
...~Happy Reading~...
Tak hanya Yusuf yang terkejut melihat keadaan yang ada di dalam kamar itu, melainkan Jerry dan pak Brata yang baru saja menyusul ke lantai dua ikut tercengang melihat kondisi Eleena yang ternyata baik baik saja.
Kekhawatiran mereka ternyata tidak lah tepat. Begitu pun pak Brata yang tidak menyangka jika ternyata putri nya masih sanggup bertahan untuk mempertahankan dirinya dari jebakan Rena.
“Sayang kamu gapapa?” tanya pak Brata yang langsung menghampiri putri nya dan memeluk nya dengan begitu erat.
“Alhamdulilah, Ele gapapa Pa. Cuma tadi pipi Ele di tampar dau kali sama dia,” ucap Eleena mengadu, “Pa, Ele mau pulang,” imbuh nya merengek.
“Maaf Pak, lebih baik kita segera kembali ke Pondok. Kita bisa selesaikan di sana,” ujar Yusuf membuka suara namun ekspresi wajah nya kini terlihat begitu datar dan dingin, sangat berbeda dengan biasanya.
“Baiklah, kita pulang dulu sekarang,” pak Brata merangkul putri nya dan membantu memegang selimut tebal untuk menutupi sebagian tubuh Eleena karena tidak mengenakan pakaian rapi.
__ADS_1
“Eh tunggu dulu,” Eleena menghentikan langkah nya saja hendak memasuki mobil, ia sudah tidak melihat keberadaan Rena karena ternyata ia sudah di bawa oleh pihak berwajib.
“Ada apa?” tanya pak Brata mengerutkan dahi nya.
“Mon, ****, dan satu lagi siapa gue lupa namanya. Makasih ya, dan kalian hati hati kalau balik ke Jakarta,” ucap Eleena menatap keempat laki laki yang kini berdiri di teras rumah.
Mondy dan Dicky hanya menganggukkan kepala nya sambil mengayunkan tangan ke udara, di samping nya, Jerry ikut menatap kepergian Eleena dengan perasaan yang sangat sulit di mengerti.
“Lo udah nyerah?” tanya Mondy ketika melihat mobil yang di kendarai Eleena mulai meninggalkan kawasan rumah kosong itu.
Mondy yang mendengar itu pun seketika langsung mengerutkan dahi nya menatap ke arah Jerry, “Maksud lo?”
“Lo lihat cowok tadi? Dia calon suami Ele. Dan gue ngerasa kalau dialah yang terbaik buat Ele. Saingan gue terlalu berat, tapi bukan berarti gue kalah. Gue mau belajar agama,” jelas Jerry seketika membuat Mondy langsung tercengang.
__ADS_1
“Lo gak ke sambet penghuni sini kan? Perasaan yang di uji nyali gue dari tadi, kenapa lo yang kesurupan?” celetuk Mondy menggelengkan kepala nya yang membuat Jerry lagi lagi terkekeh.
“Lo tahu, waktu gue masuk kawasan Pondok tempat Ele di buang sama bokap nya. Ternyata itu bukan penjara seperti yang Ele katakan, itu adalah surga, dan gue bener bener kaya nemuin ketenangan banget di sana. Cuma tadi karena keadaan lagi genting, jadi gue belum sempet menikmati di sana,” jelas Jerry lagi yang membuat Mondy lagi lagi di buat tercengang.
“Ele udah nemuin imam yang cocok untuk bimbing dia. Dan gue juga mau, jadi imam yang baik kelak, makanya gue mau belajar agama, siapa tahu gue juga bisa nemuin bidadari kaya Eleena,” imbuh Jerry kembali terkekeh membayangkan bagaimana cantik nya Eleena yang kini sudah memakai pakaian yang tertutup hingga ujung kepala nya.
“Wait, lo mau jadi—“
“Iya,” jawab Jerry dengan cepat menganggukkan kepala nya, “Gue akan jadi mualaf!” imbuh nya dengan sangat yakin, hingga membuat Mondy terdiam dengan sejuta pikiran yang entah melayang kemana.
Bagaimana tidak, jika Jerry ingin jadi mualaf, tapi tidak mau mempertahankan perasaan nya kepada Eleena. Justru Jerry ingin menyerahkan Eleena kepada laki laki yang jauh lebih baik darinya.
Padahal, menurut Mondy, Jerry sudah sangat baik, bahkan laki laki itu sudah mau berpindah agama. Bukankah itu sudah bentuk dari pengorbanan? batin Mondy dalam hati.
__ADS_1
...~To be continue .......