
"Pulang sama papah, nak. Ayo pulang, jangan pergi lagi. Papah menyesal, maafkan papah yang tidak bisa berlaku adil ini." Ucap Pak Banu dengan isak tangisnya tepat di dalam cafe milik Gusti.
Melihat kejadian ini, mau tidak mau Gusti menutup Cafe nya, membiarkan Maheera menyelesaikan masalah pribadinya.
"Pulang? Aku tidak memiliki rumah yang nyaman untuk berpulang. Biarkan aku seperti ini, bahagia dengan cara ku sendiri." Ujar Maheera yang tak ingin melihat wajah keriput papahnya.
"Papah telah bercerai dari mamah," ucap pak Banu memberitahu.
"Dia bukan mamahku!" Seru Maheera menolak. "Dua puluh empat tahun aku hidup, kalian merahasiakan siapa ibu kandungku. Memperlakukan aku layaknya anak tiri padahal aku anak kandung papah sendiri. Aku sudah dua puluh enam tahun, sudah dewasa dan aku berhak menentukan jalan hidup ku sendiri." Tutur Maheera panjang.
"Jangan seperti itu, Maheera. Ayo pulang bersama papah. Kamu minta apa aja papah turutin. Kamu ingin melanjutkan pendidikan mu ke luar Negeri, ayo papah antar nak." Bujuk pak Banu.
Maheera menoleh ke arah pak Banu dengan mata berkaca-kaca lalu bertanya. "Dimana makam mamah ku?"
"Papah akan memberitahu jika kau ikut pulang bersama papah." Sekali lagi pak Banu merayu.
"Kalau kamu gak mau pulang sama papah, pulang sama mas aja ya?" Shaka ikut merayu.
"Kita telah berakhir mas, aku tidak ingin bersama mu. Kau hanya milik kak Nara, sampai kapan pun hanya milik kak Nara." Tolak Maheera yang keras kepala.
Shaka menghela nafas panjang, bagaimana lagi caranya ia membujuk Maheera agar mau pulang bersamanya.
"Pulanglah pah, aku tidak ingin melihat papah ada di sini. Mas Shaka juga pulang aja. Aku ingin melihat kalian semua!"
Maheera pun memutuskan untuk pergi, Shaka berusaha mengejar dan Gusti juga ikut mengejar.
Di sudut ruangan ada Dimas dan Maya yang masih setia bertahan di sana. Beberapa orang karyawan juga ada di sana menguping pembicaraan karena mereka penasaran.
"Gila, Maheera ternyata anak orang kaya yang bermasalah. Bisa-bisanya dia mau jadi pelayan di cafe ini." Ucap Maya yang tidak menyangka dengan kehidupan Maya.
"Itu lah hidup, yang nyatanya kita lihat baik-baik aja ternyata berusaha menyimpan luka dengan tawanya." Sahut Dimas.
Dimas yang dekat dengan Maheera saja tidak tahu mengenai kehidupan pribadinya. Begitu pandai Maheera menyimpan lukanya sampai semua orang mengira dia baik-baik saja.
Di luar cafe, Gusti menahan Shaka agar tidak mengejar Maheera. Tentu saja hal ini membuat Shaka merasa kesal dan emosi.
__ADS_1
"Kenapa kau menahan ku?" Tanya Shaka dengan mimik wajah dingin tak bersahabat.
"Biarkan dia sendiri," ucap Gusti.
"Aku suami Maheera, kau tidak berhak melarang ku." Ucapan Shaka tentu saja membuat Gusti terkejut bahkan pria ini mundur selangkah..
"Kau benar suami Maheera?" Tanyanya tidak percaya.
"Ya. Kami menikah dua tahun lalu, kenapa? Apa kau menyukai istriku?" Shaka bertanya balik.
Shaka tidak menunggu jawaban dari Gusti, pria ini pun mengejar Maheera ke kontrakannya.
Berulang kali Shaka mengetuk pintu kontrakan, untung saja pagi seperti ini suasana sangat sepi karena semua orang pergi bekerja. Sayup-sayup Shaka mendengar suara isak tangis Maheera di dalam.
"Maheera, buka. Kalau kamu gak buka pintu ini, mas hancurkan pintu ini." Ancam Shaka.
Tak ada jawaban, tapi Maheera membuka pintu. Belum sempat Maheera melayangkan protesnya, Shaka langsung menerobos masuk kedalam.
"Kau mau apa lagi mas? Kurang puas menyakiti aku?"
"Sekali saja, beri mas kesempatan." Pinta Shaka.
"Tapi mas mencintaimu dalam penyesalan, Maheera. Terdengar bohong di telinga mu tapi memang begitu kenyataannya. Dua tahun mas selalu menunggu kamu pulang, dua tahun mas cari kamu kemana-mana. Pulang sama mas, ya. Tempat kamu bukan di sini." Sekali lagi Shaka merayu.
Maheera tidak menjawab, perempuan ini hanya duduk memeluk kakinya sambil menangis. Shaka semakin menyesal melihat keadaan Maheera yang seperti ini. Tinggal di kontrakan kecil dan pengap bahkan tak ada jendela.
"Jangan bicara soal amanah, kita bicarakan soal hati ke hati. Mencintaimu dan merindukanmu, membuat mas sakit menunggu kepulangan mu selama ini." Ucap Shaka.
"Atas apa yang kalian lakukan selama ini padaku. Menurut mu, apa pantas jika aku memaafkan kalian terutama kamu?"
Shaka melangkah maju, duduk di hadapan Maheera lalu meraih tangan Maheera, tapi dengan cepat ditepisnya.
"Sekali saja, beri mas kesempatan untuk membahagiakan kamu. Seandainya jika kamu tidak bahagia, mas akan ceraikan kamu seperti yang kamu minta." Ucap Shaka yang memberi pilihan. Terpaksa, demi membujuk Maheera pulang.
Maheera tidak menggubris, ia sendiri bingung ingin melangkah seperti apa sekarang. Di luar Kontrakan, Gusti menguping pembicaraan Shaka dan Maheera. Hatinya mendadak kacau, ternyata perempuan yang selama ini ia tunggu telah memiliki suami.
__ADS_1
"Beri mas jawaban, Maheera." Desak Shaka tidak sabar.
"Pergilah mas, temui aku dua hari lagi dan aku akan memberimu jawaban." Ujar Maheera.
"Itu sangat lama, mas gak mau!" Tolak Shaka.
"Iya atau tidak sama sekali...?" Ancam Maheera.
Shaka membuang nafas kasar, pria ini bangkit dari duduknya lalu membuka dompet dan mengeluarkan sejumlah uang.
"Jangan kerja lagi, beli makanan yang enak. Dua hari lagi mas akan datang!" Kata Shaka seraya memberikan uang tersebut pada Maheera.
"Bawa uang mu, mas. Bukankah kau telah bersumpah untuk tidak menafkahi aku?"
Shaka kembali duduk, rasanya gemas sekali merasakan sikap keras kepala perempuan ini.
"Kali ini tidak, mas akan nafkahi kamu. Ambilah, jika tidak mas tidak akan pergi."
Maheera mendengus kesal, di usapnya air mata lalu ia meremas uang pemberian Shaka.
"Aku sudah mengambilnya, sekarang pergilah. Aku ingin sendiri. Bilang sama papah, pulanglah."
"Kau masih peduli pada papah mu, Maheera." Sahut Shaka.
"Itu karena aku tidak ingin melihat dia." Jawab Maheera. "Cepat pergi...!"
Maheera menarik tangan Shaka, mendorong pria ini keluar dari kontrakannya. Shaka, mau tidak mau ia pergi dari sana, membiarkan Maheera berpikir.
Tok... Tok....
Belum sempat Maheera mengunci pintu, ada yang mengetuk pintu. Dengan perasaan kesal Maheera membukanya.
"Pergi mas.... pergi...!" Ucap Maheera yang salah orang.
Ternyata Gusti yang datang, keduanya saling tatap penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Bisa kita bicara sebentar, Maheera?" Pinta Gusti.
Maheera mengangguk, mereka pun duduk di bawah pohon yang ada di depan kontrakan. Kursi melingkari pohon, keduanya duduk saling berhadapan. Banyak hal yang ingin di tanyakan Gusti meskipun ia tahu jika kecewa yang akan dia dapat dari semua kebenaran.