Bukan Sekedar Rasa

Bukan Sekedar Rasa
Kebingungan Maira


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Umma sudah bicara sama Ele?" tanya Maira saat melihat sang ibu yang baru saja menutup panggilan telfon nya.


Wanita paruh baya dengan gamis coklat muda yang di padukan dengan hijab coklat sedikit tua, tersenyum simpul menatap lekat pada putri nya.


"Apakah Umma yakin, kalau kakak akan menerima ini semua?" tanya gadis itu lagi dengan perasaan yang sangat sulit di jelaskan.


"Abi sudah bicara sama kakak. Dan Kakak kamu sudah setuju, jadi kita hanya bisa bantu doa. Semoga memang ini yang terbaik," ujar umma Chila pelan.


"Tapi bagaimana dengan Ele, Umma?" keluh Maira dengan mata berkaca kaca, "Umma—"


"Sayang, doakan yang terbaik."


"Maira akan bicara langsung sama kakak!" Gadis itu segera bangkit dari tempat duduk nya dan berlari mencari keberadaan sang kakak.


Menyusuri setiap kelas dan ruangan yang berada di kawasan Pondok, tanpa memperdulikan bahwa ia sampai memasuki Pondok laki laki.


Brukk!


"Astaghfirullah!"

__ADS_1


"Auwwhhh sakitt!" keluh Maira saat tubuh nya terjatuh ke lantai ketika bertabrakan dengan seseorang.


"Maaf," ucap seorang laki laki yang memakai sarung putih dengan koko biru muda, terlihat menundukkan kepala nya tanpa berniat sedikit pun untuk membantu gadis itu bangun.


Hufftt!


Menghela napas nya kasar, Maira langsung bangkit dan berdiri sendiri, "Dimana kak Yusuf?"


"Dia ada di Aula," jawab laki laki itu setelah sadar siapa yang ia tabrak.


"Oh, lain kali, perhatikan langkah mu. Dan silahkan mengambil air wudhu lagi! Assalamu'alaikum!" ucap Maira sedikit berdecak dan kembali berlari menuju aula.


Sementara itu, laki laki yang baru tersadar bahwa wudhu nya sudah di batalkan oleh gadis pemilik Pondok, hanya mampu menghela napas nya pasrah.


...🍁🍁🍁...


Setiba nya di Aula, Maira bisa melihat bahwa kakak nya masih mengisi tausyiah untuk para bapak bapak, sekitar Pondok.


Memang, setiap satu minggu sekali, setelah ba'da ashar, pasti akan ada perkumpulan dari para tetangga sekitar. Jika biasanya Abi Mike lah yang akan mengisi nya, namun kini di karenakan Abi tidak ada, jadilah Yusuf yang menggantikan sang ayah.


Cukup lama Maira berdiri di luar sambil menunggu acara itu selesai. Hingga setelah beberapa saat, beberapa orang sudah membubarkan diri.

__ADS_1


Dengan cepat, Miara segera masuk begitu saja tanpa memperdulikan beberapa orang yang masih tersisa di dalam Aula tersebut.


"Assalamu'alaikum," ucap Maira segera menghampiri sang kakak.


"Waalaikumsalam, Maira kan? Kapan pulang nya?" tanya salah seorang bapak bapak yang baru saja hendak pulang.


"Sudah dua mingguan Pak," jawab Maira sedikit kikuk.


Meskipun ia menutup wajah nya dengan cadar, namun tetap saja masih ada yang mengenali nya. Mungkin dari cara berjalan dan suara nya yang tidak lembut sudah menjadi ciri khas nya.


"Anak Bapak juga sudah pulang loh dari Jakarta. Mungkin, kalau nak Maira tidak keberatan, saya dan anak saya boleh mampir ke rumah," ucap bapak tersebut yang langsung di tangkap oleh Maira begitu juga dengan Yusuf.


"Hehehe, maaf Pak. Saya masih kuliah, lagipula kakak juga belum, masa mau saya lompati, ya gak mungkin kan," balas Maira tersenyum di balik cadar nya.


Meskipun Maira bercadar jika berada di luar, namun tetap saja gaya bar bar dan ceplas ceplos nya sangat sulit untuk di hindarkan.


Gadis yang satu itu memang tidak pernah bisa bersikap lembut seperti adik nya.


"Anak saya tampan loh, sudah mapan pula," ujar bapak bapak itu tanpa patah semangat.


"Kakak dan Abi saya juga tampan Pak, lebih mapan juga. Maaf ya Pak, saya ada perlu dengan kak Yusuf, kami permisi dulu ya, assalamu'alaikum," ucap Maira dengan cepat menggandeng tangan Yusuf untuk keluar Aula hingga membuat laki laki itu tanpa sadar menahan senyuman nya.

__ADS_1


Ini bukan kali pertama, adik nya mendapatkan penawaran seperti itu. Di tahun tahun sebelum nya, Maira juga sudah banyak yang mengajak ta'aruf bahkan langsung datang melamar, namun selalu di tolak mentah mentah.


...~To be continue... ...


__ADS_2