Bukan Sekedar Rasa

Bukan Sekedar Rasa
Aulia


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Kenapa kamu melakukan nya?" tanya seorang laki laki yang kini sudah berdiri tepat di hadapan seorang gadis.


"Ustadz Yusuf," gumam gadis itu begitu lirih, hingga tanpa sadar ia sampai memundurkan langkah nya.


"Apakah dia menyakiti kamu?" tanya nya sekali lagi dengan ekspresi wajah datar.


"Tidak!" gadis itu menggelengkan kepala nya pelan.


"Lalu kenapa kamu menyakiti nya?"


Gadis itu menarik napas nya dengan cukup dalam, ia masih menundukkan kepala nya seolah takut untuk menatap laki laki di depan nya yang sejak tadi terus mendesak beberapa pertanyaan.


"Dia yang memulai nya, Us!" jawab gadis itu dengan cepat, namun juga dengan suara sedikit bergetar.


"Bisa tolong jelaskan?"


Terlihat gadis itu langsung menggigit bibir bawah nya, ia meremas ujung kerudung yang ia kenakan dengan perasaan yang sangat tidak menentu.

__ADS_1


"Buruan bilang, iks, lelet banget sih ah. Giliran bully aja cepet!" seru seorang gadis yang sejak tadi menemani kakak nya untuk menemui salah satu santri yang sudah mencelakai Eleena.


"Mai!" tegur Yusuf langsung menggelengkan kepala nya sambil menahan tangan adik nya agar tidak berulah.


Sebelumnya, Maira sudah mendatangi gadis yang kala itu memanggil Eleena agar menemui ustadzah Nuri ke kolam.


Dan ternyata, dia hanyalah seorang penyampai pesan dari pelaku utama. Dan setelah Maira menyelidiki ternyata memang benar. Bahwa apa yang di lakukan gadis itu terhadap Eleena karena sebuah rasa iri dan cemburu.


Tidak ingin lepas kontrol, akhirnya Yusuf memilih untuk mendampingi adik nya. Ia tidak mau terlalu ambil resiko, mengingat adik perempuan nya yang ini memang sedikit di luar nalar keajaiban nya.


Maka dari itu, sejak tadi Yusuf mencoba untuk maju lebih dulu dengan Maira yang di samping nya.


Eleena? Gadis itu masih beristirahat, sambil terus menghafal surat dan huruf hijaiyah nya di dalam kamar.


"Aulia—" panggil Yusuf dengan suara pelan namun penuh penekanan.


"Saya suka sama Ustadz!" ucap gadis bernama Aulia itu dengan cepat, "Dan saya tidak suka jika Eleena mendekati Ustadz. Bukan hanya Ustadz, namun juga Khalifa dan Umma. Saya tidak mau dia menggeser posisi saya hiks hiks hiks."


"Hah!" Seketika itu juga, Maira dan Yusuf mengerutkan dahinya, menatap bingung pada gadis bernama Aulia di depan nya.

__ADS_1


"Geser posisi? Emang nya kamu siapa? Kamu bukan istri kak Yusuf!" saut Maira dengan cepat karena merasa sangat geram, "Lagian, aku juga gak mau punya ipar lucknat kaya kamu!"


"Mai!" tegur Yusuf untuk kedua kalinya kepada sang adik agar bisa mengontrol emosi nya.


"Kan emang bener, dia siapa kakak sih? Emang kakak mau punya istri model dia? Ckckck kalau Maira sih ogah! Astaghfirullah, Maira juga yakin Abi dan Umma juga gak akan mau!"


"Iks, kakak tuh lelet juga tau gak. Jelas jelas dia itu ngelunjak, di kasih hati minta usus!" cetus Maira semakin menatap kesal pada sosok Aulia.


"Tapi perasaan saya ini tulus, Ustadz. Saya memang benar menyukai Ustadz, bahkan saya mencintai Ustadz." ucap Aulia dengan penuh keberanian menatap laki laki idaman nya, membuat Yusuf seketika langsung menggelengkan kepala nya.


"Astaghfirullah!" Yusuf menarik napas nya dengan cukup dalam sambil mengusap wajah nya.


"Ustads, saya minta maaf. Saya benar benar minta maaf, saya melakukan nya karena saya tidak ingin kehilangan Ustadz, saya mohon—"


"Aku akan mengadukan hal ini kepada Abi!" ancam Maira, yang tiba tiba langsung berlari meninggalkan keduanya begitu saja.


"Maira?" panggil Yusuf namun tak di hiraukan, oleh sang adik.


Yusuf tahu, jika hal ini bisa sampai terdengar di telinga ayah nya. Sudah pasti, Aulia tidak akan bisa bertahan lama di pondok. Pasti gadis itu akan langsung di pulangkan, atau paling tidak di pindahkan ke Pondok lain.

__ADS_1


"Maafkan saya Aulia, tapi saya benar benar tidak bisa membantu mu. Dan jika kamu benar tulus menyesali perbuatan kamu, minta maaflah kepada Eleena. Karena dia yang sudah kamu rugikan, assalamu'alaikum," ucap Yusuf lalu ia juga segera pergi meninggalkan Aulia seorang diri.


...~To be continue... ...


__ADS_2