Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 11


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu dan hari ini Maheera baru saja mendapatkan pekerjaan di salah satu cafe yang berada tak jauh dari kontrakannya.


Di kenal sebagai kota wisata yang menyajikan pemandangan sangat indah dan udara sejuk, Maheera mulai betah pada kehidupan yang barunya sekarang.


"Kehidupan yang baru, semoga semesta mengizinkan aku untuk bahagia meski aku tahu tak akan mudah menyembuhkan luka." Ucap Maheera pada dirinya sendiri.


Kembali memupuk semangat setelah apa yang terjadi satu minggu yang lalu. Maheera sadar jika hidup harus terus berjalan dan di nikmati bukan di akhiri dengan cara yang tragis.


"Hai....!!" Sapa seorang pria yang bernama Dimas. "Siapa namamu?" Tanya Dimas.


"Maheera," jawab Maheera singkat.


"Semoga kau betah bekerja di cafe ini mengingat bos kita sedikit dingin dan galak." Ucap Dimas berbisik.


"Pak Gusti maksudnya?" Tanya Maheera penasaran karena saat wawancara kemarin, ia langsung bertemu dengan pemilik cafe ini.


"Dia masih dua puluh delapan tahun, jangan memanggilnya pak karena dia lebih senang di panggil bos." Kata Dimas memberitahu. "Bos Gusti memiliki delapan cabang cafe." Imbuh Dimas lagi.


"Terimakasih sudah memberitahu ku," ucap Maheera.


Keduanya tampak akrab, Dimas sangat asyik di ajak bicara. Untuk beberapa saat Maheera bisa melupakan kesedihannya.


Sementara itu, saat ini Shaka sedang pusing karena Elina terus merayunya agar pria ini mau membelikannya sebuah tas branded dengan harga yang cukup mahal.


"Aku heran dengan perempuan sejenis mu, kenapa kau suka membeli barang-barang tak berguna seperti itu?"


"Sayang, kamu ini kenapa sih? Sama calon istri aja pelit banget!"


Shaka hanya diam, sebenarnya pria ini malas mengeluarkan uang untuk perempuan seperti Elina.


"Elina....!!" Panggil Shaka.


"Iya sayang, ada apa?"


"Mari kita batalkan pertunangan ini." Ucap Shaka begitu dingin membuat Elina sangat terkejut.


"Shaka, apa maksud mu hah? Jangan main-main, kita baru saja bertunangan." Elina tidak terima.


"Aku tidak pernah menyukai apa lagi mencintaimu. Jujur saja, sebenarnya aku sudah menikah!" Ucap Shaka semakin membuat Elina syok.


"Pembohong!" Seru Shaka.


"Aku tidak bohong!" Jawab Shaka terus terang. "Pertunangan kita semata-mata untuk membuat istri ku cemburu saja. Kami menikah sudah tiga bulan."


Elina malah menertawakan Shaka.

__ADS_1


"Itu artinya setelah Kinara meninggal?" Tanyanya tidak percaya.


"Sebelum Kinara meninggal. Intinya sekarang aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini." Ucap Shaka tegas.


Elina mulai emosi, wanita tidak mau hubungannya dan Shaka berakhir tanpa alasan yang jelas.


Shaka tidak peduli, pria ini pergi begitu saja tanpa menghiraukan jerit tangis Elina yang membuat semua pengunjung restoran menoleh ke arahnya.


Shaka memutuskan untuk pulang, dikemasi semua barang-barang karena Shaka sudah memutuskan untuk menjual rumah yang sebenarnya untuk Kinara.


"Maaf Kinara, aku harus menjual rumah ini. Aku tidak ingin berlarut-larut memikirkan mu sampai aku menyakiti perasaan orang lain." Ucap Shaka yang sebenarnya sedih.


Shaka menarik nafas dalam-dalam lalu membuang pelan. Dadanya kembali terasa sesak mana kala mengingat Kinara yang tanpa tanda-tanda meninggalkannya secepat itu.


"Aku akan menepati janji padamu, Kinara. Aku akan mencintai dan membahagiakan Maheera. Aku berjanji padamu, Kinara." Ucap Shaka yang tanpa terasa pria ini kembali menangisi kepergian Kinara.


Puas menangis, Shaka mencuci wajahnya setelah itu ia kembali pulang ke rumah kedua orang tuanya.


"Shaka....!!" Panggil bu Hesti menghentikan langkah Shaka yang sedang menggeret koper.


"Ada apa mah?" Tanya Shaka dengan raut wajah lesu.


"Kenapa kau membatalkan pertunangan mu secara sepihak dengan Elina?"


"Karena aku tidak mencintainya!" Jawab Shaka jujur.


"Aku sudah menikah mah, apa salahnya jika aku belajar mencintai istriku?"


"Istri yang mana? Maheera? Dimana dia sekarang? Shaka, Maheera itu hanya perempuan rendah tidak berbobot meskipun keluarganya kaya. Apa kata orang jika kamu anak mamah dan papah laki-laki satu-satunya memiliki istri seperti itu?"


"Mah,....!!" Shaka meninggikan suaranya. "Apa pun tentang Maheera, tolong jangan katakan hal jelek." Pinta Shaka memohon.


"Sampai kapan pun mamah tidak akan pernah menyetujui pernikahan mu dan Maheera. Lagian, kenapa kau sangat bodoh mau mengikuti permintaan Kinara hah?"


"Terserah apa kata mamah, masalah hati itu urusan ku dan kalian tidak berhak mengatur ku!" Ucap Shaka kemudian pria ini memutuskan untuk pergi lagi dengan membawa pakaiannya.


Hesti mendengus kesal, ia langsung menghubungi suami untuk memberitahu tentang Shaka.


Di tempat yang berbeda, sepulang dari bekerja Dimas mengajak Maheera pergi jalan-jalan untuk mengenal tempat di sana.


Maheera sangat senang, baru sekarang ia bisa mengenal tempat baru.


"Loh, hujan...!" Kata Dimas yang langsung mengajak Maheera berteduh di depan ruko.


"Padahal pemandangan malam ini sangat bagus. Aku suka kota ini, tempatnya sejuk." Ucap Maheera senang.

__ADS_1


"Kapan-kapan kalau kita masuk shift malam, siangnya aku akan mengajak mu ketempat wisata. Pasti aku suka!"


"Terimakasih Dimas," ucap Maheera.


Hujan turun semakin deras, Dimas dan Maheera tidak bisa pulang apa lagi saat ini mereka hanya berjalan kaki.


"Apa tempat tinggal mu jauh dari sini, Dimas?" Tanya Maheera penasaran.


"Lumayan, rumah ku sebenarnya berada di balik tembok cafe." Jawab Dimas.


"Tetap aja kita satu arah!" Jawab Maheera kemudian tertawa.


Tiba-tiba saja ada sebuah mobil berwarna putih menghampiri Dimas dan Maheera.


"Dimas, ngapain kalian dia situ?" Tanya pria di dalam mobil yang tak lain adalah gusti.


"Niatnya mau ngajak Maheera jalan-jalan bos." Jawab Dimas jujur.


"Ini kan sudah malam, kenapa tidak besok saja?"


Dimas hanya tertawa.


"Cepat masuk, aku akan mengantar kalian pulang!" Titah Gusti.


Tanpa menolak, Dimas mengajak Maheera masuk kedalam mobil bos mereka. Gusti mengantar Dimas pulang lebih dulu.


"Makasih mas bos." Ucap Dimas yang sudah biasa pada Gusti.


"Awas aja datang terlambat besok!" Ancam Gusti.


Dimas melambaikan tangan saat Gusti menaikan kaca jendela mobilnya. Tinggallah Maheera seorang diri dengan perasaan canggung.


"Di mana kamu tinggal?" Tanya Gusti.


"Di kontrakan kencana emas gang berlian, pak." Jawab Maheera.


Gusti yang mengetahui tempat tersebut langsung mengantarkan Maheera pulang. Hening tidak ada pembicaraan sampai mobil Gusti berada di ujung gang.


"Terimakasih pak," ucap Maheera.


"Pakai payung ini, hujan sangat deras." Ujar Gusti seraya memberikan payung lipat pada Maheera.


Maheera tersenyum lalu berkata. "Terimakasih pak."


Gusti mengangguk, Maheera pun keluar dari mobil. Hujan dan angin yang lumayan kencang membuat Gusti merasa khawatir pada Maheera yang berjalan sendirian karena jarak dari jalan besar menuju kontrakan sekitar seratus meteran.

__ADS_1


Terus memperhatikan Maheera sampai gadis itu menghilang di ujung gang barulah Gusti pergi dari sana.


__ADS_2