
...~Happy Reading~...
“Eleena, tenang dulu. Setiap kejadian pasti ada sebab dan akibat nya. Belum tentu, Mama kamu pergi karena hal itu, Umma yakin, bahwa ini hanya kesalahpahaman saja. Kamu tenang dulu ya,” ujar umma Chila berusaha menenangkan Eleena.
“Tenang, Umma?” Eleena menatap wanita paruh baya tersebut dengan mata yang sudah memerah dan bengkak, “Jika memang hal itu tidak benar, pasti dia akan mengelak saat Papa mengatakan hal itu. Tapi ini tidak, bahkan dia malah justru menyalahkan Oma. Itu berarti—hiks hiks hiks!” Eleena kembali menutup wajah nya dengan menggunakan tangan nya saat ia semakin tidak sanggup menguasai tangisan nya.
“Pasti ada alasan jelas, mengapa beliau melakukan seperti itu, kamu harus tenang dan memberikan kesempatan untuk nya menjelaskan ya Sayang. Jangan seperti ini, atau kamu akan merasa sakit seorang diri, mencoba menerka hal yang tidak pasti,” ucap umma Chila membuat tangisan Chila sedikit terhenti untuk menatap wanita tersebut.
“Apapun yang akan dia jelaskan, itu hanya akan membuat hati Ele sakit Umma. Kenapa Mama tega ninggalin Ele, kenapa Mama gak ajak Ele waktu dulu?” tanya Eeena menggelengkan kepala nya.
“Istighfar Ele, tenang dulu. Jangan seperti ini, Allah tidak pernah tidur dan Allah tidak pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Kamu tahu, mungkin Allah memberikan cobaan ini ke kamu, karena Allah tahu bahwa kamu adalah anak yang kuat, kamu anak hebat yang pasti bisa melewati semuanya. Dan terbukti benar, Bukan? Bahwa kini kamu sudah tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik dan baik. Umma yakin, Allah tidak mungkin memberikan jalan yang tidak mungkin bisa di lalui hamba-Nya. Walau pun sedikit sulit dan terjal, tapi Umma yakin bahwa semua akan indah pada waktu nya.”
__ADS_1
“Kucni nya satu, ikhlas!” imbuh umma Chila panjang lebar dengan suara yang begitu lembut dan tenang, hingga membuat Eleena terdiam dan mencerna setiap ucapan nya.
“Loh El! Kok kamu disini?” tanya seorang gadis yang sedang menuruni anak tangga dan melihat keberadaan Eleena yang tengah duduk berdua dengan umma nya.
“Ele, kamu nangis!” pekik gadis itu lagi saat sudah tiba di depan ibu dan sahabat nya, “Kenapa?” tanya nya lagi dan segera ikut duduk di sebelah Eleena.
Eleena langsung memeluk Maira dengan begitu erat, ia juga mencurahkan semua isi hati dan perasaan nya kepada gadis tersebut. Entah mengapa, kini setelah ia mengungkapkan segala nya kepada dua wanita sekaligus, ia merasa jauh lebih baik dan tenang.
“Sudah sudah, lebih baik sekarang kita sahur dulu. Mba sudah selesai masak, ayo,” ucap umma Chila mengajak kedua gadis itu untuk bangun dan pergi ke meja makan.
“Walaikumsalam,” jawab nya bersamaan, “Nak, bukannya tadi bilang mau sahur di aula?” tanya umma Chila menatap putra sulung nya.
__ADS_1
“Tau aja kalau ada Ele di rumah, jadi batal deh sahur bareng di luar nya,” sindir Maira menggoda sang kakak, “Tapi kok bisa pas gini ya, kakak pulang mau sahur di rumah dan Ele ternyata jga sudah disini.”
“Kakak kamu yang membawa Ele kemari, Nak,” jelas umma Chila tersenyum simpul.
“Sudah lebih baik?” tanya Yusuf mengabaikan ibu dan adik nya yang terus menggoda nya.
Sementara itu, Eleena yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Yusuf hanya bisa menganggukkan kepala nya pelan. Ia merasa kepala nya kembali berdenyut, pusing di tambah perut nya yang terasa cukup perih.
Mungkin di karenakan dirinya yang terlalu lelah menangis dan belum makan apapun sejak kemarin, membuat tubuh nya begitu lemah hingga akhirnya ...
Brukk!
__ADS_1
“Astagfirullah, Eleena!” petik ketiga nya bersamaan ketika melihat gadis itu pingsan dan tak sadarkan diri di sofa.
...~To be continue .......