Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 24


__ADS_3

"Melihat dari kondisimu sekarang, sepertinya kau tidak akan kembali pulang ke kota M. Aku merasa sangat sedih," ucap Gusti yang benar-benar merasa sedih.


"Banyak perempuan lain di luar sana, mas. Pilih salah satu dari mereka dan jangan mengharapkan aku," ujar Maheera yang sudah ia tegaskan dari awal.


"Apa karena kau sudah mencintai mantan suamimu?" Tanya Gusti menyelidik.


"Perihal perasaanku, cukup aku dan Tuhanku yang tahu. Jangan mengharapkan aku, mas." Sekali lagi Maheera menegaskan.


Gusti memaksakan senyumnya, entah kenapa hati wanita ini begitu keras pada pendiriannya. Pada akhirnya Gusti pulang dengan menelan rasa kecewa.


Maheera menghela nafas panjang, belum sempat ia masuk ke dalam rumah, mobil Shaka sudah memasuki pekarangan rumahnya.


"Apa dia sudah pulang?" Tanya Shaka penasaran. "Aku melihat mobilnya tadi." Ujar Shaka.


"Seharusnya kau mengatur jarak untuk bertemu denganku, mas. Aku tidak ingin terlalu sering bertemu denganmu." Ucap Maheera.


"Kau masih marah sama mas, Maheera. Kenapa hatimu begitu keras sampai seperti ini?"


"Selain pekerjaan, hanya membahas hal apa pun denganku, mas." Ucap Maheera yang berlalu masuk meninggalkan Shaka di luar.


Shaka membuang nafas panjang, setelah ia menabur garam di atas luka Maheera, sekarang ia harus berjuang untuk mendapatkan cinta dari Maheera.


Mau tidak mau Shaka pergi dari sana, entah apa yang harus ia tunjukkan pada Maheera agar perempuan itu yakin jika Shaka bisa membahagiakannya kelak.


Dua hari kemudian, untuk yang pertama kalinya Maheera menginjakan kaki ke perusahaan milik sang papah. Gedung yang menjulang tinggi ini membuat Maheera tiba-tiba saja menertawakan dirinya sendiri.


"Kenapa kau tertawa, Maheera?" Tanya Shaka yang merasa heran.


"Lihatlah, sangat tinggi dan besar gedung ini tapi hidupku sangat susah dulu. Tanpa aku ceritakan, mas Shaka pasti tahu apa yang aku maksud." Jawab Maheera.


"Sekarang semua ini milikmu," ucap Shaka.


"Entahlah mas, aku pusing. Harus ku mulai dari mana semua pekerjaan ini?" Tanya Maheera yang benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


"Mas akan mengajari kamu untuk mengelola perusahaan ini setelah kau bisa, mas akan melepaskan kamu bekerja sendiri." Ujar Shaka yang sebenarnya ini menjadi kesempatan bagi Shaka untuk dekat pada Maheera. "Maheera, kamu punya cita-cita liburan gak?"


"Tentu saja ada, dulu aku selalu memimpikan kebebasan dan sekarang aku mendapatkannya."

__ADS_1


"Kamu mau liburan sama mas gak?" Tawar Shaka membuat Maheera tertawa. "Kenapa tertawa?" Tanya Shaka.


"Bisa-bisanya liburan bersama mantan suami," ucap Maheera yang merasa lucu.


Shaka hanya bisa tersenyum tipis, entah kenapa ada perasaan yang tidak bisa ia jelaskan sekarang.


"Anggap saja aku sebagai kakakmu," ucap Shaka dengan berlapang dada.


Maheera hanya mengangkat kedua bahunya.


"Baiklah, kita pergi liburan nanti." Ujar Maheera.


"Mas pergi dulu sebentar," pamit Shaka langsung di iyakan oleh Maheera.


Maheera menatap punggung pria yang selama ini membuat Maheera merasa serba salah.


"Sebenarnya kau laki-laki yang baik, mas. Kak Nara sangat beruntung mendapatkan laki-laki sepertimu. Hanya saja kau terlalu sakit menambahkan luka di hatiku." Ucap Maheera yang kembali merasa sedih. "Kenapa aku harus sedih? Aku harus bisa bahagia sekarang."


Tidak sampai sepuluh menit Shaka pergi, pria ini kembali lagi ke ruangan Maheera. Mengajari Maheera bagaimana cara kerja perusahaan milik pak Banu sekarang sampai membuat Maheera merasa pusing.


"Banget!" Jawab Maheera singkat.


"Ya udah, kita istirahat makan siang dulu." Ujar Shaka.


"Kita pergi sekarang, ya mas!" Ajak Maheera yang ingin cepat-cepat mengisi perutnya.


Bergegas mereka pergi, Shaka mengajak Maheera ke salah satu restoran yang berada tidak jauh dari kantor pak Banu.


"Kamu pesan apa?" Tanya Shaka sambil membolak balik buku menu.


"Samain aja, mas!" Jawab Maheera.


Terserah Shaka, pria ini pun memesan dua menu makan siang yang sama begitu juga dengan minumannya.


"Shaka....!" Sapa suara langsung di balas Shaka.


"Emir, kebetulan sekali kita bertemu di sini." Ucap Shaka yang senang melihat temannya.

__ADS_1


"Baru ingin makan atau sudah selesai?" Tanya Emir.


"Oh, sedang menunggu pesanan." Jawab Shaka.


Emir melirik Maheera yang sejak tadi diam saja.


"Siapa? Pacar atau calon istri?" Tanya Emir yang penasaran.


Shaka mulai bingung ingin menjawab apa tentang Maheera.


"Aku adiknya mas Shaka," jawab Maheera seketika membuat hati Shaka terasa nyeri.


Emir mengerutkan keningnya, setahu Emir, temannya ini tidak memiliki adik perempuan.


"Serius adik?" Tanya Emir tidak percaya.


"Iya, kami kakak adik. Kenalin, namanya Maheera." Ucap Shaka yang memperkenalkan.


Maheera dan Emir berjabat tangan, lalu Maheera duduk kembali.


"Boleh aku gabung bersama kalian untuk makan siang?" Izin Emir langsung duduk berhadapan dengan Maheera.


Mereka pun makan siang bersama, Emir yang humoris lebih cepat akrab dengan Maheera. Tentu saja hal ini membuat Shaka cemburu melihatnya karena Emir bisa membuat Maheera tertawa dengan candaannya.


Yang lebih membuat Shaka semakin cemburu saat Emir dan Maheera bertukar nomor ponsel tepat di hadapan Shaka.


Selesai makan siang, mereka kembali ke kantor.


"Mas Emir itu berteman juga ya dengan kak Nara?" Tanya Maheera yang penasaran.


"Iya, hanya saja Emir dulu pindah sekolah ke luar kota dan kuliah pun di luar kota." Jawab Shaka.


"Orangnya lucu, suka bercanda pula." Puji Maheera membuat Shaka terdiam.


Suasana mobil menjadi hening.


"Kau memuji pria lain di hadapan aku, mantan suamimu yang tidak berguna ini." Ucap Shaka dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2