
...~Happy Reading~...
Usai berganti pakaian, Eleena dan Maira segera kembali turun ke lantai bawah untuk menemui para keluarga nya.
Eleena menjelaskan semua akar permasalahan dan mengapa Rena bisa memiliki dendam tersumat kepada dirinya dan keluarga nya.
"Jadi, sekarang Aulia berada di rumah sakit? Sedangkan kakak dan ayah nya berada di kantor polisi?" gumam umma Chila begitu lirih.
Tak bisa di pungkiri, bahwa umma Chila sedikit tersentuh mendengar penjelasan dari Eleena. Bukan ia membela perbuatan Rena atau membenarkan perbuatan gadis itu, akan tetapi ia merasa kasihan dengan Aulia yang kini benar benar hidup seorang diri.
"Tunggu, kalau ayah nya di penjara. Lalu yang jemput dia waktu itu siapa?" tanya Maira mengerutkan dahi nya.
"Mereka adalah tante dan om nya Aulia. Mereka juga lah yang mengantarkan Aulia saat pertama masuk kemari," jelas umma Chila dengan lembut.
__ADS_1
"Dia gadis yang baik, selama di Pondok dia sangat rajin bahkan sering membantu Umma untuk merawat bunga di depan. Tapi, sungguh di sayangkan karena sifat iri dia jadi—" umma Chila menghela napas nya dengan berat.
Wanita paruh baya itu menundukkan kepala nya dengan begitu sedih. Menyayangkan sifat Aulia yang begitu baik namun bisa berubah menjadi seratus delapan puluh derajat hanya karena sebuah rasa iri dan dengki.
"Papa, Ele mau pulang!" ucap Eleena dengan tiba tiba menghentikan percakapan umma Chila dan Maira.
"Ele, kenapa harus pulang? Apakah kamu—" Umma Chila langsung menatap ke arah Eleena yang kini tengah menundukkan kepala nya.
"Ele mau pulang Umma. Ele gak mau disini, dan saat Ele tidak ada nanti, Umma bisa menjemput Aulia lagi, karena dia tidak akan jadi jahat bila tidak ada Ele!" jelas gadis itu dengan cepat namun wajah nya ber ekspresi datar.
Apakah ia cemburu? Mungkin iya, takut? juga iya. Namun, Eleena juga tidak bisa membohongi diri, bahwa ia dengan Aulia memang memiliki perbedaan cukup jauh.
Aulia dengan segala kerajinan nya dan kepandaian nya dalam mengaji dan melakukan semuanya berhasil merebut perhatian dan rasa simpatik umma Chila.
__ADS_1
Sedangkan dirinya? Jangankan pandai mengaji dan beribadah, menghafal huruf hijaiyah saja dirinya masih sering tertukar, apalagi membawa Al-Qur'an seperti Aulia.
"El, kamu gak lagi cemburu kan?" celetuk Maira tanpa filter yang membuat mata Eleena seketika langsung membulat dengan sempurna.
"El, kamu tenang aja. Mau sebagus apapun rating Umma kepada Aulia. Bagi kak Yusuf, cuma kamu yang memiliki ratting sempurna. Yang akan menikah itu kak Yusuf, bukan Umma. Jadi, kamu jangan patah semangat jangan galau. Dan jangan menyerah sebelum berperang!" imbuh gadis itu dengan sangat yakin, membuat wajah Eleena semakin terasa panas dan merah menahan malu.
"Terserah apa kata kamu Mai! Aku gak perduli! Pokok nya Ele mau pulang! Kalau Papa gak mau bawa Elee pulang sekarang juga, Ele pastiin Papa gak akan pernah bertemu Ele lagi!" ancam gadis itu dengan begitu tegas lalu ia segera pergi meninggalkan ruang tamu di kediaman abi Mike.
Abi Mike, laki laki paruh baya itu, saat ini sedang berada di ruangan berbeda bersama putra sulung nya. Entah apa yang sedang di bahas oleh Yusuf, hingga membuat kedua nya tidak bisa ikut hadir berkumpul dengan Eleena dan pak Brata di ruang tamu.
"Iks, Umma sih pakai muji Aulia segala! Ngambek kan calon mantu nya!" gumam Maira memanyunkan bibir nya kesal.
"Astaghfirullah, Maira. Berhenti menjodohkan kakak kamu dengan Eleena. Jangan pernah ikut campur urusan mereka, biarkan Allah saja yang mengatur perjodohan antara mereka. Cukup doakan yang terbaik saja," ujar umma Chila sambil menghela napas nya berat.
__ADS_1
"Tapi kan Umma tahu, kalau kata itu adalah doa. Dengan Maira sering berkata seperti itu berarti Maira sedang mendoakan mereka berdua!" balas Maira lagi membuat sang ibu hanya bisa menghela napas pasrah, karena percuma berdebat dengan putri kedua nya yang tidak akan pernah mau mengalah atau mengakui kesalahan nya.
...~To be continue... ...