
"Selamat menjadi pelayan di pesta pertunangan ku, Maheera." Ucap Shaka dengan tawa yang begitu sarkas.
"Selagi itu bisa membuat mu bahagia, lakukan sesuka mu, mas." Jawab Maheera dengan santainya.
"Bilang saja kau cemburu dan sakit hati." Sahut Shaka dengan nada mengejek.
"Aku sudah terlatih sakit hati dan kita tidak saling cinta lalu untuk apa aku cemburu?"
Shaka tidak terima dengan perkataan Maheera, tiba-tiba saja pria ini mencengkram wajah Maheera.
"Kenapa bukan kau saja yang mati, Maheera? Kenapa harus Kinara?" Merah mata Shaka menekan wajah Maheera. Air mata hangat yang membasahi punggung tangan Shaka pun tak ia hiraukan.
"Kalau begitu, bunuh saja aku. Itu lebih baik dari pada kehidupan ku yang seperti ini." Kata Maheera yang sudah pasrah.
Shaka melepaskan cengkraman tangannya kemudian pergi begitu saja. Entah kenapa saat ia melihat wajah Maheera emosinya tidak bisa di kontrol lagi.
Shaka, pria ini tidak pernah pergi ke clubs malam, tapi malam ini ia memutuskan untuk pergi agar ia bisa melupakan Kinara.
Shaka meneguk segelas wine tanpa jeda, hatinya begitu sakit menahan kerinduan pada wanita yang selama ini selalu mengisi hari-harinya.
Pukul setengah enam pagi Shaka baru saja pulang dengan kondisi yang acak-acakan. Maheera yang melihat Shaka seperti itu tak berani mendekati apa lagi bertanya.
Sepasang suami-istri tapi mereka seperti orang asing yang tak saling kenal, Maheera berlalu begitu saja.
Singkat cerita, di mulailah acara pesta pertunangan Shaka dan Elina di sebuah hotel mewah. Dengan perasaan tegar, Maheera membantu teman-temannya menyiapkan makanan untuk para tamu undangan yang sudah mulai ramai memasuki tempat acara.
Sorak sorai dan tepuk tangan meriah menyambut kedatangan Shaka yang sangat tampan dengan menggandeng Elina masuk kedalam ruangan. Ada mertuanya di sana, tapi sebisa mungkin Maheera menghindar karena sejak hari di mana mereka menikah, kedua mertua Maheera sangat tidak menyukainya.
"Kak, lihatlah calon suami mu yang begitu tampan. Kenapa kau harus pergi secepatnya ini dan meninggalkan penderitaan yang teramat menyakitkan untukku, kak?"
Ingin rasanya Maheera menjerit, hati mana yang tak luka saat melihat suaminya bersanding dengan perempuan lain meskipun tak saling cinta.
Liar mata Shaka mencari di mana Maheera berada, mata elang itu berhenti mencari saat melihat sosok bertubuh kurus kering yang saat ini sedang berdiri di paling belakang bersandar di dinding sambil memandang ke depan.
"Rasa sakit mu tak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan Kinara." Ucap Shaka dalam hati.
__ADS_1
Pria ini pun mulai menyematkan cincin di jari Elina lalu mengecup kening Elina dengan begitu mesra. Sampai detik ini, Maheera menyaksikan sendiri acara pertunangan suaminya dengan perempuan lain.
Sampai acara selesai, tepat pukul satu malam Maheera berjalan pulang seorang diri karena jam segini sudah tidak ada lagi angkutan umum.
Rintik gerimis mulai jatuh membasahi bumi, tapi Maheera tidak peduli. Dalam hujan ia berjalan, dalam hujan ia menangis menumpahkan kesedihan dan penderitaan yang selama ini ia pikul.
"Masuk...!" Titah Shaka yang memberhentikan mobilnya tepat di samping Maheera.
"Aku basah, nanti mobil mu basah!" Ujar Maheera yang sudah menggigil kedinginan.
"Cepatlah!" Sentak Shaka emosi.
Mau tidak mau Maheera masuk kedalam mobil suaminya. Duduk dengan wajah menundukkan, menyembunyikan mata sembabnya.
"Meriah bukan acaranya?" Tanya Shaka tak berhati.
"Ya, sangat meriah!" Jawab Maheera dengan suara bergetar.
"Anak pembawa sial seperti mu mana bisa mendapatkan hal indah seperti itu," ucap Shaka.
Hening tak saling bicara sampai ke rumah. Maheera masuk lewat pintu belakang karena Shaka tidak mengizinkannya masuk lewat pintu utama. .
Bangun pagi-pagi karena Maheera mendapatkan shift pagi. Suhu tubuhnya panas, kepalanya pusing tapi Maheera tetap nekat berangkat kerja sedangkan Shaka masih lelap tidur di kamarnya.
Sedangkan pak Banu, pagi ini ribut sendiri saat mendapatkan kabar jika tadi malam Shaka melangsungkan pertunangan dengan wanita lain, itu artinya Shaka telah menduakan anaknya.
"Kenapa papah harus repot-repot mengurus urusan Shaka? Biarkan saja dia, itu hak dia." Ucap Diana yang sama sekali tidak peduli pada perasaan Maheera.
"Maheera anak kita mah, sedikit saja tolong beri rasa kasihan pada Maheera."
Diana tidak menjawab, wanita ini memutuskan untuk pergi berbelanja demi menghibur suasana hatinya.
Sedangkan Shaka yang baru bangun, harus segara bersiap-siap pergi ke kantor karena ia lupa jika hari ini ada meeting penting. Saat melintasi taman yang tak jauh dari komplek perumahan, tanpa sengaja Shaka melihat Maheera yang saat ini tidur di bangku taman.
"Maheera, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Shaka yang ternyata turun menghampiri istrinya.
__ADS_1
Perlahan Maheera membuka mata, di tatapnya sayu pria yang tak berperasaan ini.
"Tidur!" Jawab Maheera singkat apa lagi wajahnya begitu pucat.
"Gila, apa kau sudah gila tidur di tempat umum seperti ini? Membuat malu saja!"
"Iya, cukup aku saja yang gila, asal jangan kamu." Jawab Maheera dengan suara pelan.
Merasa penasaran yang melihat tubuh Maheera tak bergerak, Shaka menyentuh kening Maheera yang terasa panas.
"Jika kau sakit, pulanglah!" Ujar Shaka.
"Pergilah, mas. Jangan urusi aku!"
"Sombong!" Jawab Shaka kemudian pria ini pergi begitu saja.
Tanpa terasa air mata Maheera mengalir begitu saja.
"Tidak adakah secuil rasa iba mu melihat keadaan yang seperti ini, mas?" Lirih Maheera dalam kesakitan. "Tubuhnya begitu lelah, tapi Maheera memiliki tempat untuk bersandar selain dirinya sendiri.
Sementara itu, saat ini pak Banu sibuk mencari Shaka yang tak ada di mana-mana karena pak Banu ingin meminta penjelasan pada Shaka.
Sampai malam menjelang, Maheera tak memiliki tenaga masih tidur seperti orang gila di taman yang sepi ini.
" Maheera, kau benar-benar gila. Kenapa kau belum pulang juga hah?" Sergah Shaka yang tanpa sengaja melihat istrinya masih tidur di bangku taman.
Maheera tak menjawab, matanya terpejam.
"Maheera, bangun!" Shaka mengguncang tubuh istrinya tapi tetap saja Maheera tidak bangun. "Astaga, apa dia sudah mati?" Shaka mendadak panik.
Shaka mengecek hembusan nafas istrinya yang ternyata masih hidup. Tubuhnya dingin terkena angin malam, wajahnya masih pucat seperti tadi pagi. Mau tidak mau Shaka harus membawa Maheera pulang sebelum perempuan ini mati.
Deg.......
Sungguh ringan sampai Shaka sendiri terkejut saat menggendong tubuh kurus Maheera. Ada sedikit rasa iba saat Shaka melihat tulang bahu istrinya yang terlihat begitu jelas.
__ADS_1