Bukan Pengantin Pengganti

Bukan Pengantin Pengganti
Chapter 38


__ADS_3

Dan benar saja, satu minggu kemudian Maheera mendapatkan surat panggilan dari pengadilan. Bu Diana benar-benar menuntut harta peninggalan dari almarhum pak Banu.


Shaka yang di bantu seorang pengacara langsung mengumpulkan bukti agar Bu Diana tidak bisa menuntut harta milik Maheera. Surat wasiat adalah bukti yang paling kuat apa lagi surat wasiat tersebut di ketahui oleh beberapa orang sebagai saksi.


"Jangan terlalu di pikirkan, tante Diana tidak akan mendapatkan apa pun dari peninggalan papahmu." Ucap Shaka yang berusaha menenangkan Maheera.


"Aku cuma malas aja bertemu dengan mamah Diana." Sahut Maheera. "Takut di pukuli sama mamah." Ucap Maheera yang ingat pada masa lalunya.


Sejenak Shaka terdiam, pria ini tahu betul bagaimana kasar dan kerasnya Bu Diana pada Maheera.


"Nggak usah di ingat, kita pergi yuk!" Ajak Shaka.


"kemana?" Tanya Maheera.


"Ke mall, dari pada di rumah bikin kamu melamun aja!"


Maheera mengangkat kedua bahunya kemudian ia ikut pergi bersama suaminya. Sungguh, Shaka sangat menyayangi Maheera sampai terbesit dalam benaknya jika Shaka takut kehilangan Maheera.


"Kamu pengen beli apa?" Tanya Shaka sesaat setelah mereka sampai ke mall.


"Makan aja deh mas, aku malas beli barang-barang apa lagi jarang di pakai." Jawab Maheera.

__ADS_1


Tiba-tiba langkah Shaka terhenti, begitu juga dengan Maheera karena mereka berdua di hadang oleh Emir yang saat ini tengah menggandeng seorang perempuan.


"Bahagia sekali kalian ini," tegur Emir. "Hai, Maheera. Lihatlah, aku masih bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih cantik dari pada kamu." Ucap Emir dengan sombongnya.


"Ya, semoga langgeng sampai ke pelaminan." Jawab Maheera. "Mbak, kapan kalian memulai hubungan?" Tanya Maheera yang penasaran.


"Baru aja, kenapa memangnya?" Ketus perempuan tersebut.


Maheera dan Shaka saling toleh lalu tertawa.


"Semoga betah ya, mbak!" Ucap Shaka mendoakan.


"Aku menikahi Maheera setelah kalian putus, jadi aku bukan pengkhianat. Sayang ayo pergi....!" Ajak Shaka pada istrinya.


Emir mengepalkan kedua tangannya, dendam bukan karena masih cinta pada Maheera melainkan ia merasa sangat terhina atas tindakan Maheera dan Shaka, tapi Emir lupa pada sikapnya yang selalu mengatur pasangannya.


"Sayang, yuk taruhan!" Ajak Shaka.


"Taruhan apa, mas?" Tanya Maheera.


"Berapa lama mereka berpacaran?"

__ADS_1


"Dua hari...!!" Jawab Maheera.


"Ok. Satu hari. Kalau kamu kalah, kamu main di atas. Kalau mas yang kalah, mas akan menyapu dan mengepel seluruh rumah kita." Ujar Shaka langsung di terima oleh Maheera.


"Tapi, bagaimana caranya kita tahu mereka putus atau tidaknya?" Tanya Maheera yang bingung.


"Biasanya setelah putus, Emir akan mengungkapkannya di media sosial." Jawab Shaka.


Maheera masa bodoh, perempuan ini menarik tangan suaminya masuk ke dalam restoran yang menjadikan makanan dari negara K.


Keduanya makan di sana, sebelum memiliki anak, Shaka hanya ingin berduaan, memanjakan Maheera. Selesai makan, mereka kembali mengelilingi mall tanpa membeli barang apa pun setelah itu pergi ke taman kota. Duduk berdua menikmati ice cream.


"Kalian lihat pasangan berdua di sana?" Tunjuk Elina pada Shaka dan Maheera.


"Apakah mereka target kami?" Tanya pria berambut panjang ini.


"Hajar suaminya lalu culik istrinya. Buat perempuan itu menderita." Titah Elina pada preman tersebut.


"Berikan uang muka!" Pintanya.


Elina pun langsung mengeluarkan sejumlah uang lalu ia berikan pada ketiga preman tersebut. Perempuan itu pun menutup kaca mobilnya kemudian pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2