Bukan Sekedar Rasa

Bukan Sekedar Rasa
Bab 47


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Ada apa?" Yusuf mengajak adik nya untuk duduk di bawah pohon angsana, tempat biasa dimana ia sering melihat seorang gadis menghabiskan waktu untuk menghafal doa dan surat pendek di sana.


"Tadi, Umma udah cerita sama Maira. Emang bener kalau lusa kita ke Jakarta? Kakak sudah yakin?" tanya Maira dengan begitu lekat menatap wajah sang kakak.


"InsyaAllah," jawab Yusuf menganggukkan kepala nya pelan.


Untuk sesaat, Maira terdiam. Mencoba mencari celah keseriusan di wajah Yusuf. Memastikan bahwa apa yang di yakinkan oleh kakak semata wayang nya itu benar benar sudah pasti agar tidak ada kekecewaan di belakang.


"Bukankah ini yang kamu mau, hem?"


"Maira memang menginginkan ini. Tapi,... "


Yusuf kembali tersenyum saat melihat wajah adik nya yang kini justru malah penuh kebimbangan.


"Kakak bukan terpaksa kan melakukan ini?" tanya Maira sekali lagi.


"InsyaAllah, kakak tulus."


Tanpa sadar, mata gadis itu berkaca kaca saat menatap wajah kakak nya. ia segera memeluk laki laki yang ia sayangi setelah sang ayah itu dengan begitu erat.


"Semoga kakak benar bisa menepati amanah ini. Dan semoga kelak, kakak bisa mendapatkan kebahagiaan bersama Eleena."


"Aminn"

__ADS_1


...🍁🍁🍁🍁...


Sementara itu, di tempat yang berbeda. Tepatnya di sebuah bangunan rumah yang cukup besar namun terkesan begitu sepi, seperti hati sang pemilik nya.


Dua orang gadis yang baru saja mematikan mesin mobil nya, segera keluar dan berlari untuk memasuki rumah tersebut.


"Assalamu'alaikum! Jerry! Keluar!"


"Waalaikumsalam, non Eleena, non Sarah," jawab seorang wanita paruh baya yang sudah bekerja di rumah itu.


"Bi, Jerry kemana?" tanya Eleena to the point.


"Den Jerry ada di atas. Lagi belajar Non,"


"Belajar apaan Bi? Dia abis darimana? Ke sambet apaan?" tanya Eleena beruntun membuat wanita itu tersenyum simpul.


"Belajar ngaji Non,"


"Whattt!" pekik kedua nya bersamaan. Dan tanpa pikir panjang, lagi kedua gadis itu segera berlari ke tempat dimana yang sudah di beritahu oleh Bibi.


Dan benar saja, Eleena dan Sarah bisa melihat bahwa laki laki itu kini tengah belajar seorang laki laki asing yang sebagai guru ngaji Jerry.


Eleena terdiam, ia kembali teringat saat saat dirinya berada di Pondok. Dimana ia harus belajar menghafal huruf dan doa juga surat pendek.


Dan dimana dirinya harus berdebat di setiap pembelajaran nya dengan Yusuf maupun Maira.

__ADS_1


Rindu, jika boleh di katakan Eleena memang merindukan saat saat itu. Meskipun ia tidak lama berada di Pondok. Hanya kurang dari dua bulan, namun ia merasa sudah memiliki begitu banyak kenangan di sana.


Kenangan yang selalu membuat hati nya tak menentu. Dari yang kacau hingga tenang juga bergetar.


"Kayaknya Jerry emang serius deh," gumam Sarah begitu pelan namun masih mampu terdengar di telinga Eleena.


"Hemm, Alhamdulillah. Setidaknya dia benar bersungguh sungguh," balas Eleena juga pelan sambil terus menatap ke arah Jerry yang masih belajar mengaji.


Setelah beberapa saat, Eleena dan Sarah menunggu. Kini akhirnya Jerry sudah selesai dan segera menghampiri dua sahabat nya yang sejak tadi ia lihat.


Sebenarnya, Jerry sudah sejak tadi ingin menghampiri Eleena. Namun, karena sungkan dengan guru mengaji nya, alhasil ia mengurungkan niat itu. Sembari belajar, bahwa ia memang harus sudah menjaga jarak dari gadis pujaan nya tersebut.


"Ke sambet apaan kalian datang kesini?" tanya Jerry ketika sudah di depan Eleena.


"Kenapa kamu masuk Islam?" kata Eleena balik bertanya.


Bukan menjawab, Jerry malah tersenyum untuk menanggapi pertanyaan dari Eleena.


"Bukankah aku lebih tampan jika seperti ini?" tanya Jerry sembari membenarkan peci di kepala nya.


"Jer!"


"Kemana kerudung kamu El? Kamu lebih cantik jika mengenakan pakaian tertutup. Dan jika kamu bertanya, kenapa aku masuk islam? Aku hanya ingin me mantaskan diri sebelum bertemu dengan wanita yang memang di takdir kan untuk ku." jawab Jerry panjang lebar, seketika membuat Eleena terdiam.


...~To be continue......

__ADS_1


__ADS_2