Bukan Sekedar Rasa

Bukan Sekedar Rasa
Pernyataan


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Siang harinya, seperti yang di janjikan oleh Yusuf. Kini Eleena di ajak untuk pindah ke rumah baru. Tidak begitu jauh dari Pondok, namun tidak begitu dekat juga.


Jika Pondok berada di sebuah pedesaan yang masih begitu asri dan di kelilingi oleh persawahan.


Sebuah rumah minimalis yang memiliki dua lantai dan dua kamar di dalam nya. Pekarangan yang cukup luas, dan di hiasi oleh berbagai macam bunga dan pohon hijau, membuat rumah itu terlihat begitu segar seperti di Pondok.


“Bagaimana?” tanya Yusuf yang tiba tiba langsung memeluk Eleena dari belakang hingga membuat gadis itu sedikit tersentak di buatnya.


“A—apanya yang bagaimana?” kata Eleena balik bertanya dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup.


“Rumah nya? Apa kamu menyukai nya?” jelas Yusuf yang tidak langsung mendapatkan jawaban dari Eleena, “Aku masih belum mendapatkan pekerja, jadi gapapa ya kita berdua dulu.”


“Y—ya gapapa sih, memang nya kenapa? Rumah nya juga tidak terlalu besar, dan aku sudah bisa kalau hanya untuk bersih bersih,” ujar Eleena walau sedikit ragu.


“Apakah kamu yakin?” tanya Yusuf mengerutkan dahi nya.

__ADS_1


Jika Eleena sendiri saja merasa ragu dengan kinerja nya, apalagi Yusuf yang memang tahu bagaimana sepak terjang istri tercinta nya tersebut.


“A—aku akan belajar nanti,” jawab Eleena dengan cepat, “Tolong lepas dulu,”


“Sora ... “ panggil Yusuf begitu pelan namun mampu membuat tubuh Eleena menegang dan meremang.


“Mungkin aku bukan laki laki romantis, bukan laki laki idaman kamu, dan bukan laki laki yang sempurna. Tapi, sekarang aku sudah menjadi suami kamu, kamu sudah menjadi istriku. Bisakah kita terus seperti ini?”


“M—maksud nya? S—seperti ini bagaimana?”


“Aku tahu, kamu mau menerima pernikahan ini karena sebuah keterpaksaan, tapi aku tidak. Aku tidak pernah merasa terpaksa untuk menikahi kamu. Dan aku ingin terus mempertahankan rumah tangga ini sampai akhir, sampai saat nya Tuhan memisahkan kita dengan dunia yang berbeda,” ujar Yusuf panjang lebar.


“Maaf, jika pernikahan kita harus terjadi dengan cara seperti ini. Tapi aku akan berusaha membawa pernikahan ini ke tempat yang seharusnya. Insyaallah aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu. Maaf, jika mungkin kata kata ku ada yang salah atau mungkin kurang tepat, tapi pada intinya akan seperti itu,” imbuh Yusuf sedikit malu.


Tanpa sadar, bibir Eleena terangkat membuat sebuah lengkungan senyum saat melihat wajah suaminya yang terlihat malu karena habis menyatakan perasaan. Bukankah itu perasaan? Batin Eleena.


“Ada yang ingin aku tanyakan,” ucap Eleena menarik napas nya cukup panjang.

__ADS_1


“Katakan, insyaallah aku siap menjawab nya,” Yusuf kembali mengulurkan tangan nya untuk mengusap wajah mulus Eleena dengan begitu lembut.


“Apakah kamu mencintai ku?” tanya Eleena.


Bukan menjawab, Yusuf justru tersenyum saat mendengar pertanyaan dari Eleena, “kenapa malah senyum. Aku tanya, katanya kamu siap menjawab, tapi kenapa malah tersenyum begitu, ckckck!” cetus Eleena berdecak.


“Menurut kamu bagaimana?” Eleena langsung memutar bola matanya dengan malas saat Yusuf bukan menjawab pertanyaan nya, melainkan malah balik bertanya.


“Mana ku tahu, sejak dulu kamu selalu mengabaikan ku. Bahkan hanya memandang ku saja, kamu tidak mau. Setiap kali aku bertanya, kamu selalu menunduk seolah tanah dan lantai itu lebih cantik daripada aku.” Kata Eleena dengan sedikit ketus hingga membuat Yusuf sangat ingin tergelak karena nya.


“Jangan ketawa ih!” kesal Eleena memanyunkan bibir nya semakin kesal.


“Uhibuk min allah zawjati.”


Deg, deg, deg!


Eleena langsung mendongakkan kepala nya. Ia merasa seperti ada sesuatu yang berbeda di dadanya saat mendengar pernyataan dari Yusuf. Satu kalimat sederhana, namun mampu membuat jantung nya berdetak jauh lebih extra dari biasanya.

__ADS_1


...~To be continue .......


__ADS_2