Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Lima Puluh


__ADS_3

Malas berbicara panjang lebar dengan Langit. Malas juga berdebat. Bulan memutuskan untuk meninggalkan tempat saja. Lagipula Bulan juga merasa canggung sendiri hanya berduaan bersama lelaki ini. Wanita itu memutar tubuh, berlalu menuju tangga. Namun, cekalan di lengannya menghentikan langkah Bulan. Kepalanya menunduk menatap pada tangan besar milik Langit melingkari pergelangan tangannya.


"Mau ke mana?"


"Pulang. Tolong lepaskan tangan Anda."


Bukannya menurut pada apa yang Bulan inginkan, Langit justru menarik lengan dalam genggaman menuju tangga tanpa berniat melepaskannya.


Antara terkejut juga panik Bulan berkata, "Eh ... Anda mau bawa saya ke mana?"


Tanpa menatap pada wanitanya Langit menjawab, "Kita dinner berdua."


"Apa!"


Langit tak menggubris sedikit pun penolakan Bulan. Tarikan tangan Bulan juga tak berhasil melepas cekalan tangan Langit. Tak ada yang bisa Bulan lakukan kecuali mengikuti langkah lebar Langit Biru. Dengan terseok Bulan mengimbangi langkah Langit yang lebar-lebar. Tubuh besar, kaki panjang tak sepadan dengan Bulan yang tampak kerdil jika bersanding dengan lelaki itu.


Bulan pikir mereka akan makan malam di resto hotel saja. Nyatanya tidak demikian karena Langit masih menarik lengannya menuju pintu keluar. Berpura-pura agar orang lain tak melihat sesuatu yang berbeda pada mereka berdua, dengan terpaksa Bulan bersandiwara dengan memberi ulasan senyum pada siapa saja yang menyapa. Terutama para karyawan yang selalu menunduk hormat acapkali dia lewat. Oh, Tuhan. Rasanya Bulan tak lagi memiliki muka di depan mereka semua. Malu terlalu kentara mengumbar kemesraan dengan bergandengan tangan sepanjang jalan sampai di luar hotel dan Langit memasukkannya ke dalam mobil. Bulan tidak tahu mobil siapa yang Langit bawa ini. Entah mobil sewa atau mobil siapa. Bulan tak peduli. Pun ketika Langit sudah menjalankan mobil tersebut meninggalkan hotel, Bulan masih diam dan tutup mulut tak mau bertanya apapun juga. Membiarkan Langit membawanya ke mana pun asalkan dia tak diapa-apakan oleh pria itu.


"Apa jalanan lebih indah daripada melihatku?"


Bulan tahu jika pertanyaan itu Langit tujukan untuknya. Bermaksud menyindir mungkin.


"Ya. Tentu saja. Lihatlah betapa indahnya malam ini," jawab Bulan asal.


Bukannya marah, Langit justru terkekeh. "Saya tahu. Malam ini memang indah karena diterangi oleh Bulan Purnama."

__ADS_1


Refleks Bulan menoleh ke samping, bertepatan dengan Langit yang juga sedang menatapnya. Pria itu bahkan melemparkan senyuman untuk Bulan. Bulan gelagapan. Gugup dan kesal bercampur jadi satu. Buru-buru membuang kembali pandangan ke depan pada jalanan yang dirasa Bulan memang lebih menarik ketimbang menatap wajah Langit yang menyebalkan itu.


Resto yang memang terkenal mewah dan megah hanya golongan kalangan menengah ke atas yang sanggup mengunjungi. Bulan merasa tidak percaya diri masuk ke dalamnya karena kostum yang dia kenakan masih lah baju kerja. Bukan kostum formal untuk menghadiri acara dinner spesial. Melirik Langit yang kini menghentikan mobilnya. Jika Bulan lihat penampilan Langit lebih segar daripada dia karena sudah barang tentu pria itu sudah mandi. Sementara Bulan ... jangankan mandi. Pulang ke rumah saja belum sempat.


Makin dibuat panik dan gugup ketika tanpa kata Langit turun dari dalam mobil. Mengitari mobil bagian depan lalu membukakan pintu mobil untuk Bulan.


"Turunlah."


Tak langsung turun begitu saja, tapi netra Bulan masih memandangi resto megah dengan lampu warna warni di depan sana.


"Kita pulang saja."


"Kenapa? Bukankah aku katakan tadi ... kita dinner dulu baru aku akan mengantarmu pulang."


Pertanyaan Bulan membuat kening Langit mengernyit. "Memangnya kenapa jika kita dinner di sini. Setahuku ... resto ini sangat cocok untuk melakukan dinner romantis bagi pasangan kekasih."


"Itulah. Karena kita bukan pasangan kekasih. Jadi tidak cocok jika dinner di tempat ini. Lebih baik makan malam biasa di tempat yang biasa saja. Saya tidak nyaman berada di sini?"


"Tidak nyaman? Apanya yang membuat tidak nyaman? Di resto ini suasananya tidak seberapa ramai, makanannya pun enak. Jadi ... menurutku tak ada yang salah jika kita dinner di sini."


Bulan akui jika apa yang Langit katakan benar. Tempatnya memang nyaman. Standard tinggi untuk ukuran sebuah restoran. Menu makanannya pun tidak diragukan lagi dari segi rasa dan juga kualitas. Tapi masalahnya, dia yang tidak nyaman karena tak ada persiapan sebelumnya.


"Ayolah Nona. Turunlah. Keburu malam nanti."


Baiklah. Kali ini Bulan mengalah. Menyimpan rasa malunya. Biar saja. Toh, salah Langit sendiri yang membawanya ke sini tanpa ada rencana atau pembicaraan sebelumnya. Bahkan Bulan sempat mengira jika Langit dan keluarganya sudah kembali ke Ibukota. Itu sebab seharian ini Bulan tak menjumpai keberadaan mereka di hotel. Namun, sayang sekali. Dugaannya salah karena dengan tiba-tiba saja pria itu sudah menampakkan diri di hadapannya.

__ADS_1


Turun dari dalam mobil dengan tangan Langit sudah terulur kepadanya. Mana mungkin Bulan mau menggapai tangan itu. Sangat mustahil. Tapi Langit tidak hilang akal. Meraih tangan Bulan dan menggenggamnya paksa.


Membawa wanita itu masuk ke dalam resto yang langsung disambut oleh pelayan. Membawa keduanya pada kursi yang masih kosong. Dengan gentle Langit menarik kursi dan mempersilahkan Bulan untuk duduk. Tampak romantis untuk pasangan kekasih. Sayanganya Bulan tak ada perasaan apapun untuk Langit Biru saat ini.


Tak ada obrolan meski keduanya saling duduk berhadapan. Menunggu pelayan menghidangkan makanan yang sudah Langit pesan. Canggung karena tak ada yang memulai obrolan. Sebenarnya, Langit tak ada rencana pun membawa Bulan untuk pergi makan malam. Semua tanpa rencana dan terjadi begitu saja ketika tadi pria itu tak sengaja melihat keberadaan Bulan yang menyendiri di rooftop.


Tidak enak rasanya jika mereka saling diam. Bulan jengah sendiri Lama-lama karena makanan pun tak kunjung tiba. Hanya minuman yang bahkan sudah dia teguk beberapa kali.


Mencoba mendongak, sialnya Langit justru sedang memperhatikannya dalam diam membuat Bulan makin salah tingkah saja. Wanita itu berdehem mencoba mencari bahan pembicaraan agar tidak terus dalam kecanggungan seperti ini.


"Eum ... kenapa tadi Anda tidak mengajak Cahaya?"


"Karena aku ingin kita hanya dinner berdua."


Sial! Langit selalu saja membungkam mulutnya.


"Lalu ... ke mana Aya? Saya pikir Anda sudah kembali pulang karena satu hari ini saya tak melihat Cahaya."


"Aya sedang pergi berlibur dengan kakek dan neneknya."


Langit menyebutkan salah satu nama tempat wisata, lebih tepatnya sebuah resort yang Bulan sudah mengetahui di mana lokasinya.


Tak lagi ada yang ingin Bulan tanyakan sampai pelayanan datang membawakan makanan untuk mereka.


Ingin rasanya Bulan membahas tentang rencana pernikahan mereka. Sayanganya mulut Bulan terkunci rapat susah untuk membukanya. Apa iya dia menyerah dan menerima begitu saja akan rencana pernikahannya satu bulan dari sekarang.

__ADS_1


__ADS_2