Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Sepuluh


__ADS_3

Pagi ini Bulan memaksa ingin mengikuti Dirga ke kantor. Dirga tidak melarang dan dengan senang hati membawa keponakannya. Tentu saja Bulan sangat antusias. Bertemu dengan beberapa karyawan Dirga yang ada sebagian sudah Bulan kenal karena gadis itu memang pernah datang ke kantor Dirga sebelumnya.


"Uncle ini sama persis seperti Daddy. Pekerja keras. Meski usia tak lagi muda, semangat bekerja masih juga luar biasa."


Dirga terkekeh mendengar penuturan keponakannya. "Namanya juga saudara. Sudah pasti kita memiliki ambisi yang sama. Tapi sebenarnya Uncle ingin lekas pensiun. Tunggu Je mampu Uncle andalkan. Barulah Uncle ingin menikmati masa tua dengan suka cita."


"Aku pun sudah meminta pada Daddy untuk pensiun saja. Tapi begitu lah. Daddy tak akan bisa hidup tanpa bekerja."


"Bekerja itu bagi para orangtua salah satu hiburan, Bulan. Ketika jenuh di rumah ... maka dengan pergi ke kantor dan bertemu banyak orang maka semangat kembali bangkit."


"Begitu ya, Uncle."


"Iya."


"Pantas saja Daddy itu hampir setiap hari masih juga pergi ke hotel meski pun hanya beberapa jam saja."


Mendengar soalan hotel, Dirga teringat akan pembahasannya bersama Langit semalam. Dirga jadi yakin sekali jika Bulan tidak pernah tahu bahwa pemilik lahan yang sedang diincar Bulan adalah Langit Biru.


"Bulan."


"Kenapa Uncle."


"Sejak kapan kamu mengenal Cahaya, putrinya Pak Elang."


Entahlah. Mengingat nama Elang, Bulan tidak suka. Semenjak pertemuan pertamanya dengan pria yang ternyata adalah papanya Cahaya, sudah menunjukkan kesan yang kurang menyenangkan. Sombong dan sok kegantengan. Padahal Cahaya sangat supel dan periang. Tidak seperti papanya yang sok cool begitu. Bulan jadi penasaran ingin bertemu dengan mamanya Cahaya. Pastilah sifat Cahaya menurun dari mamanya.


"Baru dua hari lalu, Uncle. Tidak sengaja berkenalan saat aku sedang makan."


"Oh. Kukira karena kamu pernah mengenal Pak Elang."

__ADS_1


Kening Bulan mengernyit dengan pandangan fokus pada sang paman. "Maksud, Uncle? Eum ... sebenarnya sebelum kemarin, aku sudah pernah bertemu dengan tamunya Uncle itu."


"Oh ya?"


Kepala Bulan mengangguk. "Iya. Ketika di bandara perjalanan ke Surabaya. Orang yang sombong dan entah bagaimana caranya Cahaya bisa memiliki papa yang seperti itu."


"Uncle tidak paham maksudmu, Bulan."


Meluncurlah cerita yang menggebu-gebu penuh kekesalan dari mulut Bulan di saat mengingat bagaimana Langit yang menabraknya di Bandara dan tanpa meminta maaf justru berlalu pergi meninggalkannya begitu saja.


Dirga mendengarkan semua dengan pemikiran mulai berkelana ke mana-mana. Dan fix, Bulan memang tidak mengetahui sama sekali jika Langit lah seseorang yang ingin keponakannya itu temui terkait penawaran lahan yang sedang diincar. Bagaimana andai kata Bulan tahu bahwa Langit, papanya Cahaya adalah orang itu?


"Bulan. Apakah kamu tidak mengetahui sesuatu?"


"Apa itu, Uncle?"


"Pak Elang ... beliau adalah ...." Dirga menjeda kalimatnya membuat Bulan penasaran dan menanti kelanjutan cerita pamannya. "Jadi, baru kemarin juga Uncle tahu jika Pak Elang itu adalah pemilik lahan yang sedang kamu incar itu."


"Uncle jangan bercanda. Pemilik lahan itu namanya Langit Biru. Bukan Elang."


Sekarang justru Dirga yang tertawa. "Elang itu nama panggilannya saja, Bulan. Nama lengkapnya adalah Langit Biru. Dan semalam Pak Elang sendiri yang bercerita pada Uncle bahwa kamu ada beberapa kali mengirimkan proposal penawaran lahan miliknya."


Glek


Bulan tak tahu harus berkata apa. Tidak menyangka jika lelaki yang beberapa kali ditemui secara tidak sengaja adalah pria yang dia incar demi bisa mendapatkan lahan yang ingin dia miliki selama ini.


••••


Dugaan Langit sangat tepat. Wanita itu muncul juga di lobi hotel ketika sore ini dia pulang dari proyek dan kembali ke tempat di mana dia menginap. Tak paham karena Vivian sangat tahu di mana bisa menemukannya dengan mudah. Langit rasa, Vivian ini memang memiliki mata-mata yang akan mengawasi gerak geriknya.

__ADS_1


Bagi Langit, dia tidak peduli dengan apa yang Vivian lakukan. Namun, jika itu semua sudah membahayakan Cahaya, maka Langit tak akan tinggal diam.


"Mas!" Panggilan yang Vivian tujukan pada Langit. Wanita itu beranjak berdiri dan menghampiri Langit yang dengan terpaksa menghentikan langkah karena mana mungkin Langit akan berpura-pura tidak tahu akan keberadaan wanita itu.


"Ngapain kamu ada di sini?" Pertanyaan sinis dari Langit diabaikannya begitu saja oleh Vivian.


"Cahaya mana?"


"Kamu datang jauh-jauh ke sini hanya untuk menemui Cahaya? Mengherankan sekali. Jika tidak ada mau, mana mungkin kamu repot-repot mendatangiku."


Vivian tertawa. Di dalam otak wanita itu sudah tersusun banyak rencana terkait berita yang dengan tidak sengaja pernah dia dengar.


"Cahaya anakku. Suka-suka akulah ingin menemuinya kapan pun juga."


"Aku lelah dan tidak ingin berdebat denganmu."


Langit sudah akan berlalu, tapi cekalan tangan Vivian pada lengannya, membuat kepala Langit menoleh pada Vivian.


"Jangan menghindariku dan jangan berpura-pura tidak tahu jika ada investor yang sedang menawar lahan milikmu."


Langit menggeram. Dari mana Vivian bisa tahu semuanya. "Itu bukan urusanmu, Vivian!"


"Jelas itu urusanku karena aku masih ada hak atas penjualan semua aset yang kau miliki."


"Kita sudah bercerai dan kamu tak ada hak lagi atas semua yang aku miliki."


"Tidak bisa, Mas. Perceraian itu tidak adil bagiku. Kamu menolak memberikan separuh bagian harta gono gini kita. Dan dari perjanjian yang sudah kita sepakati, bahwa apa pun aset yang berhasil terjual olehmu, maka kita akan bagi dua."


"Mana ada seperti itu. Semua aset itu Cahaya pemiliknya. Apa kamu lupa!" geram Langit sedikit berbisik karena tidak ingin menimbulkan keributan di hotel ini. Bahkan ada banyak pengunjung di sini dan Langit tidak ingin menarik perhatian mereka.

__ADS_1


Ya, Langit memang tidak akan pernah memberikan lagi apapun untuk Vivian. Sudah cukup Vivian menghabiskan bagian milik Cahaya. Dan sekarang, beberapa aset hasil jerih payahnya selama menikah dengan Vivian tak akan lagi dia berikan pada wanita itu karena sejatinya semua adalah hasil kerja kerasnya sendiri tanpa Vivian. Dulu ketika bercerai, Vivian memang meminta separuh dari harta mereka dan sudah barang tentu ditolak mentah-mentah oleh Langit. Dan dari sana pula muncul sebuah perjanjian paksa yang Vivian lakukan. Adapun isi perjanjian yamg mengatakan bahwa seluruh hasil penjualan aset yang Langit punya, maka Vivian memiliki bagian di dalamnya.


Dan itu pula yang menjadi alasan kenapa Langit tidak akan mau menjual lahan yang Bulan tawar. Karena lahan itu Langit beli ketika masih memiliki status suami istri dengan sang mantan istri.


__ADS_2