
Wajahnya sayu, langkahnya lesu, tidak bersemangat sama sekali ketika malam ini Langit memasuki rumah setelah menghabiskan waktu satu hari untuk bekerja. Dua kancing teratas kemejanya bahkan sudah terbuka menampakkan bulu halus yang menghiasi dada bidang lelaki itu.
Langit sangat lelah. Jas yang tersampir di lengan kanan dia lempar begitu saja ketika memasuki ruang keluarga. Dan jatuh tepat di atas sofa. Banyak pekerjaan yang menjadi bebannya. Belum lagi soalan Cahaya yang membuatnya pusing kepala. Hingga detik ini gadis kecilnya masih bungkam dan tak mau berbicara dengannya. Langit sudah kehilangan akal menghadapi sang putri tercinta. Bagaimana caranya pun dia sudah tidak tahu. Jupiter tak berhasil merayu Cahaya karena yang dimau gadis kecilnya itu hanya satu. Mama baru.
Langit ikut menjatuhkan diri di atas sofa, samping jas yang tergeletak begitu saja. Kepala Langit menengadah sembari memejamkan mata. Leher yang bertumpu pada sandaran sofa, terasa nyaman karena otot leher yang kaku setidaknya bisa sedikit meregang. Satu tangan Langit digunakan untuk memijit pelipis. Denyutan yang sejak tadi dirasa sudah lumayan berkurang.
"Mas Elang, baru pulang?"
Sapaan dari asisten rumah tangga yang masuk ke dalam ruang keluarga, menyentak perhatikan Langit. Membuka matanya dengan sedikit menoleh pada seorang wanita yang berusia kepala lima, Langit hanya menjawab singkat. "Iya."
"Mas Elang mau makan malam?"
"Aku sedang malas makan, Bik."
Bik Siti, wanita yang sudah bekerja dengannya semenjak menikah dengan Vivian dan dia memboyong mantan istrinya itu ke rumah ini. Jadi, bisa dikatakan jika Bik Siti sudah tahu betul bagaimana Langit. Tentang rumah tangga dan juga Cahaya. Selain Bik Siti masih ada satu orang lagi asisten di rumah ini yang tugasnya lebih banyak mengurus Cahaya. Namanya Mbak Lani. Dia adalah anak dari Bik Siti yang juga bekerja di rumah ini. Usia Mbak Lani sendiri sekitar dua puluh delapan tahun. Wanita yang sudah menikah tapi belum memiliki anak. Suami Mbak Lani bekerja sebagai sopir pribadi Langit dan Cahaya.
Kembali pada Langit yang kini kembali menegakkan punggungnya. "Bik ... apa Cahaya sudah makan malam?"
"Non Aya sedang demam, Mas."
__ADS_1
"Apa? Kenapa Mbak Lani tidak memberitahuku jika Aya demam. Memangnya sejak kapan Aya demam?"
"Sejak tadi pulang sekolah dan diantar pulang oleh Mas Jupiter. Non Aya sudah merasa tidak enak badan. Tapi Non Aya berpesan agar tidak memberitahu Mas Elang."
Langit tentu saja panik. Jupiter juga tidak mengatakan hal apapun ketika tadi dia menelepon untuk menanyakan tentang Cahaya. Bagaimana mungkin putrinya sakit tapi dia tidak tahu apa-apa.
Gegas beranjak dari duduknya karena Langit berniat untuk pergi ke dalam kamar melihat kondisi Cahaya di dalam sana. Tangan yang terulur hendak mengambil jas tertahan ketika Bik Siti berucap, "Biarkan saja Mas. Nanti saya bereskan."
Langit mengangguk. Membiarkan jas miliknya dipungut oleh pembantunya. Dengan langkah lebar, Langit segera menuju kamar putrinya. Mengetahui jika putrinya sakit adalah hal yang sangat ditakuti oleh pria itu karena baginya, sakitnya Cahaya akan menambah rasa bersalah dalam dirinya karena tidak becus merawat sang putri tercinta.
••••
Sosok pemuda tampan itu bernama Jupiter. Iya, pria itu memang sedang menyendiri di teras rumah tanpa ada yang menemani. Pandangan lurus ke depan pada pekatnya malam. Sangat cocok dengan situasi juga kondisi hati seorang Jupiter. Bahkan ponsel yang baru saja dia gunakan untuk menghubungi Bulan masih tergeletak di atas meja kecil berbentuk budar yang ada di hadapannya.
Embusan napas kasar keluar dari sela bibir Jupiter. Kegalauan yang membuat Jupiter seperti ini. Dia baru saja menghubungi Bulan bukan untuk menanyakan perihal Cahaya juga semua ucapan-ucapan sang keponakan yang mengatakan bahwa gadis incarannya itu juga sedang diinginkan oleh keponakannya untuk dijadikan mama sambung.
Sayangnya Jupiter tidak memiliki keberanian untuk menanyakan hal ini pada Bulan. Bukan tanpa sebab jika Jupiter enggan bertanya. Namun, karena Jupiter tidak siap andaikan benar jika apa yang Cahaya katakan. Oh, tidak. Haruskah dia mengalah pada Cahaya? Di dalam hati Jupiter berkata jika Bulan tidak mungkin mau menikah dengan Langit. Setidaknya dia memiliki satu keunggulan jika dibandingkan dengan Langit. Dia masih single dan belum pernah menikah. Dari segi usia juga tidak jauh selisihnya dengan Bulan. Sementara Langit, selain duda yang sudah memiliki anak, usia Langit dan Bulan sudah pasti selisihnya lumayan. Tak kan lah Bulan mau menikah dengan Langit?
Di saat kebimbangan serta kegalauan itulah, Jupiter dikejutkan dengan suara deheman yang dibarengi dengan seseorang yang kini tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Paman ... membuatku kaget saja," gerutu Jupiter dengan kepala memutar ke samping memperhatikan siapa gerangan yang sudah bergabung bersamanya di tempat ini.
Lelaki berusia kepala tujuh itu terkekeh. Rambutnya yang sudah beruban tampak mengkilap diterpa sinar lampu teras. Beliau adalah Surya Alam. Ayah kandung Langit Biru yang juga paman dari Jupiter. Lelaki itupula yang sudah membesarkan Jupiter hingga menjadi orang sukses seperti sekarang. Menyekolahkan serta mengajari Jupiter menjadi seorang pengusaha layaknya dulu ketika Surya mengajari putranya dalam dunia bisnis. Sayangnya, Jupiter yang tahu diri untuk tidak ngelunjak akan semua kebaikan Surya, memilih menolak mandat untuk menjadi pemimpin perusahaan milik Surya Alam. Ya, Surya Alam adalah pengusaha besar yang membawahi Antariksa Corporation, perusahaan berskala internasional yang bergerak di berbagai bidang selain properti. Di antaranya eksport import dan migas.
Jupiter lebih nyaman bekerja bersama Langit di Mars Property. Karena dengan begitu, tanggung jawab yang ada di pundaknya tidak sebesar jika dia menerima tawaran menjadi seorang pemimpin.
"Kenapa kamu menyendiri di sini?" tanya lelaki itu sembari melirik Jupiter.
Pemuda itu tersenyum masam. Mengingat pembicaraan yang dia lakukan bersama Bulan. Sebab Bulan belum berani memberikan keputusan terkait ungkapan cinta yang mendadak dia berikan. Wajar sebenarnya jika Bulan meminta waktu menjawab semua rasa yang Jupiter miliki pada wanita itu. Sayangnya, karena otak Jupiter sendiri sudah keruh mengingat Cahaya, maka pemuda itu pun tak mampu berpikir jernih. Ketakutan jika Bulan menolaknya padahal di kesempatan sebelumnya, Bulan seolah memberikan harapan padanya. Jupiter takut kecewa. Sungguh.
"Aku sedang galau, Paman."
"Kenapa? Ditolak lagi sama wanita?"
"Belum. Tapi aku takut jika dia menolakku."
"Jika kamu yakin dengannya ... kenapa masih takut ditolak?"
Ingin rasanya Jupiter menjawab pertanyaan Surya, 'Karena saingannya adalah Cahaya.'
__ADS_1
Namun, Jupiter tak mungkin mengatakannya.