
Saat ini Shaka tengah sibuk memperhatikan Maheera yang tengah sibuk menandatangani beberapa berkas, tidak lupa menelitinya terlebih dahulu sebelum di tanda tangani.
Meskipun pendidikan Maheera tidak tinggi, tapi ia sangat pintar bahkan bisa dengan cepat menguasai pekerjaan barunya sekarang.
"Berhenti melihatku seperti itu, mas. Aku merasa terganggu!" Tegur Maheera.
"Melihat istri sendiri pun tidak boleh!" Jawab Shaka.
"Nggak ada kerjaan deh!" Seru Maheera.
"Ternyata benar ya, cinta itu milik orang yang mau berjuang." Ucap Shaka. "Jujur aja, sebenarnya dulu kamu itu mencintai mas, iyakan?"
Maheera menghentikan pergerakan tangannya.
"Sedang menebak atau bertanya?" Tanya Maheera.
"Keduanya!" Jawab Shaka.
"Aku tidak ingin menjawabnya, mas. Ada baiknya kita pergi makan siang, aku sudah lapar." Ajak Maheera.
"Ya udah, ayo...!" Ajak Shaka.
__ADS_1
Maheera membereskan pekerjaannya sebentar kemudian langsung pergi bersama suaminya.
Makan di restoran langganan mereka, entah kenapa Shaka merasa heran pada Maheera yang suka sekali makan udang.
"Mas nggak suka makan udang, kok kamu bisa sih suka makan udang seperti ini?" Tanya Shaka yang merasa heran karena hampir setiap hari Maheera makan udang dengan menu yang berbeda.
"Dulu, saat aku kecil, aku pernah di pukul sama mamah Diana karena aku ketahuan memakan udang goreng di meja makan. Lalu, apa salahnya jika aku memuaskan diri sekarang?"
Shaka tidak bisa menjawab, pria ini tidak bisa membayangkan seberapa berat hidup Maheera dulu.
"Hai, Shaka!" Sapa Suara seketika membuat Shaka dan Maheera langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Mau apa kau?" Tegur Shaka.
"Kalau dapat adiknya, kenapa memangnya? Ada merugikan dirimu kah?" Sahut Maheera yang kesal.
"Pergilah dan jangan membuat keributan di sini." Usir Shaka.
Elina tersenyum lalu berkata. "Aku masih ingat di saat kau membuangku seperti sampah. Aku tidak akan membiarkan rumah tanggamu bahagia."
Wanita ini pun langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
"Mas minta maaf." Ucap Shaka tapi Maheera hanya diam. "Sayang....!!"
Maheera memaksakan senyumnya.
"Aku kenyang, mas!" Ucap Maheera yang tiba-tiba saja hatinya merasa kelu ingat kejadian beberapa waktu yang lalu saat ia menjadi pelayan di acara pesta pertunangan suaminya dulu. "Tapi, sayang sekali tidak di habiskan. Ya udahlah, lanjut makan lagi." Imbuhnya.
Shaka hanya bisa mengusap lembut pucuk kepala istrinya. Selesai makan siang, mereka langsung kembali ke kantor.
"Lihat saja, aku akan menjadi benalu dalam rumah tanggamu." Ucap Elina yang ternyata memantau Shaka dan Maheera.
Padahal Elina sendiri sudah menikah, memiliki suami dan seorang anak yang baru berusia satu tahun.
"Kamu cemburu sama Elina?" Tanya Shaka begitu bodohnya.
"Enggak, ngapain cemburu? Kamu dan dia tidak akan mungkin untuk bersatu. Iyakan?"
"Nggak akan, sekarang mas cuma cinta sama kamu. Mas nggak mau kalau pengorbanan mas selama ini sia-sia." Jawab Shaka.
"Aku telah meletakan sebuah kepercayaan yang sangat besar padamu, mas. Andai kau hancurkan kepercayaanku, aku bersumpah akan selalu mengutukmu sepanjang hidupku." Ancam Maheera terdengar sangat serius.
"Aku pernah melakukan kebodohan yang membuat kita semua berantakan, percayalah padaku, Maheera. Aku serius mencintaimu, aku tidak akan menyakitimu. Mungkin takdir Tuhan memang seperti ini, kita adalah jodoh yang di pilih dengan jalan yang berbeda." Ucap Shaka seraya menatap wajah Maheera.
__ADS_1
Seketika suasana ruangan menjadi hening, suami istri ini saling tatap seolah bicara dalam dalam batin.