
...~Happy Reading~...
Setelah perdebatan yang cukup menguras tenaga. Kini akhirnya Eleena mau tak mau pindah ke kamar suami nya.
Walau sebenarnya ia begitu enggan, tapi dengan terpaksa karena ia tidak memiliki pilihan lain.
"Apakah kamu tidak nyaman?" tanya Yusuf berdiri tepat di depan Eleena.
Gadis itu menundukkan kepala nya. Sedikit melirik ke arah sekitar, lalu menundukkan kepala nya lagi.
Kamar dengan cat berwarna putih dan dekorasi nuansa putih, membuat nya terlihat begitu rapi dan bersih.
Tidak begitu banyak aksesoris di dalam kamar itu. Hanya ada satu buah tempat tidur berukuran Queen size. Satu lemari dan sebuah meja belajar.
Tidak ada sofa maupun televisi di dalam sana. Karena Yusuf jarang di rumah dan sangat jarang menonton televisi.
"Yusuf, a—aku... "
"Sora, aku tidak akan memaksa kamu untuk melakukan apa yang tidak kamu sukai. Kamu bebas melakukan apapun selagi itu benar dan membuat mu nyaman. Jangan khawatir kan apapun, cukup jadilah diri kamu sendiri," ujar Yusuf panjang lebar, sekali lagi membuat Eleena tertegun mendengar nya.
"Ada satu hal yang ingin aku bicarakan sama kamu,"
"Apa?" tanya Eleena mendongakkan kepala nya untuk menatap wajah teduh sang suami.
"Mengenai Papa,"
Deg!
__ADS_1
Seketika itu juga, jantung Eleena kembali berdetak dengan begitu cepat. Tubuh nya mendadak terasa kaku dan sangat dingin.
Yusuf mengajak Eleena untuk duduk di sisi tempat tidur. Mengajak nya agar bisa lebih rileks walau pada akhirnya akan melihat gadis itu kembali terpuruk.
"K—kenapa dengan Papa?" tanya Eleena sedikit lirih.
Netra nya kembali menatap ke arah wajah suami nya, hingga tanpa sadar membuat netra itu kembali berkaca kaca.
"Apakah kamu membenci Papa?"
Eleena menggelengkan kepala nya, air mata nya langsung menetes kala mengingat sang ayah lagi.
"Bagaimana bisa aku membenci, orang yang paling aku cintai di dunia ini," jawab Eleena pelan dan sedikit bergetar.
"Kamu kecewa dengan nya?"
"Apakah Mama mengancam Papa agar memberikan aku kepada nya?" tanya Eleena menatap Yusuf penuh pertanyaan.
Hanya itu yang ada di benak Eleena. Mungkin, mama Rasti lah yang memaksa pak Brata agar menyerahkan hak asuh akan dirinya.
Maka dari itu, pak Brata membuat seolah olah tidak menginginkan Eleena. Agar dirinya membenci pak Brata.
"Justru Papa ingin meminta tolong kepada Mama kamu agar menjaga kamu kelak," ujar Yusuf pelan dan penuh kehati hatian.
"Menjaga ku?" Eleena tertawa getir mendengar perkataan Yusuf, "Kenapa Papa harus minta tolong ke Mama? Apakah dia sendiri tidak bisa menjaga ku? Kenapa harus meminta tolong kepada orang yang sudah meninggalkan kami?" imbuh nya dengan nafas yang memburu hebat.
Sungguh, hatinya sangat sakit setiap kali mengingat perkataan ayah nya yang seolah memang sudah tidak mengharapkan nya.
__ADS_1
"Kenapa seolah seolah kaya Papa akan pergi jauh, atau mungkin meninggal!" celetuk Eleena dengan nada ketus namun di sertai air mata yang terus luruh membasahi wajah nya.
"Bagaimana jika memang itu benar?"
Deg!
Eleena langsung menatap ke arah Yusuf, "Maksud kamu?"
"Sora... Bagaimana jika Papa memang sedang sakit?" Kini Yusuf memberanikan diri untuk menyentuh tangan Eleena.
Tidak ada penolakan, karena gadis itu sedang fokus mencerna ucapan dari Yusuf.
"Aku tidak tau, apakah ini benar atau hanya firasat semata. Tapi, aku merasa bahwa Papa memang sedang tidak baik baik saja," imbuh Yusuf seketika membuat hati Eleena semakin bergemuruh hebat.
"Aku akan menemui Papa!"
"Jangan!" Yusuf menggelengkan kepala nya, "Tenang kan dulu pikiran kamu. Papa tidak akan bicara apapun saat ini. Kita bisa mencari tahu semua nya, tapi mulai sekarang jaga lah bicara kamu di depan Papa."
"Yusuf . ... "
"Serahkan semuanya sama Allah, dan kita doakan semoga semua baik baik saja,"
Eleena langsung memeluk Yusuf dengan tiba tiba, hingga membuat laki laki itu sedikit tersentak dan kaget.
Namun, hanya beberapa detik, kemudian Eleena seolah tersadar dan segera melepaskan pelukan nya.
"Maaf," ujar Eleena segera bangkit dan beralih menuju kamar mandi.
__ADS_1
...~To be continue... ...