
...~Happy Reading~...
“Enggak!” teriak Eleena begitu melengking memenuhi setiap sudut ruang perawatan nya, “Eleena gak mau!”
“Kamu harus mau El! Ini demi kebaikan kamu,” ucap pak Brata menatap putri nya dengan penuh permohonan.
“Kenapa?” tanya Eleena menatap wajah papa nya dengan begitu sayu, “Kenapa Papa ingin menyerahkan Ele pada Mama? Apakah Papa lelah mengurus Ele? Apakah selama ini Ele benar benar nakal hingga membuat Papa capek dan menyerah?”
Pak Brata menarik napas nya dengan cukup panjang, mengadahkan kepala nya ke atas, berharap air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya tidak jatuh.
Namun, semua itu seolah percuma karena air mata itu semakin deras hingga membuat pertahanan nya runtuh.
“Iya, Papa capek! Karena kamu tidak pernah menurut dengan Papa. Papa capek dengan semua tingkah kamu yang suka balapan bahkan klubing. Papa capek El! Jadi Papa mau istirahat, maka dari itu mama kamu datang untuk mengurus kamu!”
Deg!
__ADS_1
Hati Eleena terasa begitu sesak saat mendengar pernyataan dari sang ayah. Benarkah? Benarkah ayah nya mengatakan hal se menyakitkan itu padanya?
“Sejak dulu, kamu begitu menginginkan Ibu, benar kan? Dan sekarang, kamu sudah mendapatkan nya, jadi mulai sekarang kamu akan ikut bersama mama kamu!” imbuh pak Brata dengan sedikit berat hati.
Eleena sudah tidak bisa berkata kata lagi. Dada nya benar benar sangat sesak, jantung nya berdetak dengan cepat dengan tubuh yang bergetar lantaran menahan isak tangis agar tidak pecah.
“Ele gak mau Pa, Ele mau sama Papa,” gumam gadis itu begitu lirih sambil menundukkan kepala nya, tangan nya memegang selimut nya dengan begitu erat.
“Kamu tidak perlu khawatir dengan uang. Meskipun kamu ikut mama kamu, tapi semua fasilitas dari Papa akan terus kamu dapatkan. Tapi, ketika kamu bersama mama mu, jangan pernah ingat Papa lagi.” Ucap pak Brata dengan raut wajah datar nya.
“Kalau begitu menikah lah!” saut pak Brata cepat hingga membuat Eleena langsung mendongakkan kepala nya untuk menatap ayah nya.
“Pilihan kamu ada dua. Menikah atau ikut dengan mama kamu!” imbuh pak Brata.
Menikah? Ikut mama nya? Bila boleh jujur, hati Eleena begitu sakit mendapatkan penawaran seperti itu dari ayah nya. Sebegitu ingin kah ayah nya untuk tidak terbebani oleh nya? Batin Eleena.
__ADS_1
“Kalau memang Papa sudah tidak mau mengurus Ele, gapapa Pa. Tidak perlu Papa memberikan pilihan kepada Ele. Mulai sekarang, Ele tidak akan merepotkan papa lagi. Ele akan pergi dari rumah, dan Ele akan hidup sendiri. Menikah atau ikut dengan Mama, itu pilihan yang sulit untuk Ele, karena rumah Ele hanya Papa. Dan jika Papa sudah tidak mau merawat Ele, biar Ele hidup sendiri.” Ucap Eleena dengan pelan namun penuh penegasan.
“Tidak bisa. Pilihan kamu hanya dua, menikah atau ikut mama kamu. Tidak hidup sendiri, apalagi pergi dari rumah!” Saut pak Brata tegas.
“Tapi Ele tidak mau menikah Pa. Ele juga tidak mau sama Mama. Mama Ele sudah meninggal sejak dulu, dia bukan Mama Ele!”
“Eleena!” bentak pak Brata membuat Eleena kembali terdiam dengan di sertai air mata.
“Pak Brata, saya rasa ini terlalu berlebihan. Ini hanya akan menyakiti Eleena, lebih baik kita keluar dulu,” ujar abi Mike yang sejak tadi berada di ruangan itu bersama dengan pak Brata dan Eleena.
Abi Mike membawa pak Brata untuk keluar, dan menyuruh istrinya agar bergantian masuk ke dalam untuk menenangkan Eleena. Sedangkan Maira dan Yusuf. Sejak tadi hanya bisa mendengar perdebatan antara ayah dan anak tersebut.
“Kak, kasihan ya Eleena,” gumam Maira yang berdiri di samping kakak nya, “Kak, berjanjilah kalau kakak jadi menikahi Eleena, kakak akan menjaga nya sepenuh hati. Jangan sakiti dia, karena luka nya sudah terlalu banyak.”
...~To be continue .......
__ADS_1