Bukan Sekedar Rasa

Bukan Sekedar Rasa
Pura pura


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Mama tidak menyangka bahwa sekarang kamu sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Maafin Mama karena sudah pernah meninggalkan kamu, maafkan Mama Sayang,” ujar seorang wanita yang ternyata adalah ibu kandung Eleena.


Wanita yang sudah melahirkan nya ke dunia, namun juga wanita yang sudah meninggalkan Eleena sejak kecil.


Setelah sekian purnama, kini akhirnya wanita itu kembali dan menemui nya juga sang ayah. Pada akhirnya, rindu yang selama ini tersimpan rapat di benak Eleena bisa tersalurkan.


Namun, entah mengapa ia sama sekali tidak bisa mengekspresikan wajah nya saat ini. Ia tidak bisa menunjukkan rasa bahagia nya, dan entah mengapa justru dirinya sama sekali tidak merasakan kebahagiaan itu sama sekali.


“Siapa?” tanya Eleena dengan raut wajah datar nya, seketika membuat tangis wanita itu terhenti.


Bohong bila Eleena tidka mengenal wanita itu. Namun, entah mengapa dirinya begitu enggan untuk mengenali nya. Ia menolak untuk mengenal dan ia menolak untuk menerima kehadiran wanita itu kembali.

__ADS_1


Kenapa? Mungkin rasa kecewa yang tumbuh di hati Eleena sudah terlalu besar, sehingga membuat nya begitu terkejut dengan kehadiran ibu kandung nya yang sudah ia anggap meninggal dunia.


“Mas, apakah kamu tidak pernah memperkenalkan aku pada anak kita?” tanya wanita itu menoleh untuk menatap ke arah pak Brata yang sejak tadi hanya menatap keduanya dengan raut ekspresi wajah datar nya.


“Apakah Papa mau menikah lagi dengan tante ini? Apakah Papa akan memberikan ku mama tiri?” ucap Eleena berpura pura dengan ikut menatap wajah ayah nya.


“M—mama tiri?” gumam wanita itu lirih sambil menatap Eleena, “Sayang ini Mama. Mama yang melahirkan kamu, Mama kandung kamu. Bukan mama tiri!” ujar wanita itu berusaha menjelaskan, namun Eleena malah menggelengkan kepala nya.


“Maaf Tante, Mama kandung saya sudah meninggal sejak saat saya kecil. Jadi tante tidak usah mengaku ngaku untuk mengambil hati saya. Saya juga tidak melarang Papa untuk menikah lagi, karena saya yakin Papa bisa menentukan takdir nya sendiri. Sebentar lagi buka puasa, maaf saya permisi dulu,” ucap Eleena berusaha untuk bersikap setenang mungkin agar bisa menghindari wanita tersebut.


“Baik Non,” jawab bibi dan segera berlalu.


Eleena memejamkan matanya erat sambil mencengkram pinggiran tangga saat menuju lantai dua. Ia sengaja melambatkan langkah kaki nya, agar bisa mendengar perdebatan dan pertengkaran yang cukup hebat antara kedua orang tua nya.

__ADS_1


Tanpa sadar, air mata Eleena mengucur begitu deras membasahi pipi nya. Terlebih saat ia mendengar fakta bahwa ternyata sang ibu meninggalkan nya dan Papa hanya untuk laki laki lain.


Sakit, perih, kecewa dan marah bercampur menjadi satu dalam benak Eleena. Ia tidak bisa membohongi dirinya bahwa ia memang sangat membenci ibu kandung nya.


Ia sudah membenci sang ayah karena mengabaikan nya sejak kecil dengan pekerjaan, sehingga membuat dirinya menghabiskan waktu di luar, dengan balapan liar dan sebagainya.


Dan kini, kebencian itu bertambah untuk ibu nya saat ia mengetahui bahwa ibu nya mencari kebahagiaan sendiri dengan meninggalkan dirinya.


‘Astagfirullah, astagfirullah. Kenapa rasanya begitu sesak,’ gumam Eleena sembari memukul mukul dada nya saat sudah berada di dalam kamar.


Ia melemparkan tas nya ke sembarang arah, lalu mendudukkan dirinya di lantai dengan menyandarkan kepala nya pada sisi tempat tidur. Ternyata ini yang membuat ayah nya memaksa dirinya untuk pulang dengan segera.


Agar ia bisa bertemu dengan ibu kandung nya. Namun, fakta yang menyakitkan justru membuat Eleena menyesal karena sudah memilih untuk pulang.

__ADS_1


...~To be continue .......


__ADS_2