
...~Happy Reading~...
Sesuai permintaan dari Eleena, bahwa pernikahan nya akan di lakukan di hari itu juga. Abi Mike mengundang pak Kiayi dan beberapa ustadz dari Pondok nya untuk menjadi saksi pernikahan di rumah sakit.
Di sudut ruangan, tepat nya di meja sofa sudah terdapat sebuah perlengkapan sholat dan Al-Quran yang tertata rapi di sana. Tak lupa, di samping nya juga sudah di siapkan sebuah kotak yang berisi cincin pernikahan.
Sementara itu, Eleena masih berada di atas brankar dengan posisi setengah duduk dengan di temani oleh Maira dan juga umma Chila.
Baju pasien yang semula di kenakan oleh Eleena, kini sudah tergantikan dengan sebuah gamis dan kerudung simple berwarna putih.
Tidak ada raut wajah kebahagiaan sama sekali di wajah Eleena. Sejak tadi, ekspresi hanya datar, karena pikiran nya masih kacau dengan perkataan pak Brata yang sudah tidak mau merawat nya lagi hingga membuat nya harus menikah secara dadakan.
Meskipun, dulu Eleena yang melamar Yusuf. Namun, tetap saja ia tidak menyukai pernikahan yang sangat singkat serta dadakan seperti ini.
Namun, bagaimana lagi saat ketika dirinya harus di paksa untuk menikah atau ikut dengan ibu kandung nya. Tentu Eleena akan memilih untuk menikah dengan Yusuf, meskipun hatinya masih d liputi kegundahan dan keraguan.
“Baiklah, mari kita mulai,” ucap pak Kiayi Hasan, pemuka agama di Pondok yang di undang oleh abi Mike,
__ADS_1
“Bismillahirrahmanirrahim, sebelum mulai, marilah kita beristighfar terlebih dulu sebanyak dua kali dan di lanjutkan dengan syahadat.”
Yusuf menarik nafas nya dengan sedikit panjang, sebelum akhirnya ia akan berjabat tangan dengan pak Brata.
Bohong bila laki laki itu tidak gugup atau nervous. Nyatanya, wajah yang biasanya terlihat teduh itu, kini terlihat begitu berbeda.
Ia sangat cemas dan gugup, namun ia berusaha untuk bisa menguasai dirinya. Biar bagaimana pun, ini adalah pernikahan pertama nya, dan akan menjadi yang terakhir.
Di tambah pernikahan ini di adakan dengan sangat dadakan, jadilah wajar jika laki laki itu terlihat sedikit gugup, terlepas dari siapa dirinya.
“Saya terima nikah dan kawin nya Eleena Sora binti Brata Sanjaya dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!” ucap Yusuf dengan satu tarikan nafas.
“Bagaimana saksi?” tanya pak kiayi Hasan.
“Sah!
“Sah!”
__ADS_1
“Alhamdulilahirabbilalaamiin .....”
Yusuf memejamkan matanya sejenak, menarik napas nya dengan lega, lalu ia segera mencium punggung tangan pak Brata yang kini sudah sah menjadi papa mertua nya.
Sementara itu, masih di ruangan yang sama tepat nya di atas brankar, umma Chila dan Maira langsung kompak memeluk Eleena yang masih diam mematung dengan ribuan pikiran melayang di kepala nya.
“Umma, Ele sudah menjadi seorang istri?” tanya Eleena dengan raut wajah datar nya menatap pada umma Chila.
Bukan ia tidak bahagia, mungkin dirinya akan bahagia jika berhasil di per sunting oleh laki laki idaman nya sejak kecil.
Hanya saja, kini mungkin waktunya kurang tepat untuk mengekspresikan wajah nya, karena suasana hati nya sedang tidak baik baik saja.
Terlebih saat dimana ia melihat ayah kandung nya yang mulai berjalan ke arah nya bersama dengan Yusuf. Membuat hati Eleena semakin perih terisis, hingga membuat air mata nya semakin luruh membasahi wajah nya.
Tanpa ia tahu, bahwa perasaan ayah nya jauh lebih hancur di banding dirinya. Pak Brata juga merasakan sakit itu, namun ia selalu berusaha sekuat tenaga untuk bertahan sampai memastikan bahwa putri nya benar benar bahagia di tangan orang yang tepat.
...~To be continue .......
__ADS_1