
...~Happy Reading~...
Hari berganti hari, sejak kepulangan Eleena ke Jakarta. Kini Pondok semakin terasa sepi. Yusuf semakin jarang berada di Pondok, dan memilih aktifitas di luar.
"Kakak mau kemana lagi?" tanya Maira ketika hendak naik ke atas namun berpapasan dengan kakak nya yang sudah rapi seperti hendak pergi.
"Ke kampung sebelah, mengizi tausyiah sekaligus buka bersama di sana," jawab nya saat berhenti di tengah tangga.
"Dihh, gak buka di rumah lagi?" tanya Maira sedikit berdecak, yang justru di balas senyuman tipis oleh sang kakak.
"Kamu temenin Umma,"
Maira langsung menghela napas nya dengan berat saat mendengar permintaan sang kakak, "Tahun kemarin, kakak gak pernah mau ambil kalau ada pekerjaan di luar Pondok. Karena kakak mau full satu bulan sama keluarga. Kakak selalu buka di rumah biar Umma gak kesepian."
"Tapi kenapa bulan ini, kakak jadi sering ambil kerjaan di luar sih. Sampai harus buka puasa di luar," omel Maira panjang lebar sambil memanyunkan bibir dengan kesal.
"Baru tiga kali, Mai!" ralat Yusuf menghela napas nya dengan berat.
__ADS_1
"Baru tiga kali, ya udah tambah aja terus biar sekalian dapet piring pecah!" cetus nya begitu kecewa dengan sang kakak yang selalu berbuka di luar.
Memang sejak tidak ada Eleena di Pondok, Yusuf selalu mengambil pekerjaan di luar, bahkan pernah beberapa hari yang lalu, Yusuf mendapatkan tawaran di luar kota dan ia ambil sampai tidak pulang hampir dua hari. Yusuf benar benar menyibukkan diri di luar.
"Yang penting kita masih bisa sahur bersama," ujar Yusuf masih bersikap selembut mungkin.
"Au ah! Ya udah sana pergi, nginep aja sekalian di sana." cetus Maira mendengus dan hendak pergi, namun tiba tiba tangan nya di tahan oleh Yusuf.
"Kok marah sih, gak malu sama Khalifa hem?" tanya Yusuf tersenyum.
Kalau di pikir antara Maira dan Khalifa, memiliki sifat yang sangat jauh. Padahal, Khalifa berlaku sebagai adik, namun sikap nya begitu dewasa dan lembut.
Terlebih kepada Yusuf, Maira akan sangat manja dan akrab dengan kakak nya itu. Berbeda dengan Khalifa yang meskipun ia juga memiliki hak yang sama dengan Maira. Namun Khalifa lebih menjaga jarak, tidak terlalu dekat dengan kakak nya.
"Katanya mau pergi, ya udah sana. Udah jam lima tuh!" Maira menunjuk ke arah jam dinding yang berada di ruang keluarga yang masih terlihat dari bagian tangga.
"Ya udah, kakak berangkat sekarang. Assalamu'alaikum," ucap Yusuf seraya mengusap kepala Maira dengan begitu gemas.
__ADS_1
"Kak Yusuf tunggu dulu!" seru Maira saat laki laki itu berbalik dan hendak pergi.
"Ada apa?" tanya Yusuf kembali menoleh ke arah Maira.
"Kakak kehilangan Ele kan?"
Deg!
Yusuf terdiam, senyuman di wajah nya yang begitu manis kini seolah luntur kala mendengar nama gadis yang beberapa hari ini menjadikan nya alasan untuk tidak berada di Pondok.
"Kakak suka eh cinta sama Ele?" tanya Maira lagi, namun kini laki laki itu hanya tersenyum tipis tanpa berniat untuk menjawab.
"Seharusnya, kalau kakak suka dan serius sama Ele, kakak datangi rumah nya. Kakak khitbah dia, bukan malah kabur kaburan begini terus. Kasihan Umma, tiap hari cuma buka puasa sama Maira dan Khalifa!" imbuh Maira panjang lebar membuat Yusuf merasa sedikit bersalah.
Tentu, karena memang kini abi Mike sedang tidak ada di Pondok. Laki laki paruh baya itu tengah berada di Jakarta lantaran ada urusan dengan keluarga di sana.
"Ini yang terakhir. Kakak tidak bisa batalin, besok sampai akhir, kakak akan di rumah! Assalamu'alaikum," ucap Yusuf dan kini ia benar benar pergi keluar rumah.
__ADS_1
"Walaikumsalam," jawab Maira seraya menghela napas nya berat, "Susah kalau punya kakak model kulkas pintu delapan. Kalem sih, sabar penyayang tapi gengsi nya setinggi langit. Padahal, kalau emang suka ya bilang aja suka. Khitbah langsung, ckckck heran aku tuh!" imbuh Maira sedikit berdecak.
...~To be continue... ...