu berendam sebentar."


Ingin sekali Maheera menolak, tapi Shaka sudah masuk ke kamar mandi. Setelah air hangat siap, Maheera pun bergegas pergi mandi.


Setelah selesai, Maheera pun mengajak suaminya untuk pergi sarapan karena memang ia sudah sangat kelaparan.


"Shaka...!" Panggil bu Hesti menghentikan langkah Shaka dan Maheera.


"Iya, mah. Ada apa?" Tanya Shaka.


"Mamah dan papah nggak langsung pulang. Mamah dan papah harus pergi ke kota T, saudara sepupu papahmu meninggal dunia." Ucap bu Hesti memberitahu.


"Ya udah, kalau begitu hati-hati." Ucap Shaka.


"Hati-hati ya, mah pah!" Timpal Maheera.


Bu Hesti mengiyakan, ia dan pak Angga pun bergegas pergi Sedangkan Shaka dan Maheera melanjutkan aktifitas mereka.


Selesai sarapan, Shaka langsung mengajak Maheera pergi ke rumah yang sudah ia persiapkan. Rumah mewah yang selama ini ia biarkan kosong tidak berpenghuni.


"Rumah siapa ini, mas?" Tanya Maheera yang penasaran.


"Rumah buat kamu," jawab Shaka. "Ayo masuk!" Ajaknya.


"Mas, maksudnya gimana sih?" Tanya Maheera yang tidak mengerti.


Shaka menatap netra mata yang penuh dengan tanda tanya.


"Sebenarnya rumah ini mas beli setelah kamu pergi. Rumah yang akan menjadi tempatmu bersandar dan kembali, rumah sudah mas persiapkan jika kamu pulang pada saat itu." Turut Shaka memberitahu.


"Kamu serius, mas?" Tanya Maheera yang tidak percaya.


"Mas serius, kalau tidak percaya, semua ada bukti tanggal pembeliannya." Jawab Shaka tegas.


Maheera terdiam sambil menatap kedua mata suaminya untuk mencari celah kebohongan di sana, tapi tidak ia temukan sedikit pun kebohongan.


"Kenapa kau mencintai aku pada saat itu, mas?" Tanya Maheera yang penasaran.


"Entahlah, mas juga tidak tahu karena kita semua tidak akan pernah tahu kemana hati akan berlayar dan berlabuh." Jawab Shaka membuat Maheera tertawa.


"Apa kita akan tinggal di rumah ini?" Tanya Maheera lagi.


"Jika kamu mau, maka kita akan tinggal di rumah ini." Jawab Shaka yang tidak memaksa.


"Lalu, bagaimana dengan nasib kedua asisten rumah tanggaku?"

__ADS_1


"Kita bisa mengajak mereka pindah ke rumah ini. Bagaimana?"


Maheera hanya mengangguk, ia pun di ajak Shaka berkeliling untuk melihat rumah baru mereka sampai ke kamar utama yang akan di tempati oleh mereka.


"Kamar kita, apa kamu suka?" Tanya Shaka.


"Suka, sangat besar dan bagus." Jawab Maheera.


"Kalau begitu, mari kita mengemasi pakaian sebentar biar barang-barangmu yang lain di pindahkan mbak Moni dan pak Saiful ke rumah ini."


Sedikit persiapan karena malam ini mereka mulai menempati rumah ini. Rumah yang sudah siap dengan segala keperluannya. Maheera hanya mengemasi pakaiannya dan beberapa dokumen penting yang akan ia bawa pindah sedangkan sisanya akan di kemas oleh asisten rumah tangga.


Menjelang sore, barulah mereka selesai berkemas, meskipun lelah tapi sekarang rasanya sudah selesai karena semua berjalan sesuai rencana.


Malam pun menjelang, selesai makan malam suami istri ini langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


"Lelahnya!" Keluh Maheera.


"Ehem....!" Shaka berdehem. "Jangan lupa malam pertama kita. Mas sudah menunggunya sejak kemarin kemarin dan kemarin."


Mendadak Maheera gugup.


"Eh, iya mas!" Jawab Maheera cengengesan.


Shaka menghampiri istrinya, merangkak naik ke atas ranjang seperti bayi tua lalu menindih tubuh Maheera. Hembusan nafas yang keluar dari hidung mancung itu membuat Maheera merasa sangat gugup.


Cup... tanpa izin Shaka mengecup bibir istrinya.


"Sepolos apa dirimu?" Tanya Shaka.


"Baru ciuman sama kamu aja!" Jawab Maheera.


"Buat anak yuk!" Ajaknya yang langsung menindih tubuh Maheera lalu meraup bibir manis itu dengan sangat lahap.


Seperti orang kelaparan, Shaka hanya ingin menuntaskan hasrat yang selama ini sudah ia tahan. Tangan-tangan nakalnya mulai menggerayangi tubuh istrinya, meremas bahkan sesekali mencubit kecil.


"Aku gila malam ini, sayang." Bisik Shaka begitu manja.


Satu persatu ia lepas kancing piyama milik istrinya sampai ia temukan dua bukit kecil di depan mata. Tidak mau membuang waktu, Shaka langkah melepas semua pakaian mereka berdua.


Bulu kuduk Maheera merinding saat kulit mereka saling bergesekan. Demi memancing hasrat liar istrinya, Shaka terus mencumbu bibir sampai ke atas dada. Mmenggelitik di atas perut sampai membuat Maheera merasa geli.


Di remasnya dua bukit kenyal tersebut, Shaka memberanikan diri untuk menghisapnya.


Eeeeemph.... lenguh Maheera membuat Shaka semakin gila.

__ADS_1


__ADS_2