Bukan Sekedar Rasa

Bukan Sekedar Rasa
Tersenyum


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Setelah semuanya siap, kini pak Brata juga bergegas untuk segera pamit dan pulang. Awalnya, Eleena menolak dan masih merasa sangat berat jika harus berpisah dengan ayah nya.


Namun, setelah ia mendengarkan perkataan umma Chila, akhirnya Eleena mau mencoba.


Ia sepakat dengan umma Chila, bahwa ia akan bertahan di sana selama satu bulan. Setidaknya, ia bisa membuat hati ayah nya lega, walau pada akhirnya ia tidak betah di sana.


Akan tetapi, ia sudah bisa merasakan kehidupan di pondok, sesuai permintaan sang ayah.


Lagipula, jika dirinya di rumah pun juga akan sendiri, karena ayah nya yang terlalu sibuk bekerja.


Jadi, setelah Eleena pikir panjang, tidak ada salahnya ia mencoba, walau sebenarnya sangat berat.


"Umma, dimana Maira? Ele tidak melihat nya?" tanya Eleena yang memang sejak tadi belum melihat teman masa kecil nya.


"Maira sedang berada di Yogyakarta," jawab umma Chila sambil membantu Eleena untuk merapikan kamar nya.


Chila sudah menganggap Eleena seperti anak nya sendiri. Mengingat, dulu mereka bertetangga dan waktu kecil, Eleena sering bermain dengan anak keduanya, Maira.

__ADS_1


"Khalifah?" tanya Eleena lagi.


"Sebentar lagi, dia akan pulang. Jadi nanti kamu bisa sama dia, ya?"


Khalifah adalah nama anak ketiga Uma Chila dan Abi Mike yang saat ini sudah duduk di bangku kelas tiga SMP.


"Sekarang, semua sudah siap. Kamu istirahat dulu ya, nanti saat Khalifah datang, dia yang akan mengantarkan kamu untuk berkeliling melihat suasana di pondok ini," ujar umma Chila tersenyum.


"Umma, bolehkah Ele bertanya sesuatu?" tanya anak gadis itu sambil mendongakkan kepala nya, menatap wajah ayu nan tulus berseri dari wanita paruh baya di depan nya.


Walau sudah memiliki tiga anak, dan umur nya yang sudah tidak muda lagi. Namun, umma Chila masih terlihat begitu cantik walau memakai cadar.


"Ada apa, Ele?" umma Chila kembali mendudukkan diri di samping Eleena.


"Mengapa, Umma selalu tersenyum? Apakah Umma tidak lelah?" tanya Eleena dengan polos.


Bukan tanpa alasan, sejak ia kecil, ia selalu penasaran, mengapa wanita itu sangat sering tersenyum dengan begitu lembut.


Bahkan, saat dulu bagaimana Maira dan Arga bertengkar cukup hebat, hingga membuat dahi Maira terluka.

__ADS_1


Umma Chila hanya tersenyum sambil menenangkan tangisan Maira dengan begitu sabar dan lembut.


Bahkan, wanita itu juga tidak menyalahkan Arga yang memang notabene nya sudah menyakiti putri nya.


Dan kini, Eleena kembali di pertemukan dengan wanita itu, dengan ekspresi wajah yang selalu sama, yakni teduh dan hangat.


"Ele, apa kamu tahu, Senyum itu Ibadah. Dan senyum, adalah sedekah yang paling mudah di lakukan. Selain itu, sebuah senyum juga bisa memupuk hubungan baik antara sesama manusia."


"Apa kamu tahu juga, bahwa salah satu figur penebar kebaikan dan senyuman itu adalah Rasulullah SAW. Maka dari itu, mulai sekarang, tersenyumlah." imbuh umma Chila panjang lebar.


Eleena kembali terdiam. Ia masih menatap lekat pada wajah wanita di depan nya. Benar kah senyum adalah ibadah.


Jangankan ibadah dengan tersenyum, untuk sholat saja ia tidak pernah. Lantas, masih pantaskah ia berada di Pondok itu?


Entah mengapa, kini, Eleena merasa semakin kecil. Ia adalah salah satu contoh manusia yang sangat jarang tersenyum dengan tulus seperti umma Chila.


Ia sering tertawa, bahkan tawa nya begitu lepas jika bersama teman teman nya. Namun, semua tawa itu seolah palsu, karena tidak sepenuhnya berasal dari dalam hati nya.


'Bagaimana caranya tersenyum?' gumam Eleena dalam hati seraya menghela napas nya panjang.

__ADS_1


...~To be continue... ...


__ADS_2