
Beberapa hari kemudian, Emir dan Maheera sepakat untuk bertemu di salah satu cafe, tempat biasa di mana mereka bertemu selama ini.
Maheera sedikit risih pada Emir yang ingin selalu menempel pada dirinya bahkan sejak tadi pria ini terus menggenggam tangan Maheera sampai telapak tangannya berkeringat.
"Masalah beberapa hari yang lalu di rumah sakit, mas benar-benar serius sama kamu, Maheera." Ucap Emir begitu serius.
"Tapi mas, aku tidak suka cara kamu yang langsung memperkenalkan aku kepada orang tuamu seperti itu." Sahut Maheera yang benar-benar merasa tidak nyaman pada sikap Emir.
"Mas minta maaf, siang itu mas terlalu senang karena kamu mau datang menjenguk papah." Ucap Emir.
Maheera menarik kedua tangannya, tapi Emir langsung menahannya.
"Aku ingin minum, mas. Tolong lepas!" Pinta Maheera seketika langsung dilepaskan oleh Emir.
Amara menghela nafas pelan, ia langsung menyeruput minumannya sampai habis karena sejak tadi ia sudah tidak tahan menahan rasa haus.
Maheera meletakan kedua tangannya di bawah meja. Tapi Emir kembali membawanya ke atas lalu menggenggamnya. Sungguh, Maheera merasa sangat risih yang teramat sekarang.
"Maaf mas, sepertinya aku harus kembali ke kantor. Ini sudah lewat dari jam makan siang." Kata Maheera yang berusaha mencari alasan.
"Tapi sayang, mas masih rindu sama kamu. Sesekali absen gak apa-apa lah!" Tukasnya.
"Nggak bisa dong, aku masih harus banyak belajar dari mas Shaka." Jawab Maheera.
"Kamu jangan dekat-dekat sama Shaka lah, mas cemburu tahu." Ucap Emir seketika membuat Maheera tercengang.
Emir yang sekarang sangat berbeda dengan Emir yang Maheera kenal sebelumnya. Emir yang selalu membuat Maheera tertawa dan merasa sangat nyaman saat berdua, tapi setelah mereka pacaran, tiba-tiba saja Maheera merasa ilfil pada sikap Emir.
"Aku dan mas Shaka tidak punya hubungan apa pun. Mas Shaka sudah mendapatkan amanah dari almarhum papah untuk membimbing aku dalam mengelola perusahaan." Jelas Maheera agar Emir tidak salah paham.
"Tapi, kamu sudah beberapa bulan belajar sama dia. Masa iya gak paham-paham juga. Mas nggak mau tahu, mulai sekarang kamu harus jaga jarak sama Shaka." Pinta Emir tegas. "Dan satu lagi, kalau kamu mau kemana-mana kamu harus izin sama mas. Ponsel selalu ada di tangan karena mas nggak suka pesan dari mas di balas lama. Oh ya, nggak ada acara makan siang atau pergi berdua sama Shaka atau pun laki-laki lain." Kekang Emir pada Maheera.
Baru satu minggu menjalin hubungan, tapi Maheera harus di hadapkan dengan aturan yang tidak jelas dari Emir.
"Aku tidak suka di atur seperti itu, mas!" Sahut Maheera yang tidak terima. "Pekerjaanku tidak melulu memegang ponsel, masih ada banyak hal yang harus aku lakukan."
"Mas nggak mau tahu, kamu harus menuruti semua aturan dari mas." Ucap Emir yang sangat egois.
__ADS_1
Maheera menggelengkan kepalanya, dengan perasaan kesal ia pergi begitu saja bahkan tidak memperdulikan Emir yang mengejarnya di belakang.
"Gila aja, baru satu minggu pacaran tapi sudah di kekang seperti itu. Itu manusia beda banget saat kenal, kok sekarang jadi gini ya?" Ucap Maheera yang pusing sendiri.
Bergegas ia kembali ke kantor, ternyata Shaka sudah ada di dalam ruangannya, menunggu Maheera di sana. Shaka merasa heran pada raut wajah Maheera yang tampak kesal.
"Kalau pacaran, ingat kerjaan. Selain dirimu, tidak ada yang bisa harapkan." Ucap Shaka mengingatkan.
"Seharusnya sudah dari tadi aku kembali ke kantor. Tapi, mas Emir selalu saja menahanku." Ujar Maheera memberitahu.
Shaka mengangkat kedua alisnya.
"Kamu kenapa? Ada masalah sama Emir?" Tanya Shaka yang penasaran.
"Aku tiba-tiba aja ilfil sama dia," kata Maheera memberitahu.
Shaka mengerutkan dahinya.
"Kenapa?" Tanyanya lagi semakin penasaran.
"Bukannya mas ingin menjelekan pacar kamu, hanya saja mas kenal dia lebih lama dari pada kamu. Emir memang seperti itu, berkali-kali dia pacaran pasti putus di tengah jalan sebab dia terlalu posesif sama pasangannya." Tutur Shaka memberitahu Maheera.
Maheera mengangkat ponselnya, menunjukan pada Shaka jika saat ini Emir sudah mengirimnya pesan sudah lebih dari sepuluh dan sekarang justru menelpon Maheera.
"Angkat saja, katakan kalau kamu ada pekerjaan." Ujar Shaka.
"Gak ah, malas kalau seperti ini caranya!" Jawab Maheera yang langsung mematikan ponselnya.
Shaka tertawa.
"Sebentar lagi pasti dia datang ke sini. Pura-puralah sibuk!" Ujarnya memberi saran.
Maheera sangat penurut, ia pun mulai sibuk pada pekerjaannya kembali begitu juga dengan Shaka.
Dan benar saja tebakan Shaka, tidak sampai sepuluh menit, Emir datang ke kantor Maheera bahkan langsung masuk ke dalam ruangan kerja.
"Maheera, kenapa ponsel kamu mati? Kenapa pesan dan telpon dari mas gak di jawab?" Tanya Emir seketika membuat suasana hati Maheera menjadi buruk.
__ADS_1
"Aku kerja mas, lihtlah pekerjaanku sangat banyak." Jawab Maheera seraya menunjukan tumpukan berkas di depannya.
"Tapi, kamu berduaan dengan Shaka di ruangan ini."
"Kami kerja, kenapa memangnya?" Ujar Shaka yang buka suara.
"Seharusnya kita cepat menikah, mas nggak suka lihat kamu kerja seperti ini." Ucap Emir dengan nada dingin.
"Sekalipun aku menikah, aku akan tetap bekerja, mas. Kalau bukan aku, siapa lagi yang mengurus perusahaan?"
Emir terdiam.
"Pergilah! Aku benar-benar sibuk!"
Lelah, hari ini Maheera sangat lelah menghadapi sikap Emir yang tidak jelas. Pria itupun pamit pergi, tinggallah Shaka dan Maheera.
"Kembalilah sama mas jika kamu tidak merasa nyaman bersama Emir," pinta Shaka membuat Maheera termangu.
"Kita bahas pekerjaan aja, mas. Aku tidak ingin membahas kalian berdua, rasanya hidupku lebih damai tanpa kalian deh!"
Mendengar perkataan Maheera, pria ini hanya bisa menghela nafas.
Kembali fokus pada pekerjaan masing-masing, tapi sesekali Maheera melirik Shaka dengan perasaan yang sangat berkecamuk.
"Entah kenapa sekarang aku merasa hangat saat bersamamu, mas. Tapi, luka di hatiku sering kali terasa perih saat mengingat perlakuanmu padaku dulu." Ucap Maheera dalam hati. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanya Maheera pada dirinya sendiri.
Kembali membayang sikap Emir yang sangat berlebihan tentu saja membuat Maheera pusing sendiri.
"Kamu kenapa, Ra?" Tegur Shaka yang khawatir.
"Kepalaku sangat pusing, boleh aku tidur sebentar, mas?"
"Istirahat dulu, jangan lakukan pekerjaan apapun atau memikirkan apa pun." Ucap Shaka yang saat ini menuntun Maheera ke sofa.
Maheera membaringkan dirinya di sofa, dengan cepat Shaka melepas jas-nya kemudian ia selimutkan pada Maheera.
"Gila...!" Hardik Maheera dalam hati. "Gara-gara memikirkan sikap mas Emir membuatku terserang sakit kepala mendadak." Batinnya.
__ADS_1