
Bulan usai makan malam bersama keluarganya. Puas bermanja-manja bersama Mommy Alisha, wanita itu beranjak masuk ke dalam kamar. Ponsel di atas nakas yang langsung dia tuju untuk kali pertama. Karena jujur, Bulan hampir tidak pernah bisa hidup tanpa adanya benda kesayangan yang bernama ponsel. Dengan ponsel, Bulan bisa melakukan apa pun juga. Hanya jika sedang makan atau berkumpul bareng keluarganya saja, Bulan harus rela melepas benda kesayangannya itu. Karena sang Mommy yang mendoktrin untuk tidak boleh membawa ponsel ketika sedang makan. Baiklah, Bulan menurut akan peraturan yang Mommy terapkan dalam rumah. Lagipula, selain makan Bulan masih bisa mendekap ponsel tersebut sekalipun sedang berada di dalam toilet. Kebiasaan buruk yang susah dilepas dari diri wanita itu hingga beranjak dewasa di usia dua puluh enam tahun.
Begitu ponsel menyala, kening Bulan mengernyit keheranan. Ada sebuah notifikasi dari sebuah nomor yang tidak asing baginya. Bahkan hari ini pun dia masih berhubungan dengan sosok gadis manis bernama Cahaya Senja.
"Aya telepon. Ada apa?" tanya Bulan lebih pada dirinya sendiri.
Gadis itu menjatuhkan diri duduk di pinggiran ranjang. Rasa penasaran karena panggilan tak terjawab yang dilakukan oleh Cahaya, menuntun jari jemari Bulan untuk melakukan panggilan balik pada gadis kecil itu. Ponsel sudah menempel di telinga. Menunggu sang empunya menjawab panggilan teleponnya.
Namun, begitu panggilan tersebut dijawab pada dering kelima, tubuh Bulan menegang. Suara itu bukan milik Cahaya karena terdengar berat khas suara seorang pria. Benarkah itu suara papanya Cahaya?
Bulan bungkam dengan menelan saliva. Tiba-tiba saja dia dilanda kegugupan.
"Halo!"
Masih terdengar oleh Bulan dan dia yakin jika Langit yang tengah menerima panggilan itu.
"Nona Bulan."
Lagi-lagi Bulan mendengar Langit berucap menyebut namanya. Ah, bagaimana Langit tahu jika dialah yang sedang menelpon Cahaya. Bodohnya Bulan yang bukan menutup panggilan itu jika dia merasa aneh dan tidak enak hati, akan tetapi Bulan masih mempertahankan ponsel ditelinga tapi suaranya yang susah dia keluarkan seolah tercekat di tenggorokan.
"Nona Bulan. Kenapa Anda diam saja."
Glek
Bulan membuka mulutnya. Menjawab dengan takut-takut. Suara Elang yang berat terdengar mengintimidasi, persis seperti aura wajah pria itu. Yang tak bisa Bulan lawan.
"Eum ... Maaf. Tadi ... itu tadi ada panggilan tak terjawab dari nomor Cahaya. Jadi saya telepon balik saja."
Ucapan Bulan yang terbata dan begitu selesai lega sudah Bulan merasa.
"Oh, itu tadi saya yang menelepon Anda."
Mata Bulan terbelalak seketika. Jadi, bukan Cahaya yang menelepon.
"Anda yang menelepon saya dengan mengunakan ponsel Cahaya?"
"Iya."
"Ada apa?"
"Maaf jika mengganggu waktunya mala-malam. Cahaya sedang sakit."
"Sakit?"
__ADS_1
"Iya. Dan dia terus mengigau menyebut nama Anda. saya pikir dengan menelpon Anda, saya jadi tahu dengan apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa Cahaya terus saja mengigau."
Glek.
Bulan tak habis pikir Cahaya sakit dan menyebut namanya.
"Mana saya tahu jika Cahaya mengigau nama saya Pak Langit."
"Nona Bulan ... Eum maksud saya bukan seperti itu. Saya hanya ingin meminta bantuan Anda agar menemui Cahaya."
"Mana bisa begitu. Saya sedang tidak ada di Jakarta. Karena saya sudah kembali ke rumah. Bagaimana mungkin saya bisa menemui Cahaya."
"Okay ... okay jika seperti itu ... bagaimana jika Anda berbicara saja dengan putri saya. Sebentar saya bangunkan Cahaya."
Bahkan Langit tak menunggu Bulan berucap ketika dengan tergesa sudah duduk di samping Cahaya. Menggoyang pelan lengan putrinya agar bangun dan membuka mata.
"Aya! Bangunlah sayang. Ini ada Kak Bulan meneleponmu," ucap Langit yang terdengar oleh Bulan.
Mata Cahaya perlahan terbuka. Senyum Langit merekah. Siapa yang tidak bahagia jika pada akhirnya sang putri mau bangun juga.
"Aya, ayo bangun sayang. Ini ada Kak Bulan."
"Kak Bulan mana papa?"
Suara itu terdengar sangat lemah. Bulan trenyuh mendengarnya.
"Aya! Kamu sakit?"
"Iya, Kak."
"Cepat sembuh, Aya. Minum obatnya."
"Aya rindu Kak Bulan."
"Iya, kapan-kapan kita ketemuan lagi, ya?"
"Kak Bulan janji?"
"Iya. Nanti jika Kak Bulan sudah tidak sibuk lagi ... kakak akan datang ke Jakarta. Atau jika Aya sudah sehat nanti ... Aya bisa datang dan main ke Bali. Bagaimana?"
"Iya."
"Sekarang Aya harus banyak istirahat. Dan cepat sembuh."
__ADS_1
"Iya, Kak."
Cahaya menyodorkan kembali ponsel pada papanya. Sebelum menutup teleponnya, Langit sempatkan untuk mengucap terima kasih pada Bulan.
"Nona Bulan. Terima kasih karena sudah mau berbicara dengan Cahaya."
"Sama-sama Pak Langit."
Telepon diputus oleh Langit. Bulan masih memperhatikan ponsel di tangannya. Entah kenapa dia merasa kasihan pada Cahaya. Apalagi gadis itu harus merasakan sakit tanpa dampingan seorang mama. Kasihan sekali. Sebenarnya, Bulan mendapatkan banyak cerita seputar Cahaya dari Jupiter. Pemuda itulah yang mengatakan perihal perilaku mantan istri Langit yang juga mamanya Cahaya sampai bagaimana cerita perceraian Langit dengan mamanya Cahaya.
Pantas saja Langit harus berbohong mengatakan jika dia adalah calon mamanya Cahaya hanya demi ingin menghindari sang mantan istri.
Ya, Tuhan. Kehidupan berat yang harus dijalani oleh Cahaya. Gadis sekecil itu harus kehilangan kasih sayang mamanya. Sangat berbanding terbalik dengannya yang dilimpahi kasih sayang semua anggota keluarga. Ada Daddy yang selalu memanjakannya. Mommy yang juga sangat mencintainya. Dan jangan lupakan kakak lelaki yang selalu melindungi.
Bulan patut bersyukur akan apa yang sudah dia dapatkan hingga saat ini.
Sementara itu, Cahaya, gadis itu dengan wajah berbinar berbicara pada papanya. "Papa ... jika aku sembuh nanti, kita mengunjungi Kak Bulan, ya? Aku sangat merindukannya, Papa!"
"Iya, Aya. Kita akan menemui Kak Bulan jika Aya sembuh nanti." Biarlah Langit harus mengatakan itu meski dia tidak yakin apakah bisa mewujudkan keinginan putrinya.
"Papa harus janji padaku."
"Iya. Sekarang Aya harus makan lalu minum obatnya agar cepat sembuh."
Kepala Cahaya mengangguk. Langit beranjak berdiri lalu membuka pintu kamar. Mencari keberadaan Mbak Lani yang tadi mengatakan akan mengambil makanan.
"Mbak Lani!"
Tergopoh-gopoh Mbak Lani muncul dengan nampan di tangan. "Iya, Mas Elang."
"Tolong bantu Cahaya makan lalu minum obatnya."
"Baik, Mas Elang."
Mbak Lani masuk ke dalam kamar. Langit masih berdiri di sana memperhatikan Cahaya yang menerima suapan dari pembantunya.
"Papa ...."
"Iya."
"Terima kasih karena papa sudah menelepon Kak Bulan tadi. Aku sangat bahagia sekali."
Langit menghela napas. Tidak tahu kenapa Cahaya bisa sebegitu sayangnya dengan sosok yang bernama Bulan Purnama. Entah apa yang sudah Bulan lakukan pada putrinya sampai keduanya memiliki kecocokan begitu. Mau heran ... tapi ini Cahaya, putrinya, yang jarang bisa akrab dengan orang lain yang baru dikenalnya.
__ADS_1