Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 09


__ADS_3

Entah kemana langkah kaki Maheera membawa dirinya yang sudah jauh sekali berjalan sampai larut malam, gadis ini tak memiliki arah tujuan.


Jalan sepi di dalam kegelapan, air mata tak lagi bisa keluar mengingat bagaimana kejamnya takdir mempermainkan kehidupan Maheera.


"Sakit.....!!" Jerit Maheera pilu di tengah malam yang begitu sunyi.


Sedangkan Shaka saat ini mencari Maheera yang entah di mana keberadaannya sekarang. Tiba-tiba saja Shaka takut akan sesuatu yang tidak ia harapkan.


Terus mengemudi sampai mobil Shaka berhenti disebuah jembatan. Sorot lampu mobil menangkap sosok yang ia kenal saat ini tengah berdiri di pinggir jembatan.


Shaka keluar dari mobil dan langsung berlari menghentikan seorang perempuan yang ingin terjun ke sungai.


"Lepaskan aku.... lepaskan aku.....!!"


Ya, perempuan tersebut adalah Maheera. Gadis ini sudah putus asa dan lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan begitu selesai sudah penderitaan Maheera di dunia yang begitu kejam ini.


"Lepaskan aku....!!" Maheera memukul tubuh Shaka, ia sendiri belum sadar jika yang sudah memeluk eratnya saat ini adalah suaminya sendiri.


"Apa kau sudah gila?" Sentak Shaka dengan nada tinggi membuat Maheera terkejut.


"Kau, mau apa kau menghalangi aku hah?" Maheera membentak balik.


"Jangan kau pikir semua masalah akan selesai jika kau mati," ucap Shaka.


"Bukankah kau dan mereka sangat menginginkan kematian ku? Lantas, kenapa kau menghalangi aku?"


Maheera terkekeh menertawakan Shaka.


"Maheera, aku minta maaf." Ucap Shaka malah membuat air mata Maheera semakin mengucur deras. "Jangan mati, aku benar-benar minta maaf.''


" Aku harus mati, Shaka....!" Jerit Maheera. "Aku ingin menggantikan kak Nara di dalam kubur sana. Jangan halangi aku!"


Maheera berontak, gadis ini kembali berlari ke pinggir jembatan, tapi cepat di peluk erat oleh Shaka.


"Aku ingin mati, aku akan menggantikan kak Nara. Kak, bangun kak.... aku akan menggantikan mu. Biar aku saja yang mati...!!" Jerit Maheera memecah keheningan malam. Jembatan yang gelap tak ada orang lewat bahkan hanya sorot lampu mobil yang menjadi penerang.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Maheera. Jangan lakukan itu, aku benar-benar tidak tahu penderitaan mu."


"Lepaskan aku, biarkan aku mati seperti yang kau minta. Aku tidak berguna, aku tidak pantas untuk hidup."


Melemah suara Maheera, tenaganya mulai melemah apa lagi gadis masih sakit.


"Ayo pulang Maheera!" Ajak Shaka yang saat ini masih memeluk erat Maheera.


Sssst.....


Maheera mendorong tubuh Shaka sampai pria ini terjungkal.


"Pulang kemana yang kau maksud, mas?" Tanya Maheera dengan suara seraknya. "Aku tidak punya rumah untuk berpulang, kau dan orang tuaku bukanlah rumah untukku." Ucap Maheera sungguh menyayat hati.


"Maheera, aku benar-benar minta maaf. Mari kita pulang sekarang, anggaplah rumah itu rumah mu."


"Kata-kata mu terlalu bodoh, mas. Bagaimana bisa aku menganggap rumah untuk kak Nara sebagai rumahku? Satu-satunya rumah tempat berpulang adalah diriku sendiri."


"Ra, jangan seperti ini. Ayo ikut pulang bersama mas." Ajak Shaka melunak.


Shaka kacau, bagaimana bisa ia tak berpikir jernih atas apa yang ia lakukan selama beberapa bulan ini pada Maheera.


"Seharusnya kau membiarkan aku mati dengan memikul karma kedua orang tuaku, mas. Manusia tak berguna seperti ku ini tidak layak untuk hidup." Ucap Maheera dengan suara pelan.


"Aku minta maaf atas apa yang aku ucapkan padamu, Maheera. Sungguh aku menyesal sudah membuat hati mu terluka lebih dalam."


Setelah apa yang terjadi, begitu mudahnya Shaka mengucapkan kata maaf. Pria ini ikut duduk berjarak satu meter dari Maheera yang masih menangis meratapi kehidupannya.


Tak ada suara dalam kegelapan malam selain suara semesta yang mendayu sendu memberi irama pada kisah pilu Maheera.


"Ra....!!" Shaka berusaha meraih tangan Maheera, tapi gadis ini menepisnya.


"Jangan menyentuhku, mas." Ucap Maheera dengan suara serak.


"Kita pulang ya, Ra!" Ajak Shaka membujuk. "Kamu masih sakit, kamu harus istirahat."

__ADS_1


Dengan wajah sembab mata sayu, Maheera menatap Shaka.


"Apa peduli mu padaku, mas? Aku sudah terlatih sakit dalam segala hal. Kenapa kau harus peduli padaku sekarang? Apa karena kau merasa kasihan padaku? Atau kau hanya ingin mengejekku?"


"Aku sadar aku salah, aku minta maaf."


"Ceraikan aku, mas.Aku sudah tidak peduli lagi dengan amanah dari kak Nara. Dia tidur dengan tenang sedangkan aku harus memikul penderitaan setelah kematiannya."


Shaka menggelengkan kepalanya.


"Tidak!" Tolaknya tegas. "Aku tidak akan menceriakan mu, aku akan menepati semua janjiku pada Kinara untuk membahagiakan mu!"


"Luka ku terlalu dalam, aku sudah terbiasa menderita sampai aku lupa bagaimana rasanya bahagia? Jadi, mari kita akhiri semua ini. Perpisahan adalah jalan terbaik untuk kita berdua, kau pasti akan bahagia dengan perempuan pilihanmu, mas."


"Aku melamar Elina sengaja untuk membuat mu cemburu dan sakit hati. Aku minta maaf, Heera. Aku tidak pernah mencintai dia, sungguh aku minta maaf."


"Cinta mu kepada yang telah tiada begitu dalam terasa sampai ku lupa jika ada perasaan yang harus kau jaga." Ucap Maheera sendu. "Aku bagai karang rapuh yang selalu di terjang ombak penderitaan. Kau dan kedua orang tuaku, sama saja, mas." Imbuh Maheera sampai membuat Shaka tak bisa berkata-kata.


Sekali lagi, saat Shaka hendak meraih tangan Maheera, gadis ini menepisnya kasar.


"Kau hanya segumpal penderitaan yang menambah luka ku. Dunia mu dan dunia ku sangat jauh berbeda, mas. Sampai kapan pun kita tidak akan bisa bersama meskipun kita mengatasnamakan amanah dari orang yang telah tiada. Aku hanya manusia biasa, mas. Apa aku tidak boleh bahagia seperti kalian?"


Shaka tak bergeming, hatinya semakin perih merasa bersalah atas apa yang ia perbuat pada Maheera selama ini. Sampai menjelang dini hari, lebih tepatnya pukul setengah dua malam, Shaka dan Maheera belum beranjak juga dari sana.


"Anginnya sangat kencang, Maheer. Ayo pulang bersama ku. Aku suami mu!"


Hahaha..... Lirih Maheera tertawa, begitu geli ia mendengar kata SUAMI MU yang di ucapkan Shaka.


Tawa tersebut mendadak hilang di saat tubuh Maheera ambruk tak sadarkan diri. Dengan cepat Shaka menggendong Maheera, membawanya masuk ke dalam mobil lalu pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Shaka tidak membaringkan Maheera di kamar pembantu, pria ini malah membawa Maheera pergi ke kamarnya sendiri.


Shaka menyingkirkan semua foto Kinara yang ada di kamarnya agar saat Maheera bangun gadis ini tidak merasa bersalah lagi.


"Dia, dia korban dari keegoisan orang tuanya. Dua puluh empat tahun hidup dan Maheera baru tahu sekarang kenapa dia selalu di bedakan dalam keluarganya. Gila, pak Banu dan bu Diana sudah gila." Ucap Shaka yang tak habis pikir.

__ADS_1


__ADS_2