
"Maaf mas, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku mau kita putus!" Ucap Maheera sangat membuat Emir terkejut.
Emir ingin meraih tangan Maheera, tapi dengan cepat Maheera menyembunyikan tangannya.
"Tapi kenapa? Mas sayang sama kamu!" Emir tidak terima.
"Kita baru satu minggu pacaran tapi kau sudah terlalu banyak aturan dan kau mengekangku. Aku tidak bisa!" Jawab Maheera.
"Halah... bilang aja kalau kamu ada pria lain!" Tuduh Emir.
"Selain kamu, aku tidak pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun. Aku benar-benar tidak bisa menjalin hubungan yang banyak aturan seperti itu."
"Aturan yang mana? Semua aturan yang aku buat demi hubungan kita. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu, Maheera." Ucapnya yang keras kepala.
"Tapi, aku merasa tidak nyaman. Kita akhiri saja, aku tidak sanggup menjalankan aturanmu." Sahut Maheera yang kekeh pada pendirinya.
Tidak ingin mendengarkan penjelasan dari Emir, pada akhirnya Maheera memutuskan untuk pergi. Bahkan, ia tidak peduli jika saat ini Emir mengejarnya.
Aaaaargh.... "Brengsek!" Umpat Emir yang emosi.
Entah sudah yang berapa banyak perempuan yang memutuskan hubungan dengan dirinya sebab aturan yang ia buat sendiri.
Emir pun mengajak Shaka bertemu, ia ingin bertanya pada Shaka tentang Maheera di belakang dirinya. Bertemu di salah satu cafe coffee, kedua pria ini mengobrol di sana.
"Aku di putuskan Maheera." Adunya pada Shaka.
Shaka tidak terkejut mendengarnya, pria ini sudah bisa menebak sebelumnya.
"Seharusnya kau bisa belajar dari hubunganmu sebelumnya. Kau terlalu banyak mengatur pasanganmu sedangkan kalian sendiri baru saja pacaran." Ucap Shaka yang berusaha membuka pikiran Emir.
"Apa yang aku lakukan semua demi menjaga hubunganku, apa semua itu salah?"
"Tentu saja salah!" Jawab Shaka tegas. "Siapa pun tidak mau di kekang seperti itu. Sekarang begini, kalau kau yang di kekang bagaimana?" Shaka bertanya balik.
Emir terdiam sejenak.
"Tapi, itu sudah menjadi prinsip hidupku." Ucap Emir membuat Shaka menghela nafas pelan.
"Kalau seperti itu prinsipmu dan tidak bisa di ubah, silahkan nikmati jodohmu!" Ucap Shaka yang sudah angkat tangan. "Kalau begitu aku pergi dulu!" Pamit Shaka kemudian pria ini langsung pergi begitu saja.
Tinggallah Emir seorang diri, hatinya masih tidak terima saat Maheera memutuskan dirinya secara sepihak. Emir sudah terlanjur mencintai Maheera.
Sedangkan Shaka saat ini pergi menemui Maheera yang baru saja sampai di rumahnya. Melihat kedatangan Shaka, entah kenapa ada perasaan senang di hati Maheera.
"Pergi, yuk!" Ajak Shaka.
__ADS_1
"Kemana?" Tanya Maheera.
"Kemana aja, mumpung libur kerja!" Jawabnya.
Tidak menolak, Maheera langsung masuk ke dalam mobil Shaka. Mereka pun pergi jalan-jalan yang belum tahu arah dan tujuan.
"Malam ini pergi sama, mas ya?" Ajak Shaka.
"Kemana?" Tanya Maheera yang penasaran.
"Di ajak papah dan mamah makan malam di restoran apung." Jawab Shaka.
Sejenak Maheera terdiam, sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan mantan mertuanya itu.
"Gimana?" Tanya Shaka memastikan.
Maheera tersenyum lalu menjawab. "Iya, boleh. Dari pafa di rumah sendiri, bosan!"
Berbunga-bunga hati Shaka, perlahan namun pasti hati Maheera yang dulu keras sekarang mulai melunak.
Maheera tidak mengingat-ingat Emir lagi, perasaannya masih sangat ilfil pada pria itu.
"Seharusnya kamu belajar mengemudi mobil, Ra." Ujar Shaka memberi saran. "Mobil almarhum papahmu ada beberapa yang sudah lama tidak di gunakan."
"Jual aja lah, mas. Papah punya empat mobil dan siapa yang mau menggunakannya?"
"Belajar sama kamu lagi?" Tanya Maheera.
"Boleh, sama mas atau pak Saiful juga tidak masalah." Jawab Shaka tapi pria ini berharap jika Maheera memilih dirinya.
"Ngapain kita ke dermaga, mas?" Tanya Maheera yang merasa heran.
"Nggak apa-apa, cari angin aja." Jawab Shaka lalu mereka keluar dari mobil.
Duduk berjuntai kaki sampai menyentuh air, keduanya merasa sangat senang sekali.
"Masih ada niatan pacaran lagi?" Tanya Shaka yang penasaran.
"Nggak, trauma. Sekalinya pacaran nemu yang seperti itu. Mau tidur aja susah, banyak drama. Wajib video call sampai aku benar-benar tidur."
Shaka tertawa mendengar cerita Maheera.
"Makanya, sama mas aja!" Ujar Shaka yang memancing.
"Seandainya aku sama mas Shaka, apa jaminannya?" Tanya Maheera terdengar serius. "Mas nggak akan tunangan sama perempuan lain di saat mas masih suami orang, kan?" Imbuhnya.
__ADS_1
Shaka tertunduk malu.
"Enggak, mas janji akan bahagiakan kamu. Cinta mas ke Kinara sama kamu jelas berbeda," ucap Shaka.
"Kenapa beda?" Tanya Maheera lagi.
"Ya beda aja, kamu sudah terlalu dalam memeluk luka bahkan mas sendiri pernah ikut ambil dalam menambah luka. Oleh sebab itu mas ingin jadi obat dari luka kamu."
"Kau yang membuat luka, kau juga yang ingin mengobati. Sebercanda ini kah takdir?"
"Ra....!" Lirih Shaka.
"Sejak sore itu, entah kenapa aku mulai menaruh kepercayaan kepadamu, mas." Ucap Maheera terdengar serius.
"Sore kapan?" Tanya Shaka yang merasa heran.
"Sore, saat kita di pemakaman kak Nara. Aku mendengar semua yang kau ucapkan." Ujar Maheera sontak saja membuat Shaka terkejut.
Wajah lelaki ini mulai sibuk membuang pandangan.
"Kenapa gugup, mas?" Goda Maheera.
"Tidak baik menguping pembicaraan orang, Ra." Ucap Shaka membuat Maheera tertawa. "Kenapa tertawa?" Protes Shaka.
Maheera tidak menanggapi, perempuan ini beranjak dari duduknya kemudian membeli dua minuman dingin yang berada tak jauh dari mereka.
"Sejak kapan kau mencintai aku, mas?" Tanya Maheera seraya menatap kedua mata elang milik Shaka sampai membuat pria ini merasa gugup.
"Sejak malam itu, malam kau memutuskan untuk pergi." Jawab Shaka.
"Sudah dua tahun lewat, apakah itu menjadi alasanmu untuk tidak menikah, mas?" Tanya Maheera lagi.
"Jika dalam waktu satu tahun lalu ini mas nggak bisa menikah sama kamu, mau tidak mau mas harus menikah dengan perempuan pilihan papah dan mamah." Ucap Shaka memberitahu. "Ra, mas nggak akan memaksa kamu untuk kembali dengan mas, sekarang. Tapi, dengan siapa pun kita bersanding kelak, cinta mas hanya untuk kamu."
"Tolong jangan menjalin hubungan jika kau belum selesai dengan masa lalumu, mas. Sebab akan ada hati yang akan terluka nanti." Ucap Maheera memperingati.
Shaka terdiam.
"Aku mulai merasa nyaman saat bersamamu, mas." Ucap Maheera jujur. Tentu saja hal ini membuat Shaka sangat terkejut mendengarnya tapi ia juga merasa senang.
"Jangan bercanda soal hati, Maheera. Mas udah nunggu kamu hampir tiga tahun." Ujar Shaka. "Jangan memberi harapan yang tinggi dengan perkataanmu, mas sudah terlalu dalam mencintai kamu."
"Aku serius, mas!" Jawab Maheera.
"Jika serius, kenapa kau menerima cinta Emir?" Tanya Shaka meminta alasan.
__ADS_1
"Karena aku ingin belajar mencintai seseorang, tapi nyatanya malah seperti itu. Membuatku trauma saja!" Jawabnya seketika membuat Shaka tertawa.